Sabtu, 04 Oktober 2014

Task Impossible

   Aku baru duduk di kelas 7, karena itu aku mendapat pelajaran mulok (muatan lokal) Tata Busana. Sedangkan untuk kelas 8 muloknya adalah tata boga dan untuk kelas 9 muloknya adalah elektronik. Makanya envy banget kan sama kakak kelas 8? Bisa makan terus kenyang deh! *eh lanjut ke ceritaaa!!!

   Sebenarnya, aku tidak terlalu bisa menjahit, apalagi selama ini aku selalu menghindari urusan jahit – menjahit. Pelajaran tata busana diajarkan setiap hari senin seusai upacara. Guru yang mengajarkan tata busana adalah bu Noza.
   Hari ini, seusai upcara, bu Noza memasuki kelas. Setelah membaca doa dan memberi salam, bu Noza memulai pelajaran tata busana.
   “Buka bab 3 halaman 35. Kita akan belajar membuat taplak meja. Minggu depan, kalian semua harap membawa uang Rp. 13.000, untuk menyiapkan bahannya.” jelas bu Noza.
   “Iya bu...”
   “Baik bu...”
   Teman – teman menjawab tidak kompak. Bahkan ada yang tidak menjawab sama sekali. Pelajaran pun dimulai.
   Sepulang sekolah...
   “Assalamualaikum...” sapaku.
   “Walaikumsalam...” jawab ibu.
   “Bu, senin depan, bawa uang Rp. 13.000 untuk bahan tata busana.” Jelasku.
   “Oh, baiklah kalau begitu, memangnya mau membuat apa, nak?” tanya ibu.
   “Katanya sih mau membuat taplak meja, tapi Stella gak tahu juga deh, bu!” jawabku.
   “Ooh... ya sudah kalau begitu, Stella ganti baju dan makan dulu, ya!” kata ibu. Aku mengangguk. Tak terasa seminggu pun terlewati dan tibalah hari senin. Aku membawa uang Rp. 13.000 dan mendapat bahan – bahannya.
   “Karena ibu sengaja lebih membelinya, kalian mengerjakan taplak perorangan saja!” jelas bu Noza. Awalnya, aku dan teman – teman menyangka bu Noza hanya bercanda, namun ternyata, bu Noza bersungguh – sungguh dan tidak bercanda sedikit pun. Waktu untuk mengerjakan taplak pun hanya diberi seminggu karena setelah itu minggu ulangan umum. Coba bayangkan! Kami belum pernah mempraktekkannya. Bu noza tidak memberikan pengarahan cara membuatnya. Panduannya hanya buku. Belum diminta membuat rendanya, belum buat motifnya yang lama dan ribetnya badai. Task impossible banget kan? Aku merasa tidak sanggup menyelesaikannya hanya dalam waktu seminggu. Aku, juga teman-teman pun mencari cara agar pekerjaan itu selesai tepat waktu dan mendapatkan hasil yang memuaskan.
   “Assalamualaikum...” sapaku.
   “Walaikumsalam...” jawab ibu.
   “Bu, Stella kesal deh, bu. Masa bu Noza ngasih tugas berat amat! Masa kami sekelas diminta ngerjain taplak sendiri dan waktunya cuma seminggu! Mana sanggup Stella?” ceritaku berapi – api karena gusar.
   “Sabar ya, La...” hanya itu jawaban ibu karena bingung ingin berkomentar apa. “Coba ibu lihat bahan – bahannya. Ibu memang tidak mahir menjahit, tapi, mungkin ibu bisa sedikit membantu.” Kata ibu, lagi. Sambil melihat bahan – bahan untuk membuat taplak meja dengan seksama.
   “Katanya bu guru, rendanya harus dijahit pakai mesin jahit, bu. Kita kan ga punya,bu, dan teman-teman juga banyak yang tidak punya” Jelasku masih tetap cemberut.
   “Berarti ke tukang jahit dong?” tanya ibu. Aku hanya mengangguk.
   “Oh ya sudah, ganti baju saja dulu, La.” Perintah ibu. Aku pun segera ganti baju dan makan siang. Sudah 3 hari berlalu, namun, aku yang sibuk dengan tugas, PR, dan ulangan lainnya belum sempat menyelesaikan tugas tersebut. Aku baru selesai membuat motifnya, namun, belum satu pun yang dijahit. Taplak pun belum diberikan ke tukang jahit untuk dipasangkan rendanya. Dan  juga belum menggambar motif pada taplak itu.
   “Argh!!!” teriakku karena kesal, ku rasa otakku sudah benar – benar penat dan berasap (?). Kak Felice dan ibu pun menghampiriku, “Ada apa, La?” tanya mereka.
   “Aku bisa gila kalau begini jadinyaaa!!!! Jika taplak belum selesai bagaimana aku bisa mendapatkan nilai? Padahal, ini sudah hari kamis!” pekikku, geram.
   “Gitu doang! Lebay amat!” komentar kak Felice, kakakku.
   “Kayak kakak bisa aja! Coba kerjain! Minimal bantuin! Batuin aja nggak! Bisanya komentar! Kakak yang tidak mengerti dan menghargai perasaan adiknya!” omelku, kesal.
   “Lha? Itu tugas siapa? Emangnya tugas kakak?” tanya kak Felice berusaha menghindari pekerjaan tersebut.
   “Halaah... bisanya mengalihkan pembicaraan.. bilang aja kalau emang gak bisa... gak usah pakai alasan segala! Basi tahu!” ejekku.
   “Terus, kalau kakak nggak bisa emang kenapa? Masalah buat lo?” tanya kak Felice.
   “Iya masalah... emang kenapa gak seneng?” jawabku.
   “Sudah – sudah... Felice... lebih baik kamu mengerjakan PR-mu yang belum selesai, yaa!” ibu menengahi.
   “Iya bu... weeek!!!” jawab kak Felice sambil menjulurkan lidah ke arahku. Aku hanya menjawabnya sambil mencibir karena kesal. Aku kesal sekali hingga hampir saja aku menangis. Sudah mendapat tugas yang berat, ini tidak seorang pun mau membantuku! Mereka justru menghinaku! Menyebalkan!
   Namun tiba – tiba, muncul suatu siasat dibenakku untuk berbuat curang. Aku segera menggambar motif dan letak motif – motif tersebut disebuah kertas HVS dan diberi warna, lalu aku melipat taplak tersebut dan memasukkannya ke kantong plastik bersama dengan renda dan gambar motif yang ku gambar tadi di kertas HVS.
   “Bu, Stella mau pergi dulu, ya!” kataku.
   “Mau ke mana?” tanya ibu.
   “Kan aku pinjam beberapa buku bacaan Marty, tapi aku lupa bawa ke sekolah, aku mau ngembaliin. Takut kakaknya nge-cariin.” Jawabku, berbohong.
   “Ooh.. ya sudah kalau begitu. Hati – hati ya, nak! Sebentar lagi sudah mau hujan, lho! Jangan mampir ke mana – mana lagi setelahnya. Segera pulang dan jangan main.” Nasihat ibu, panjang sekali seperti kereta api.
   “Iya bu, tenang aja. Assalamualaikum...” jawabku.
   “Walaikumsalam...” jawab ibu.
   Aku segera pergi menuju tukang jahit langganan keluargaku yang tidak terlalu jauh dari rumah.
   “Assalamualaikum... permisi...” ucapku.
   “Walaikumsalam...” jawab seorang ibu paruh baya bersama karyawan – karyawannya.
   “Bu, saya mau jahit renda sama jahit motif taplak meja ini. Ini gambar motif dan tata letaknya. Bisa tidak kalau hari minggu sore selesai?” tanyaku.
   “Mmh... iya, mungkin minggu sore sudah bisa diambil. Jahit tangan ya?” jelas ibu itu sambil mengamati taplak meja itu secara mendetil.
   “Iya, tusuk feston untuk pinggirannya dan tusuk tangkai untuk tangkainya. Oh iya, ini ditaruh di tengahnya.” Jelasku, tanpa kekurangan suatu apapun.
   “Baiklah...” jawab ibu tersebut, manggut – manggut saja.
   “Kalau boleh saya tahu, harganya berapa ya, bu?” tanyaku.
   “Mmh... karena menggunakan jahitan tangan, jadi harganya lebih mahal dibandingkan yang biasanya... sekitar... Rp. 50.000. Karena pasang renda saja sudah Rp. 20.000, nak. Sudah begitu, motifnya banyak sekali yang harus dipasang. Waktunya pun hanya 3 hari.” Terang ibu itu.
   “Oke deh, tak apa. Minggu sore aku akan datang mengambil jahitannya ya, bu. Mungkin jam 5-an. Makasih lho, bu.” Kataku untuk menutupi rasa kekecewaanku karena harganya ternyata cukup mahal. Lalu, aku pun kembali ke rumah dengan wajah tenang.
   “Gimana jahitanmu, dek?” tanya kak Felice, dihari minggu siang.
   “Sudah hampir jadi kok, kak. Tinggal tengahnya saja yang belum di feston.” Jawabku, berbohong.
   “Lho, emang rendanya sudah selesai, dek?” tanya kak Felice. Aku hanya mengangguk.
   “Ooh... boleh kakak lihat?” selidik kak Felice, sedikit curiga dan kurang yakin padaku.
   “Ish... kakak jadi orang kepo banget sih!” gerutuku, kesal.
   “Alaah... alasan... bilang aja kalau belum jadi dan kamu serahkan ke tukang jahit! Benar kan kataku?” jawab kak Felice, kesal.
   Aku sedikit kaget dengan pernyataan dari kak Felice yang ternyata mencurigai diriku dan mengetahui akal bulusku, namun dengan wajah tenang, aku menjawabnya, “Yakin amat! Aku sih kalau jadi kakak gak akan terlalu yakin. Kalau salah ceming, kicep, malu jadinya... Bilang aja kalau kakak iri nggak bisa menjahit seperti adiknya yang imut, cetar, dan kece badai ini.” gayaku mengikuti Syahrini...
   “Idih... udah tukang bohong, kepedean lagi... iyuh...” cela kak Felice.
   “Terus, kalau gue bohong, masalah buat lo?” jawabku.
   “Masalah, emang kenapa? Gak seneng?” tanya kak Felice.
   “Gak seneng!” jawabku sambil menjulurkan lidah dan pindah ke kamar untuk melanjutkan membaca majalah. Dari pada membaca di ruang keluarga tapi diganggu oleh kakak  yang super rusuh itu sehingga menimbulkan adu mulut yang tidak jelas dan tidak keruan.
   Sorenya...
   “Bu, Stella mau bersepeda sebentar, ya!” kataku, sambil memasang sepatu.
   “Oh, iya. Jangan pulang sore – sore...” jawab ibu.
   “Iya, assalamualaikum...” sapaku.
   “Walaikumsalam...” jawab ibu. Aku pun segera mengayuh sepedaku menuju tukang jahit tersebut sambil membawa uang Rp. 100.000 didompetku yang ku masukkan ke saku celana paling dalam menghindari kak Felice yang seperti polisi, suka mengintrograsi. Hehehe...
   “Assalamualaikum... Permisi... mau ngambil taplak meja, sudah jadi belum?” tanyaku.
   “Walaikumsalam... sudah kok, nak. Baru saja selesai.” Jawab ibu tua itu sambil menyerahkan kantong plastik berisi taplak meja tersebut.
   “Oke, ini uangnya.” Kataku sambil menyerahkan uang sebesar Rp. 100.000.
   “Tunggu sebentar, ya!” kata ibu itu sambil mencari uang kembalian di laci mejanya. Ibu itu menyerahkan uang sebesar Rp. 50.000 kepadaku.
   “Terimakasih, bu.” Jawabku.
   “Iya sama – sama.” Jawab ibu itu.
   Aku pun pulang kembali ke rumah. Aku berjalan berjingkat – jingkat memasuki kamar, takut ketahuan kak Felice. Lalu aku segera meletakkan jahitan tersebut di sudut kamar lalu segera keluar kamar. Betapa kagetnya aku tiba – tiba dihadapanku sudah ada kak Felice!
   “Eh... kak Felice... ngapain kak?” tanyaku, gugup. Namun, aku berusaha untuk menutupinya.
   “Gak apa – apa... ku kira... kamu... bersepeda...” kak Felice menatap dengan tajam.
   “Memang... aku hanya balik sebentar untuk mengambil uang jajan.” Jawabku, beralasan.
   “Oh, ku kira...” jawab kak Felice, sinis.
   “Apa yang kakak lakukan? Kenapa berada di depan kamarku?” giliran aku yang menyelidik .
   “Oh, tidak apa – apa kok, dek... kepo banget!” jawab kak Felice dengan wajah gusar.
   “Cius? Mi apah? Ah masa? Entar bo’ong lagi...” godaku.
   “Apa sih deek... lebaynya kumat deeh...” ledek kak Felice.
   “Bukannya kakak yang ngajarin aku lebay?” jawabku.
   “Dasar! Adek yang kurang ajar!” pekik kak Felice.
   “Apa? apa? Gak denger aku...” jawabku sambil berlari ke luar rumah dan menjulurkan lidah kepada kak Felice. Rupanya, setelah memastikan situasi aman, kak Felice mengendap – endap memasuki kamarku dia ingin melihat apakah benar apa yang ku katakan. Ternyata benar! Ia menemukan taplak tersebut tanpa kurang suatu apa pun dan tanpa bon karena tadi bon dan gambar motifnya sudah ku buang. Hehehe...
   Sambil bersepeda, aku membatin, ‘biarlah, nanti saja aku setrika taplak itu, aku ingin  bersenang – senang dulu.’ Aku bersepeda hingga pukul 17.30. Setelah itu, aku mandi dan ganti baju karena bajunya basah akibat keringat. Lalu, aku segera menyeterika taplak tersebut dan memberi nama dan kelasku disebuah kertas yang ku jahit dengan tusuk jelujur. Memang, aku hanya bisa jahit jelujur. Bukan karena tidak bisa tusuk hias yang lain, tapi karena aku memang malas mempelajarinya. Hehehe... jangan ditiru ya teman – teman!
   Hari senin pun tiba... seperti biasa, seusai upacara, semua murid mengeluarkan buku dan jahitan hasil kerja mereka masing – masing. Bu Noza pun memasuki kelas.
   “Siap membaca doa, di dalam hati, mulai!” ujar Marty, sang ketua kelas. “Selesai! Memberi salam!”
   “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...” seru murid – murid.
   “Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh...” jawab bu Noza.
   “Silakan yang ibu panggil namanya sesuai absen, kalian maju ke depan dan menujukkan taplak meja milik kalian.” Cukup lama aku menunggu namaku dipanggil, aku yakin betul bahwa aku akan mendapat nilai baik dan memuaskan.
   “Agustina Stellany.” Panggil bu Noza.
   Aku pun maju dan menunjukkan taplak milikku. Lalu bu Noza menuliskan nilaiku. Setelah semua nama dipanggil, bu Noza mengumumkan sesuatu, “Dan nilai tertinggi di kelas ini dalam tugas membuat taplak adalah... Agustina Stellany...” semua orang bertepuk tangan dan memujiku.
   Namun, aku justru sedih dan kecewa pada diriku sendiri. Pasalnya, itu bukanlah hasil murni yang aku kerjakan, itu hasil orang lain. Aku kini merasakan ketidak adilan tersebut. Seharusnya, teman – teman yang mengejarkan secara murni-lah yang mendapatkan nilai terbaik, bukan aku yang bertindak curang. Nilaiku dikurangi pun toh tak apa, yang penting setara dengan KKM (Kriteria Ketuntasan minimal). Aku sebenarnya pantas mendapatkan nilai yang pas, tidak perlu lebih dari teman – teman. Kalau saja teman – teman dan bu Noza mengetahuinya, mereka akan mencelaku, aku akan malu luar biasa dihadapan mereka semua. Batinku, gugup. Badanku tiba – tiba berdiri sendiri dari tempat duduk dan berjalan menuju bu Noza.
   “I... ibu... ibu... ma... maafkan sa... saya bu...” aku takut dan tergagap – gagap. Hingga keringat dingin mengalir dikeningku.
   “Lho, minta maaf kenapa? Ada apa Stella?” tanya bu Noza, dengan wajah bingung.
   “Ta... ta... taplak meja itu, bukanlah ha... hasil sa... saya yang sebenarnya bu...” jelasku sambil menunduk malu.
   “Maksudnya apa, nak? Ibu tak mengerti.” bu Noza menjawab dengan wajah bingung.
   “Sebenarnya, saya menyerahkan taplak itu kepada tukang jahit. Dan saya meminta tukang jahit untuk mengerjakannya. Karena saya merasa tidak mampu menyelesaikannya dan tidak pandai mengatur waktu sehingga taplak itu nyaris tidak selesai” Terangku, hampir menangis karena merasa bersalah dan menyesal.
   Awalnya, ku pikir bu Noza akan marah padaku. Namun ternyata bu Noza adalah orang yang tidak mudah diterka pikiran dan perasaannya, dia justru tersenyum menatapku. Dengan wajah tersenyum, bu Noza berucap, “ibu sungguh salut padamu, nak. Kau berani berbicara jujur kepada ibu. Walau ibu sedikit kecewa, namun ya sudahlah...”
   “Ibu tidak marah?” tanyaku, kaget. Bu Noza menggeleng.
   “Bu, sebaiknya, nilai saya... dikurangi karenanya... karena saya merasa... bersalah... dan itu tidaklah adil bagi teman – teman.” Jelasku. Baru selesai aku berbicara, Marty dan Fathiya menghampiri bu Noza.
   “Bu, saya mau jujur, saya tidak pantas mendapat nilai 85, karena itu bukan hasil kerja saya, yang mengerjakan taplak saya adalah ibu saya...” terang Marty.
   “Saya juga, bu. Yang mengerjakan punya saya adalah kakak saya, bu...” tambah Fathiya.
   Bukannya marah, bu Noza justru tersenyum dan segera bangkit dari tempat duduknya.

   “Anak – anak... kalian pantas mencontoh Stella, Marty, dan Fathiya. Mereka berani berkata jujur dan mengakui kesalahannnya. Ibu senang sekali mendengarnya. Jujur saja, ibu sebenarnya memang sudah merencanakan hal ini terjadi. Ibu memang sengaja memberikan kalian tugas yang sulit dan tidak ibu jelaskan caranya juga, karena ibu ingin mengetahui apakah kalian berani bersikap jujur? Apakah kalian bisa menyelesaikan permasalahan semacam ini? Apakah kalian sanggup mengatasinya? Dan bagaimana cara kalian menyelesaikannya? Ternyata semuanya terjawab sudah. Yang jelas, ibu bangga sekali pada keberanian dan kejujuran kalian. Ibu tidak menyangkanya.” Jelas bu Noza sambil tersenyum. Aah... lega sudah pikiranku dan tenang sudah perasaanku. Tapi... aku tidak harus jujur pada kak Felice kan?, aduh.. kakakku yang satu itu bakat jadi Spy banget deh tapi aku sayang dia kok... Hehehe...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar