Sabtu, 04 Oktober 2014

Yuki's Spirit Part 10

Sepulang dari sekolah, Yuki kembali merasa perutnya sangat sakit. Dia merintih kesakitan.
“Yuki... kau sudah pulang?” tanya ibu dari dapur.
“Sudah bu...” jawab Yuki pelan, sambil terus memegangi perutnya.
“Kamu kenapa, Ki?” tanya ibu, khawatir.
“Tadi saat pertandingan, perutku tertendang dengan keras. Sakit sekali, bu...” jawab Yuki.
“Biar ibu obati, ya!” kata ibu segera mengambil kotak P3K di dalam kamar. Lalu segera keluar dari kamar dan mengobati perut Yuki.

“Sebaiknya, kamu jangan latihan terlalu berat, nak. Nanti terjadi gesekan lagi yang membuat luka di perutmu semakin parah. Perutmu hanya memerah saja, kok!” jelas ibu.
Tidak bisa, bu... Minggu depan sudah grand final... dengan 3 kategori supaya bisa lolos menjadi runner up atau pun pemenang...” tolak Yuki.
“Hanya 3 hari saja kok istirahatnya, nak...” jawab ibu.
“Tidak bisa, bu! Pokoknya tidak bisa!” jawab Yuki, ngotot. “Yuki harus latihan memecahkan kayu, bata, dan sejenisnya.”
“Oke, oke, baiklaah... coba jelaskan pada ibu ketiga kategori tersebut.” Ujar ibu.
“Pertama, memperagakan jurus yang dipelajari tanpa alat. Kedua, memperagakan jurus dengan alat. Dan terakhir memecahkan kayu dan bata dengan tendangan. Setelah itu, nanti dua nilai tertinggi akan diadakan duel.” Terang Yuki.
“Ooh... bukankah kau sudah menguasai semuanya, sayang?” tanya ibu.
“Aku belum terlalu bisa memecahkan kayu dan bata... ketika pak Yuda mengajariku tenaga dalam, aku belum sepenuhnya menguasainya. Aku hanya bisa memecahkan pecahan atap rumah dan triplek, itu pun belum terlalu bisa. Aku belum berlatih memecahkan kayu dan bata.” Terang Yuki.
“Hmm... baiklaah... terserah kamu saja... asal jangan berlebihan dan terlalu memaksakan dirimu ya, nak.” Kata ibu, pada akhirnya. Yuki pun giat berlatih. Dia tidak mempedulikan sedikit pun rasa sakit di perutnya, tenaga dan waktunya yang terkuras, belum rasa sakit di kakinya karena salah sasaran atau tidak berhasil memecahkan kayu dan bata. Dia hanya sesekali memikirkan apa yang terjadi dengan Reyna sebelum itu. Dia hanya memikirkan satu, yaitu grand final yang harus dia hadapi.
Sepanjang hari, sepanjang malam, dia tekun berlatih. Hingga tibalah hari yang ditentukan itu. Gawatnya, Yuki dan kak Sandy terlambat bangun! Yuki buru – buru mandi, sholat, makan, lalu gosok gigi. Begitu juga dengan kak Sandy Lalu, mereka segera berangkat. Walau pun memar di perut dan kaki Yuki belum sepenuhnya sembuh, Yuki tetap bersemangat mengikuti pertandingan.
“Apa kau sudah siap, dek?” tanya kak Sandy. Yuki tersenyum dan mengangguk dengan semangatnya, “Sangat siap!” jawabnya. Kak Sandy pun mengayuh sepedanya dengan cepat menuju sekolah Yuki. Untungnya pertandingan belum dimulai.
“Wow! Yang datang banyak sekali... lebih banyak dari biasanya...” kata kak Sandy, takjub. “Berusahalah semaksimal mungkin, dek. Jangan lengah, tetap fokus dan konsentrasi. Tetaplah yakin bahwa kau bisa.”
“Iya kak, terimakasih.” Jawab Yuki lalu segera berlari ke arena pertandingan. Tepat ketika dia datang, aba – aba perlombaan dimulai pun terdengar.
“Kita sambut, Yuki Sifyantika dari kelas 7.9...” ucap host perempuan. Lalu, Yuki segera ke arena pertandingan. Dia memberi hormat kepada tiga orang juri yang hadir saat itu. Lalu, dia mulai memperagakan gerakan pencak silat.
Setelah selesai, dia mengambil tongkatnya dan memperagakan gerakan pencak silat dengan tongkatnya tersebut. Dan yang terakhir, hal yang membuatnya sedikit gugup adalah memecahkan kayu dan bata hanya dengan sekali tendangan. Namun, Yuki mengingat pesan kakaknya ditambah support dan dukungan dari teman – temannya tanpa support dari Reyna. Maka, dia yakin bahwa dia bisa, maka pasti dia akan mampu melakukannya. Yuki mengambil nafas dalam – dalam.
Pertama Yuki memecahkan kayu lalu dia memecahkan bata. Semua bertepuk tangan akan keberhasilan Yuki tersebut kecuali Reyna. Setelah semuanya tampil. Semua peserta yang tersisa dikumpulkan.
“Setelah didiskusikan dan melalui proses penjurian yang panjang, akhirnya para juri sudah menentukan, 4 peserta yang berhasil lolos. Para juri mengatakan, sulit bagi mereka untuk memutuskan karena perbedaan poin sangatlah tipis.” Ujar host perempuan.
“Dan yang berhasil lolos adalah...” lanjut host laki – laki.
“Yuki Sifyantika dan Reynanda Swardhana dari kelas 7.9.” lanjut host perempuan. Yuki terbelalak dan tercengang tak percaya. Ketika grand final dia harus menghadapi sahabatnya sendiri.
“Lalu, Alhamra Hehanussa dari kelas 7.9 dan Agias Ma’sud Fauzi dari kelas 7.7.” tambah host laki – laki.
“Silakan langsung menuju arena pertandingan, karena duel yang akan menentukan juara lomba atar kelas ini akan segera dimulai!” ujar kedua host bersamaan.
Yuki dan Reyna segera menuju arena pertandingan. Yuki tampak gugup, tidak tenang seperti biasanya. Sedangkan Reyna dengan wajah tidak memikirkan apa – apa. Yuki segera memberi hormat kepada Reyna, begitu juga dengan Reyna. Lalu, pertandingan pun dimulai. Pertandingan berlangsung sengit antara Yuki dan Reyna. Yuki nyaris tidak bisa menyentuh dan melukai Reyna. Reyna menendang perut Yuki dan Yuki terjatuh. Sakiit... sekali. Yuki tidak bisa menguasai rasa sakitnya. Yuki tak dapat bangkit. Sehingga ronde pertama dimenangkan oleh Reyna.
“Yuki... ada apa denganmu?” teriak kak Sandy.
“Bertahanlah untuk Pak Yuda dan bu Yurika...” pesan kak Sandy, lagi.
Yuki pun berusaha bangkit dan ronde kedua pun dimulai.
Yuki mencoba melancarkan serangannya ke Reyna. Beberapa diantaranya berhasil dan membuat Reyna kewalahan dan tak tahu harus melangkah kemana. Dan sekali lagi, Reyna berhasil menjatuhkan Yuki dibagian perutnya. Yuki bersujud sambil memegangi perutnya dia nyaris menangis menahan sakitnya.
“Satu...”
Semua demi pak Yuda... yang sedang sakit, semoga dengan ini perjuanganku tidak sia – sia... ya, perjuanganku dan pak Yuda. Perjuanganku dalam belajar pencak silat, juga perjuangan pak Yuda yang susah – susah mengajariku pencak silat. Aku tak boleh mengecewakan keluargaku, pak Yuda, dan bu Yurika. Ini semua demi mereka... batin Yuki.
“Dua...”
Yuki pun bangkit dengan menahan sakit di perutnya sambil berlari dan menyerang Reyna bertubi – tubi. Tentu saja Reyna kewalahan dan salah satu serangan Yuki membuatnya keluar dari arena pertandingan. Ronde kedua pun dimenangkan oleh Yuki.
   Dironde ketiga, Yuki dan Reyna sama – sama berusaha saling menyerang namun tetap bertahan, tapi akhirnya, Yuki menemukan titik lemah Reyna. Yuki mengalihkan konsentrasi Reyna dengan pukulannya lalu menjatuhkan Reyna dengan kakinya. Dan Yuki pun menang! Tepuk tangan bergemuruh. Riuh sekali! Yuki mengulurkan tangannya pada Reyna, namun, Reyna tidak membalasnya. Dia justru mendorong Yuki hingga Yuki terjatuh dan pergi meninggalkan arena pertandingan begitu saja. Sementara itu... di tengah kemenangan Yuki...
   “Yuki... Yuki... Gawat! Cepat pulang!” ajak kak Sandy sambil menghampiri Yuki.
   “Ada apa kak? Kenapa kak? Apa yang terjadi?” tanya Yuki, kaget.
   “Sulit untuk menjelaskannya! Nanti saja!” kak Sandy segera menarik tangan Yuki.
   “Tapi kak... sebentar lagi penyerahan pialanya...” jawab Yuki, dengan menahan sakit.
   “Ini tuh jauh lebih penting dibandingkan piala, Ki... Kau akan menyesal bila terlambat mengetahuinya...” jelas kak Sandy. Kak Sandy pun mengayuh sepedanya dengan cepat menuju rumah sakit.
   “Lho, ini kan rumah sakit tempat pak Yuda diraawat! Ku kira... kita akan pulang ke rumah, kak. Ada apa dengan pak Yuda, kak?” tanya Yuki, heran. Belum sempat kak Sandy menjawab pertanyaan Yuki, datanglah ibu yang keluar dari rumah sakit dengan wajah sedih, cemas, semuanya bercampur aduk.
   “Yuki? Sandy? Cepatlah masuk ke kamar pak Yuda...” ajak ibu. Lalu mereka pun segera menuju kamar pak Yuda. Pertanyaan Yuki tidak dijawab oleh ibu maupun kak Sandy. Dari luar kamar pak Yuda, terdengar suara berisik seperti orang sedang membaca Yasiin dan doa. Dan di kamar pak Yuda, tampak bu Yurika sedang menangis sambil membaca buku Yasiin. Ada juga ayah di situ yang memasang wajah sedih.
   “Jangan... jangan... ti... tidak mungkin...” Yuki segera memasuki kamar lebih dalam dan ternyata benar, pak Yuda telah meninggal dunia. Yuki tidak mempercayai hal yang dilihatnya. Yuki menangis tersedu – sedu dan segera berlari ke pelukan ibunya.
   “Kenapa bisa? Pak Yuda sakit apa, bu?” tangis Yuki.
   “Pak Yuda terkena serangan jantung, nak... karena selama ini terlalu letih...” jawab ibu, sambil memeluk Yuki.
   “Apa karena... karena... selama ini mengajari Yuki latihan?” tanya Yuki, sedih dan merasa bersalah.
   “Tidak... bukan sepenuhnya salah Yuki...” jawab bu Yurika sambil tetap menangis. Air mata yang keluar dari matanya tak berhenti mengalir. Kini bu Yurika harus hidup sebatang kara. Yuki sedih sekali. Di saat dirinya menjuarai lomba antar kelas, dia harus kehilangan seseorang yang amat berarti baginya. Dia harus kehilangan seseorang yang dianggap penting, yang sudah seperti keluarganya sendiri. Ia pikir, dengan kemenangannya ini, akan membuat pak Yuda berbahagia. Ia pikir, dengan kemenangannya ini, akan membuat pak Yuda sembuh. Ternyata semuanya sia – sia. Yuki tak sanggup melihat jasad pak Yuda yang akan segera dimandikan. Dia tak kuasa menahan tangis dan sedihnya. Apa sanggup dia melupakan pak Yuda? Jasa – jasanya selama ini? Apa sanggup dia melepas kepergian pak Yuda begitu saja? Begitu sulit... Ya Allah... mengapa kau menjemputnya secepat ini? Aku masih mau melihatnya tersenyum bahagia atas  kemenanganku... berkat beliau lah aku bisa menjadi seperti ini. Batin Yuki.
   Sementara itu di sekolah...
   “Mari kita sambut, pemenang lomba bela diri pencak silat antar kelas... Alhamra Hehanussa dan Yuki Sifyantika dari kelas 7.9...” seru kedua host, bersamaan.
   Namun, Yuki tidak kunjung datang. Sedangkan Hamra sudah berdiri di tengah lapangan menunggu penyerahan piala penghargaan. Cukup lama mereka menunggu kehadiran Yuki. Kedua host saling berpandangan dan kembali memanggil nama Yuki.
   “Pemenang lomba bela diri pencak silat antar kelas... Alhamra Hehanussa dan Yuki Sifyantika dari kelas 7.9...” namun, hasilnya sama saja. Semua orang dikerahkan untuk mencari Yuki di sekitar sekolah, namun hasilnya nihil.
   “Yuki Sifyantika, ada Yuki dari kelas 7.9?” tanya host laki – laki. Namun hasilnya sama. Akhirnya, piala Yuki dititipkan kepada wali kelas. Setelah itu giliran penghargaan untuk runner up, juara 3, harapan 1, harapan 2, harapan 3, juara favorit, juara sportifitas, dan juara partisipasi.
   “Dengan ini, kelas yang mendapat piagam penghargaan JUARA UMUM LOMBA PENCAK SILAT antar kelas adalah kelas...  Selamat untuk kelas 7.9!” ucap kedua host bersama – sama. Seluruh murid kelas 7.9 bersorak kegirangan. Tepuk tangan bergemuruh di sekitar lapangan. Setelah acara benar – benar selesai, semua diperbolehkan untuk pulang.
   “Reyna, tunggu...” panggil Hamra dari belakang. Reyna menoleh, “Ada apa, Ham?” tanya Reyna.
   “Kamu... lihat Yuki nggak?” tanya Hamra. Reyna menggeleng lemah.
   “Bukannya kalian sahabat, ya?” tanya Hamra. Reyna diam saja. Namun Hamra tak peduli, dia kembali bertanya, “Kok Yuki secara tiba – tiba menghilang sih?” tanya Hamra, lagi. Reyna hanya mengangkat bahu.
   “Ooh... ya udah deh! Eh ya, by the way... selamat ya! Kamu berhasil mendapat juara runner up. Kalau gak ada kamu, mungkin... kelas kita gak akan mendapat piagam juara umum.” Kata Hamra, pada akhirnya dan berlalu meninggalkan Reyna. Reyna terdiam sambil merenung. Hmm... benar juga apa yang Hamra katakan, namun, aku takut untuk mengatakan kata maaf dan menyatakan penyesalanku kepada Yuki. Ah, biarkan saja dia yang meminta maaf padaku. pikir Reyna.
   Sementara itu...setelah meninggalnya pak Yuda, Bu Yurika akan tinggal di panti jompo. Sedangkan rumahnya akan dijual. Setelah selesai melihat proses pemakaman pak Yuda, Yuki dan keluarga pun kembali ke rumah.
   “Yuki... makan...” kata ibu. Yuki diam saja, dia masih terpukul atas kepergian pak Yuda. Dia masih merasa bersalah yang teramat sangat.
   “Kamu kenapa sih? Seharusnya kamu senang dong! Kamu berhasil memenangkan pertandingan. Dan sekarangkan bu Yurika tinggal di panti jompo. Kamu masih bisa ke sana, mencicipi masakannya yang enak.” Seru kak Sandy, kesal.
   Yuki menggeleng, “Bukan, bukan itu... kakak tak perlu mengerti... ketika ku bahagia, kenapa aku harus merasakan kehilangan seseorang yang sangat berarti bagiku? Orang yang ku anggap sudah seperti keluarga sendiri. Guruku sendiri. Yang tanpa pak Yuda, aku gak akan bisa menang. Aku ingin dalam kebahagiaanku ini, semua orang merasa senang karenanya... Aku jadi merasa bersalah... Jangan – jangan, gara – gara aku lah pak Yuda sakit keras hingga meninggal.”
   “Menangisi orang yang sudah pergi itu tidak baik, Ki. Nanti, pak Yuda tidak tenang di alam sana.” Jelas ibu. Yuki mengangguk dan dia segera menghabiskan makan malamnya dan pergi tidur.
   Pak Yuda... jasamu takkan ku lupakan... Berkatmu, aku bisa seperti sekarang ini. Kau guru juga orangtuaku. Batin Yuki sebelum tidur. Ketika tidur, dia bermimpi, pak Yuda menatapnya sambil tersenyum dan berkata, “Selamat ya Yuki atas keberhasilanmu dalam lomba pencak silat antar kelas yang diadakan sekolahmu. Semoga setelah ini, walau tanpa bapak, kamu tetap bisa berprestasi dalam pencak silat. Tugas bapak untuk mengajarmu pencak silat di dunia ini sudah selesai.” Lalu pak Yuda menghilang menjadi asap, Yuki tak kuasa menahan tangis, “Pak Yuda!!! Jangan tinggalkan aku!!! Maafkan aku... gara – gara aku, bapak... aku janji... aku tidak akan melupakan bapak... aku tidak akan mengecewakan bapak...”

   Yuki pun terbangun dari tidurnya. Tak terasa air mata mengalir deras di pipinya. Dia pun menangis di tengah malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar