Sepulang dari sekolah, Yuki kembali merasa perutnya sangat sakit. Dia
merintih kesakitan.
“Yuki... kau sudah pulang?” tanya ibu dari dapur.
“Sudah bu...” jawab Yuki pelan, sambil terus memegangi perutnya.
“Kamu kenapa, Ki?” tanya ibu, khawatir.
“Tadi saat pertandingan, perutku tertendang dengan keras. Sakit sekali,
bu...” jawab Yuki.
“Biar ibu obati, ya!” kata ibu segera mengambil kotak P3K di dalam kamar.
Lalu segera keluar dari kamar dan mengobati perut Yuki.
“Sebaiknya, kamu jangan latihan terlalu berat, nak. Nanti terjadi gesekan
lagi yang membuat luka di perutmu semakin parah. Perutmu hanya memerah saja,
kok!” jelas ibu.
“Tidak bisa, bu... Minggu depan sudah grand final... dengan 3 kategori supaya bisa lolos menjadi runner up atau pun pemenang...” tolak
Yuki.
“Hanya 3 hari saja kok istirahatnya, nak...” jawab ibu.
“Tidak bisa, bu! Pokoknya tidak bisa!” jawab Yuki, ngotot. “Yuki harus
latihan memecahkan kayu, bata, dan sejenisnya.”
“Oke, oke, baiklaah... coba jelaskan pada ibu ketiga kategori tersebut.”
Ujar ibu.
“Pertama, memperagakan jurus yang dipelajari tanpa alat. Kedua,
memperagakan jurus dengan alat. Dan terakhir memecahkan kayu dan bata dengan
tendangan. Setelah itu, nanti dua nilai tertinggi akan diadakan duel.” Terang
Yuki.
“Ooh... bukankah kau sudah menguasai semuanya, sayang?” tanya ibu.
“Aku belum terlalu bisa memecahkan kayu dan bata... ketika pak Yuda
mengajariku tenaga dalam, aku belum sepenuhnya menguasainya. Aku hanya bisa
memecahkan pecahan atap rumah dan triplek, itu pun belum terlalu bisa. Aku
belum berlatih memecahkan kayu dan bata.” Terang Yuki.
“Hmm... baiklaah... terserah kamu saja... asal jangan berlebihan dan
terlalu memaksakan dirimu ya, nak.” Kata ibu, pada akhirnya. Yuki pun giat
berlatih. Dia tidak mempedulikan sedikit pun rasa sakit di perutnya, tenaga dan
waktunya yang terkuras, belum rasa sakit di kakinya karena salah sasaran atau
tidak berhasil memecahkan kayu dan bata. Dia hanya sesekali memikirkan apa yang
terjadi dengan Reyna sebelum itu. Dia hanya memikirkan satu, yaitu grand final
yang harus dia hadapi.
Sepanjang hari, sepanjang malam, dia tekun berlatih. Hingga tibalah hari
yang ditentukan itu. Gawatnya, Yuki dan kak Sandy terlambat bangun! Yuki buru –
buru mandi, sholat, makan, lalu gosok gigi. Begitu juga dengan kak Sandy Lalu,
mereka segera berangkat. Walau pun memar di perut dan kaki Yuki belum sepenuhnya
sembuh, Yuki tetap bersemangat mengikuti pertandingan.
“Apa kau sudah siap, dek?” tanya kak Sandy. Yuki tersenyum dan mengangguk
dengan semangatnya, “Sangat siap!” jawabnya. Kak Sandy pun mengayuh sepedanya
dengan cepat menuju sekolah Yuki. Untungnya pertandingan belum dimulai.
“Wow! Yang datang banyak sekali... lebih banyak dari biasanya...” kata kak
Sandy, takjub. “Berusahalah semaksimal mungkin, dek. Jangan lengah, tetap fokus
dan konsentrasi. Tetaplah yakin bahwa kau bisa.”
“Iya kak, terimakasih.” Jawab Yuki lalu segera berlari ke arena
pertandingan. Tepat ketika dia datang, aba – aba perlombaan dimulai pun
terdengar.
“Kita sambut, Yuki Sifyantika dari kelas 7.9...” ucap host perempuan.
Lalu, Yuki segera ke arena pertandingan. Dia memberi hormat kepada tiga orang
juri yang hadir saat itu. Lalu, dia mulai memperagakan gerakan pencak silat.
Setelah selesai, dia mengambil tongkatnya dan memperagakan gerakan pencak
silat dengan tongkatnya tersebut. Dan yang terakhir, hal yang membuatnya
sedikit gugup adalah memecahkan kayu dan bata hanya dengan sekali tendangan.
Namun, Yuki mengingat pesan kakaknya ditambah support dan dukungan dari teman –
temannya tanpa support dari Reyna. Maka, dia yakin bahwa dia bisa, maka pasti
dia akan mampu melakukannya. Yuki mengambil nafas dalam – dalam.
Pertama Yuki memecahkan kayu lalu dia memecahkan bata. Semua bertepuk
tangan akan keberhasilan Yuki tersebut kecuali Reyna. Setelah semuanya tampil.
Semua peserta yang tersisa dikumpulkan.
“Setelah didiskusikan dan melalui proses penjurian yang panjang, akhirnya
para juri sudah menentukan, 4 peserta yang berhasil lolos. Para juri
mengatakan, sulit bagi mereka untuk memutuskan karena perbedaan poin sangatlah
tipis.” Ujar host perempuan.
“Dan yang berhasil lolos adalah...” lanjut host laki – laki.
“Yuki Sifyantika dan Reynanda Swardhana dari kelas 7.9.” lanjut host
perempuan. Yuki terbelalak dan tercengang tak percaya. Ketika grand final dia
harus menghadapi sahabatnya sendiri.
“Lalu, Alhamra Hehanussa dari kelas 7.9 dan Agias Ma’sud Fauzi dari kelas
7.7.” tambah host laki – laki.
“Silakan langsung menuju arena pertandingan, karena duel yang akan
menentukan juara lomba atar kelas ini akan segera dimulai!” ujar kedua host
bersamaan.
Yuki dan Reyna segera menuju arena pertandingan. Yuki tampak gugup, tidak
tenang seperti biasanya. Sedangkan Reyna dengan wajah tidak memikirkan apa –
apa. Yuki segera memberi hormat kepada Reyna, begitu juga dengan Reyna. Lalu,
pertandingan pun dimulai. Pertandingan berlangsung sengit antara Yuki dan
Reyna. Yuki nyaris tidak bisa menyentuh dan melukai Reyna. Reyna menendang
perut Yuki dan Yuki terjatuh. Sakiit... sekali. Yuki tidak bisa menguasai rasa
sakitnya. Yuki tak dapat bangkit. Sehingga ronde pertama dimenangkan oleh
Reyna.
“Yuki... ada apa denganmu?” teriak kak Sandy.
“Bertahanlah untuk Pak Yuda dan bu Yurika...” pesan kak Sandy, lagi.
Yuki pun berusaha bangkit dan ronde kedua pun dimulai.
Yuki mencoba melancarkan serangannya ke Reyna. Beberapa diantaranya
berhasil dan membuat Reyna kewalahan dan tak tahu harus melangkah kemana. Dan
sekali lagi, Reyna berhasil menjatuhkan Yuki dibagian perutnya. Yuki bersujud
sambil memegangi perutnya dia nyaris menangis menahan sakitnya.
“Satu...”
Semua demi pak Yuda... yang sedang sakit, semoga dengan ini perjuanganku
tidak sia – sia... ya, perjuanganku dan pak Yuda. Perjuanganku dalam belajar
pencak silat, juga perjuangan pak Yuda yang susah – susah mengajariku pencak
silat. Aku tak boleh mengecewakan keluargaku, pak Yuda, dan bu Yurika. Ini
semua demi mereka... batin Yuki.
“Dua...”
Yuki pun bangkit dengan menahan sakit di perutnya sambil berlari dan
menyerang Reyna bertubi – tubi. Tentu saja Reyna kewalahan dan salah satu
serangan Yuki membuatnya keluar dari arena pertandingan. Ronde kedua pun
dimenangkan oleh Yuki.
Dironde ketiga, Yuki dan Reyna sama – sama
berusaha saling menyerang namun tetap bertahan, tapi akhirnya, Yuki menemukan
titik lemah Reyna. Yuki mengalihkan konsentrasi Reyna dengan pukulannya lalu
menjatuhkan Reyna dengan kakinya. Dan Yuki pun menang! Tepuk tangan bergemuruh.
Riuh sekali! Yuki mengulurkan tangannya pada Reyna, namun, Reyna tidak
membalasnya. Dia justru mendorong Yuki hingga Yuki terjatuh dan pergi
meninggalkan arena pertandingan begitu saja. Sementara itu... di tengah
kemenangan Yuki...
“Yuki... Yuki... Gawat! Cepat pulang!” ajak
kak Sandy sambil menghampiri Yuki.
“Ada apa kak? Kenapa kak? Apa yang terjadi?”
tanya Yuki, kaget.
“Sulit untuk menjelaskannya! Nanti saja!” kak
Sandy segera menarik tangan Yuki.
“Tapi kak... sebentar lagi penyerahan
pialanya...” jawab Yuki, dengan menahan sakit.
“Ini tuh jauh lebih penting dibandingkan
piala, Ki... Kau akan menyesal bila terlambat mengetahuinya...” jelas kak
Sandy. Kak Sandy pun mengayuh sepedanya dengan cepat menuju rumah sakit.
“Lho, ini kan rumah sakit tempat pak Yuda
diraawat! Ku kira... kita akan pulang ke rumah, kak. Ada apa dengan pak Yuda,
kak?” tanya Yuki, heran. Belum sempat kak Sandy menjawab pertanyaan Yuki,
datanglah ibu yang keluar dari rumah sakit dengan wajah sedih, cemas, semuanya
bercampur aduk.
“Yuki? Sandy? Cepatlah masuk ke kamar pak
Yuda...” ajak ibu. Lalu mereka pun segera menuju kamar pak Yuda. Pertanyaan
Yuki tidak dijawab oleh ibu maupun kak Sandy. Dari luar kamar pak Yuda,
terdengar suara berisik seperti orang sedang membaca Yasiin dan doa. Dan di
kamar pak Yuda, tampak bu Yurika sedang menangis sambil membaca buku Yasiin.
Ada juga ayah di situ yang memasang wajah sedih.
“Jangan... jangan... ti... tidak mungkin...”
Yuki segera memasuki kamar lebih dalam dan ternyata benar, pak Yuda telah
meninggal dunia. Yuki tidak mempercayai hal yang dilihatnya. Yuki menangis
tersedu – sedu dan segera berlari ke pelukan ibunya.
“Kenapa bisa? Pak Yuda sakit apa, bu?” tangis
Yuki.
“Pak Yuda terkena serangan jantung, nak...
karena selama ini terlalu letih...” jawab ibu, sambil memeluk Yuki.
“Apa karena... karena... selama ini mengajari
Yuki latihan?” tanya Yuki, sedih dan merasa bersalah.
“Tidak... bukan sepenuhnya salah Yuki...”
jawab bu Yurika sambil tetap menangis. Air mata yang keluar dari matanya tak
berhenti mengalir. Kini bu Yurika harus hidup sebatang kara. Yuki sedih sekali.
Di saat dirinya menjuarai lomba antar kelas, dia harus kehilangan seseorang
yang amat berarti baginya. Dia harus kehilangan seseorang yang dianggap penting,
yang sudah seperti keluarganya sendiri. Ia pikir, dengan kemenangannya ini,
akan membuat pak Yuda berbahagia. Ia pikir, dengan kemenangannya ini, akan
membuat pak Yuda sembuh. Ternyata semuanya sia – sia. Yuki tak sanggup melihat
jasad pak Yuda yang akan segera dimandikan. Dia tak kuasa menahan tangis dan
sedihnya. Apa sanggup dia melupakan pak Yuda? Jasa – jasanya selama ini? Apa
sanggup dia melepas kepergian pak Yuda begitu saja? Begitu sulit... Ya Allah...
mengapa kau menjemputnya secepat ini? Aku masih mau melihatnya tersenyum
bahagia atas kemenanganku... berkat
beliau lah aku bisa menjadi seperti ini. Batin Yuki.
Sementara itu di sekolah...
“Mari kita sambut, pemenang lomba bela diri
pencak silat antar kelas... Alhamra Hehanussa dan Yuki Sifyantika dari kelas
7.9...” seru kedua host, bersamaan.
Namun, Yuki tidak kunjung datang. Sedangkan
Hamra sudah berdiri di tengah lapangan menunggu penyerahan piala penghargaan.
Cukup lama mereka menunggu kehadiran Yuki. Kedua host saling berpandangan dan
kembali memanggil nama Yuki.
“Pemenang lomba bela diri pencak silat antar
kelas... Alhamra Hehanussa dan Yuki Sifyantika dari kelas 7.9...” namun,
hasilnya sama saja. Semua orang dikerahkan untuk mencari Yuki di sekitar
sekolah, namun hasilnya nihil.
“Yuki Sifyantika, ada Yuki dari kelas 7.9?”
tanya host laki – laki. Namun hasilnya sama. Akhirnya, piala Yuki dititipkan
kepada wali kelas. Setelah itu giliran penghargaan untuk runner up, juara 3,
harapan 1, harapan 2, harapan 3, juara favorit, juara sportifitas, dan juara
partisipasi.
“Dengan ini, kelas yang mendapat piagam
penghargaan JUARA UMUM LOMBA PENCAK SILAT antar kelas adalah kelas... Selamat untuk kelas 7.9!” ucap kedua host
bersama – sama. Seluruh murid kelas 7.9 bersorak kegirangan. Tepuk tangan bergemuruh
di sekitar lapangan. Setelah acara benar – benar selesai, semua diperbolehkan
untuk pulang.
“Reyna, tunggu...” panggil Hamra dari
belakang. Reyna menoleh, “Ada apa, Ham?” tanya Reyna.
“Kamu... lihat Yuki nggak?” tanya Hamra.
Reyna menggeleng lemah.
“Bukannya kalian sahabat, ya?” tanya Hamra.
Reyna diam saja. Namun Hamra tak peduli, dia kembali bertanya, “Kok Yuki secara
tiba – tiba menghilang sih?” tanya Hamra, lagi. Reyna hanya mengangkat bahu.
“Ooh... ya udah deh! Eh ya, by the way... selamat ya! Kamu
berhasil mendapat juara runner up. Kalau gak ada kamu, mungkin... kelas kita
gak akan mendapat piagam juara umum.” Kata Hamra, pada akhirnya dan berlalu
meninggalkan Reyna. Reyna terdiam sambil merenung. Hmm... benar juga apa yang
Hamra katakan, namun, aku takut untuk mengatakan kata maaf dan menyatakan
penyesalanku kepada Yuki. Ah, biarkan saja dia yang meminta maaf padaku. pikir
Reyna.
Sementara itu...setelah meninggalnya pak
Yuda, Bu Yurika akan tinggal di panti jompo. Sedangkan rumahnya akan dijual.
Setelah selesai melihat proses pemakaman pak Yuda, Yuki dan keluarga pun
kembali ke rumah.
“Yuki... makan...” kata ibu. Yuki diam saja,
dia masih terpukul atas kepergian pak Yuda. Dia masih merasa bersalah yang
teramat sangat.
“Kamu kenapa sih? Seharusnya kamu senang
dong! Kamu berhasil memenangkan pertandingan. Dan sekarangkan bu Yurika tinggal
di panti jompo. Kamu masih bisa ke sana, mencicipi masakannya yang enak.” Seru
kak Sandy, kesal.
Yuki menggeleng, “Bukan, bukan itu... kakak
tak perlu mengerti... ketika ku bahagia, kenapa aku harus merasakan kehilangan
seseorang yang sangat berarti bagiku? Orang yang ku anggap sudah seperti
keluarga sendiri. Guruku sendiri. Yang tanpa pak Yuda, aku gak akan bisa
menang. Aku ingin dalam kebahagiaanku ini, semua orang merasa senang
karenanya... Aku jadi merasa bersalah... Jangan – jangan, gara – gara aku lah
pak Yuda sakit keras hingga meninggal.”
“Menangisi orang yang sudah pergi itu tidak
baik, Ki. Nanti, pak Yuda tidak tenang di alam sana.” Jelas ibu. Yuki
mengangguk dan dia segera menghabiskan makan malamnya dan pergi tidur.
Pak Yuda... jasamu takkan ku lupakan...
Berkatmu, aku bisa seperti sekarang ini. Kau guru juga orangtuaku. Batin Yuki
sebelum tidur. Ketika tidur, dia bermimpi, pak Yuda menatapnya sambil tersenyum
dan berkata, “Selamat ya Yuki atas keberhasilanmu dalam lomba pencak silat
antar kelas yang diadakan sekolahmu. Semoga setelah ini, walau tanpa bapak,
kamu tetap bisa berprestasi dalam pencak silat. Tugas bapak untuk mengajarmu
pencak silat di dunia ini sudah selesai.” Lalu pak Yuda menghilang menjadi
asap, Yuki tak kuasa menahan tangis, “Pak Yuda!!! Jangan tinggalkan aku!!!
Maafkan aku... gara – gara aku, bapak... aku janji... aku tidak akan melupakan
bapak... aku tidak akan mengecewakan bapak...”
Yuki pun terbangun dari tidurnya. Tak terasa
air mata mengalir deras di pipinya. Dia pun menangis di tengah malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar