Sabtu, 04 Oktober 2014

Dance Competition Day

  “Eh, lihat, Sull! Ada lomba girlband dan boyband untuk perpisahan anak kelas 9!” ujarku, berseri – seri.

   “Ikut, yuk!” ajak Sulli.
   “Tapi Sull... pasti sulit... aku yakin banyak yang lebih berbakat dari kita karena yang mendaftar pasti banyak.” kataku menunduk, tidak yakin.
   “Ayolaah... kita tidak boleh menyerah sebelum berusaha!” Sulli menyemangatiku. “Kan lumayan, kita bisa tunjukkan pada kakak – kakak kelas bahwa kita itu bisa sehebat mereka!”
   “Memangnya kita hebat? Kita saja belum tentu menang.” jawabku.
   “Makanya, kita coba dulu...” jawab Sulli.
“Oke, baiklah! Mari kita ajak Poppy, Ayezza, Aaliyah, Yuri, Dyas, Dyan, dan Alda!” ucapku, pada akhirnya.
Aku dan Sulli pun mencari mereka, dan berbicara pada mereka di kelas.
“Teman – teman, bagaimana jika kita ikut lomba itu?” usulku.
“Boleh juga, tapi... bagaimana dengan pelatihnya?” tanya Yuri.
“Apa kamu memiliki pelatih sebelum ini, Yur?” tanyaku.
“Hmm... ada siih... namanya bu Saras. Aku pernah berlatih dance dengan beliau. Dan aku masih memiliki nomor handphonenya. Semoga saja nomornya masih aktif.” jawab Yuri.
“Oke, kalau begitu, tanya, kapan beliau bisa melatih kami. Kita latihan mulai hari ini sepulang sekolah!” ujarku.
“HAH?! Hari ini, Krys?” pekik semuanya.
“Ya iyalah... kapan lagi? Waktu tuh cuma tinggal sebulan lagi.” jawabku.
“Kostum dam aksesorisnya bagaimana?” tanya Aaliyah.
“Poppy, ibumu kan penjahit, bagaimana kalau ibumu yang membuat kostum kami? Nanti, biar kami patungan untuk membayar kostum itu. Bagaimana?” usulku.
“Emm... Ehm... oke, deh!” jawab Poppy.
“Oh ya, aku ingin kostumnya nanti seperti SNSD, atau seperti girlband Princess, gimana?” usulku pada teman – teman.
Up to you laah...” jawab semuanya.
Sepulang sekolah, mereka langsung berlatih di halaman belakang rumahku.
“Satu satu... dua dua... tiga tiga... em...”
“AUW!!! ARGH!!!” pekik Ayezza.
Latihan terhenti. Rupanya, Ayezza tergelincir dan menabrak Aaliyah, Poppy, Alda, dan Dyas. Aaliyah, Poppy, Alda, Ayezza, dan Dyas pun terjatuh.
“Udah, udah! Berdiri! Begitu aja cengeng banget siih... kita itu harus disiplin, tahu nggak?!” ujarku, kesal.
“Nggak bisa gitu dong, Krys... mereka kan sakit...” bela Sulli.
“Sudahlah, Sull... aku dan teman – teman mungkin hanya butuh istirahat sebentar, kok!” kata Ayezza, memegang lembut tangan Sulli.
Keesokkannya, bu Saras sudah datang. Bu Saras, meminta kami berlari keliling lapangan, sit up, push up, skot jump. Benar – benar latihan yang berat! Ini penyiksaan! Mau jadi apa sih? Udah kayak girlband – girlband Korea gitu yang trainee-nya berbulan – bulan, bahkan bertahun – tahun. Inikan cuma untuk iseng – isengan?
“Cukup latihannya! Bila kalian tidak melakukan sesuatunya dari hati, tidak akan jadi maksimal. Bila kalian tidak melakukannya demi orang lain, bagaimana hasilnya akan baik? Kalian niat lomba nggak siih? Kalau kayak begini cara latihannya, kalian tidak akan bisa menang! Mengerti?” tegas bu Saras.
Kami semua terdiam, lalu mengangguk dan menjawab, “Iya, bu.”
Setelah bu Saras pulang. Kami masih berkumpul.
“Huh! Capek banget... tega banget siih bu Saras, kita udah latihan keras – keras, capek – capek, masih aja dimarahi dan dibentak – bentak. Dikira tentara apa?” ujarku pada teman – teman, karena kesal.
“Bukannya, kata kamu, kita harus disiplin, ya?” tanya Sulli membuatku terdiam.
Kami setiap hari berusaha latihan dengan penuh disiplin. Kami juga membantu ibu Poppy membuat kostum untuk kami semua.
Kostum yang kami kenakan sangat girlie dan manis. Teman – teman menyukainya, kecuali aku.
“Aduuh... kok kostumnya kayak gini, sih? Gimana bisa ngedance dengan baik? Ini mah malah nyusahin buat bergerak tahu gak sih?” ujarku.
Teman – teman menatapku dengan rasa kesal dan bingung.
“Kayak kamu bisa aja ngebuatnya! Lagian... bukannya kamu ya yang minta dari awal kostumnya seperti girlband – girlband zaman sekarang?” tanya Alda, sinis.
“Tapi tuh bukan begini..., maksudku...” ucapanku dipotong Dyas.
“Ini sudah benar, Krys... mau kayak gimana lagi? girlband masa depan? Bikin aja sendiri! Itu pun kalau kamu bisa.” ujar Dyas.
Aku menatap Dyas dan Alda dengan tatapan kesal. “Kayak kalian bisa!”
“Kalau bisa kenapa?” jawab Dyas dan Alda berbarengan.
“Oke... kalau begitu... kalian bikin aja sendiri buat kami! Dan aku pinginnya berbeda! Bukan sama kayak gini!” jawabku sambil membanting gaun ber-rok selutut itu.
“Udah – udah... Krystal... kita nggak punya waktu lagi buat ngukur dan ngebuatnya... memangnya dikira kamu mudah dan cepat, ya membuatnya? Kamu kan tidak ikut bekerja waktu itu, hargailah ibu Poppy dan Poppy yang sudah susah payah membuatnya. Dan Alda, Dyas, jangan memperburuk suasana!” ujar Sulli menengahi.
“Huh! Bukannya kamu membelaku! Sahabat macam apa kamu? Malah menengahi dan menceramahiku! Terserah aku dong!” jawabku, keras kepala.
“Krystal... sahabat itu bukan yang selalu membenarkan ucapanmu, tapi selalu menasihatimu disaat ucapanmu salah!” jawab Ayezza.
“Diam kamu! Aku berbicara pada Sulli! Bukan pada Cry Baby sepertimu!” jawabku, kesal.
   Sulli terdiam kesal, sepertinya, teman – teman tahu maksudnya, semua teman langsung menjauhiku.
   Aku berpikir keras supaya teman – teman mau memaafkanku tapi bagaimana? Aha! aku akan buatkan mereka kue dan teh atau sirup ceri. Pasti mereka suka! Saat break latihan, aku membawa cemilan itu ke ruang tamu.
   “Teman – teman! Silakan makan kuenya!” ujarku, ramah.
   “Maaf Krys, aku sudah kenyang.” jawab Alda.
   “Maaf, aku alergi.” jawab Dyas.
   “Aku tidak lapar.” jawab Ayezza.
   “Aku tidak haus.” jawab Poppy.
   “Aku sudah bawa minum dari rumah.” jawab Yuri.
   “Aku sedang sakit flu, aku tidak boleh minum es, Krys.” jawab Aaliyah.
   “Maaf, aku tidak menyukai rasanya...” jawab Sulli.
   Aku jadi kesal dan sakit hati sekali rasanya. “Udah dibaik – baikin nolak... maunya kalian apaan siih?” ujarku.
   “Tidak enakkan kalau hasil kerjanya tidak dihargai? Apalagi kalau kita sudah baik – baik melakukannya demi orang lain. Begitu juga yang dirasakan Poppy dan ibunya begitu kamu menolak kostum itu. Kamu mengertikan sekarang?” sahut Sulli enteng, dengan nada datar.
   Aku terdiam dan tidak bisa berkutik. Begini tho rasanya... Benar apa yang dikatakan Sulli kemarin dan sekarang. Kenapa aku tak mendengarkannya?
Di hari terakhir kami latihan... bu Saras berpesan, “Anak – anak, latihan saja tidak cukup. Kita juga harus berusaha semaksimal mungkin, berdo’a, bekerja sama, dan saling menghargai satu sama lain. Kalian juga harus saling peduli kepada sesama.”
   Mendengar penjelasan itu, aku terdiam. Selama ini, aku menekan teman – temanku, aku tidak mau bekerja sama dengan teman – temanku, aku tidak menghargai teman – temanku, aku juga tidak peduli kepada teman – temanku. Aku hanya mempedulikan diriku sendiri. Mungkin itu yang membuat sikap Sulli berubah.
   “Ada apa, Krys?” tanya Sulli yang bingung melihatku yang sedari tadi terdiam.
   “Eh, eh... ng... enggak apa – apa kok, Sull. A... aku hanya... sedang memikirkan sesuatu.” jawabku.
   Keesokkannya saat girlband kami tampil, aku sangat tidak bersemangat. Pikiranku melayang entah kemana. Sehingga ada beberapa gerakannya yang salah. Sulli yang berada di belakangku jadi bingung dengan perubahan sikapku itu.
   Ada apa ya dengan Krystal? Dari kemarin, dia berubah 180 derajat, deh! Batin Sulli. Sayangnya, karena kesalahan fatalku itu, girlband kami jadi kalah.
   Saat berada di pintu ruang ganti, ku dengar suara teman – teman.
   “Kita kalah karena Krystal!” ujar Yuri.
   “Ooh... ada apa dengannya, ya? Dia berubah sekali.” ujar Sulli.
   “Bukankah dia yang bilang kita harus tampil sempurna? Tapi dia sendiri yang berbuat kesalahan!” kata Aaliyah.
   “Huh! Padahal kemarin – kemarin dia sudah berlagak seperti leader... tapi ternyata karena dia sendirilah kita kalah. Leader macam apa sih? Tidak bisa bertanggung jawab dan memegang ucapannya sendiri!” komentar Alda.
   Aku jadi kesal dengan ucapan mereka, aku pun masuk dan langsung berucap, “Andai saja Sulli tidak memaksaku untuk ikut audisi ini! Ini semua salahmu, Sull!” pekikku.
   “Lho, kok jadi aku sih? Kau kan juga menyetujuinya! kau ini seharusnya sadar akan kesalahanmu! Bukan justru melampiaskan kekesalanmu kepada sahabatmu!” balas Sulli.
   “Sudah, sudah HENTIKAN!!!” pekik Ayezza. Membuatku dan Sulli terdiam. Aku sadar, aku salah, seharusnya aku lebih peduli pada teman – teman.
   “Ehm... ma... maafkan aku teman – teman. Aku tahu aku salah. Aku yang membuat kita kalah. Maafkan aku. Andai saja aku tidak egois dan lebih mempedulikan kalian, pasti tidak akan berakhir begini. Maafkan aku...” tangisku. Membuat semuanya ikut menangis. Kami pun berpelukan. Aku meminta maaf kepada teman – teman semua.
   “Jangan diulangi lagi, ya!” pesan Sulli.
   Aku pun mengangguk. “Bagaimana caraku membalas rasa salahku? Aku benar – benar menyesal... kenapa dari awal aku ikut girlband ini? Kalau aku tidak ikut, mungkin... kalian akan menang tidak menanggung malu seperti sekarang.”
   “Tenang sajalaah... kita mungkin tidak dapat juara pertama, tapi aku yakin kita yang terbaik. Setidaknya kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan perlombaan dengan cara murni. Seharusnya, hasil akhirnya, harus kita terima dengan lapang dada. Mungkin, latihan kita kurang maksimal. Benar apa yang dikatakan  bu Saras. Pengalaman ini toh menjadi guru terbaik kita supaya menjadi lebih baik lagi bila tahun depan diadakan kontes yang sama, iya, gak?” ujar Sulli.

   “Setujuuu!!!!” pekik kami semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar