“Eh, lihat, Sull! Ada lomba girlband dan boyband untuk perpisahan anak kelas 9!” ujarku, berseri – seri.
“Ikut,
yuk!” ajak Sulli.
“Tapi
Sull... pasti sulit... aku yakin banyak yang lebih berbakat dari kita karena
yang mendaftar pasti banyak.” kataku menunduk, tidak yakin.
“Ayolaah...
kita tidak boleh menyerah sebelum berusaha!” Sulli menyemangatiku. “Kan
lumayan, kita bisa tunjukkan pada kakak – kakak kelas bahwa kita itu bisa
sehebat mereka!”
“Memangnya
kita hebat? Kita saja belum tentu menang.” jawabku.
“Makanya,
kita coba dulu...” jawab Sulli.
“Oke, baiklah! Mari
kita ajak Poppy, Ayezza, Aaliyah, Yuri, Dyas, Dyan, dan Alda!” ucapku, pada akhirnya.
Aku dan Sulli pun
mencari mereka, dan berbicara pada mereka di kelas.
“Teman – teman,
bagaimana jika kita
ikut lomba itu?” usulku.
“Boleh juga, tapi...
bagaimana dengan pelatihnya?” tanya Yuri.
“Apa kamu memiliki
pelatih sebelum ini, Yur?” tanyaku.
“Hmm... ada siih...
namanya bu Saras. Aku pernah berlatih dance
dengan beliau. Dan aku masih memiliki nomor handphonenya. Semoga saja nomornya masih aktif.”
jawab Yuri.
“Oke, kalau begitu,
tanya, kapan beliau bisa melatih kami. Kita latihan mulai hari ini sepulang
sekolah!” ujarku.
“HAH?! Hari ini, Krys?”
pekik semuanya.
“Ya iyalah... kapan
lagi? Waktu tuh cuma tinggal sebulan lagi.” jawabku.
“Kostum dam
aksesorisnya bagaimana?” tanya Aaliyah.
“Poppy, ibumu kan
penjahit, bagaimana kalau ibumu yang membuat kostum kami? Nanti, biar kami
patungan untuk membayar kostum itu. Bagaimana?” usulku.
“Emm... Ehm... oke,
deh!” jawab Poppy.
“Oh ya, aku ingin
kostumnya nanti seperti SNSD, atau seperti girlband Princess,
gimana?” usulku pada teman – teman.
“Up to you laah...” jawab semuanya.
Sepulang sekolah,
mereka langsung berlatih di halaman belakang rumahku.
“Satu satu... dua
dua... tiga tiga... em...”
“AUW!!! ARGH!!!” pekik
Ayezza.
Latihan terhenti.
Rupanya, Ayezza tergelincir dan menabrak Aaliyah, Poppy, Alda, dan Dyas.
Aaliyah, Poppy, Alda, Ayezza, dan Dyas pun terjatuh.
“Udah, udah! Berdiri!
Begitu aja cengeng banget siih... kita itu harus disiplin, tahu nggak?!”
ujarku, kesal.
“Nggak bisa gitu dong,
Krys... mereka kan sakit...” bela Sulli.
“Sudahlah, Sull... aku
dan teman – teman mungkin hanya butuh istirahat sebentar, kok!” kata Ayezza,
memegang lembut tangan Sulli.
Keesokkannya, bu Saras
sudah datang. Bu Saras, meminta kami berlari keliling lapangan, sit up, push up, skot jump. Benar – benar latihan yang berat! Ini
penyiksaan! Mau jadi apa sih? Udah kayak girlband
– girlband Korea gitu yang trainee-nya
berbulan – bulan, bahkan bertahun – tahun. Inikan cuma untuk iseng – isengan?
“Cukup latihannya! Bila
kalian tidak melakukan sesuatunya dari hati, tidak akan jadi maksimal. Bila
kalian tidak melakukannya demi orang lain, bagaimana hasilnya akan baik? Kalian
niat lomba nggak siih? Kalau kayak
begini cara latihannya, kalian tidak akan bisa menang! Mengerti?” tegas bu
Saras.
Kami semua terdiam,
lalu mengangguk dan menjawab, “Iya, bu.”
Setelah bu Saras
pulang. Kami masih berkumpul.
“Huh! Capek banget...
tega banget siih bu Saras, kita udah latihan keras – keras, capek – capek,
masih aja dimarahi dan dibentak – bentak. Dikira tentara apa?” ujarku pada teman – teman, karena
kesal.
“Bukannya, kata kamu,
kita harus disiplin, ya?” tanya Sulli membuatku terdiam.
Kami setiap hari berusaha latihan dengan penuh disiplin. Kami juga
membantu ibu Poppy membuat kostum untuk kami semua.
Kostum yang kami
kenakan sangat girlie dan manis.
Teman – teman menyukainya, kecuali aku.
“Aduuh... kok kostumnya
kayak gini, sih? Gimana bisa ngedance
dengan baik? Ini mah malah nyusahin buat bergerak tahu gak sih?” ujarku.
Teman – teman menatapku
dengan rasa kesal dan bingung.
“Kayak kamu bisa aja
ngebuatnya! Lagian... bukannya kamu ya yang minta dari awal kostumnya seperti
girlband – girlband zaman sekarang?” tanya Alda, sinis.
“Tapi tuh bukan
begini..., maksudku...” ucapanku dipotong Dyas.
“Ini sudah benar,
Krys... mau kayak gimana lagi? girlband masa depan? Bikin aja sendiri! Itu pun
kalau kamu bisa.” ujar Dyas.
Aku menatap Dyas dan
Alda dengan tatapan kesal. “Kayak kalian bisa!”
“Kalau bisa kenapa?”
jawab Dyas dan Alda berbarengan.
“Oke... kalau begitu...
kalian bikin aja sendiri buat kami! Dan aku pinginnya berbeda! Bukan sama kayak
gini!” jawabku sambil membanting gaun ber-rok selutut itu.
“Udah – udah...
Krystal... kita nggak punya waktu lagi buat ngukur dan ngebuatnya... memangnya
dikira kamu mudah dan cepat, ya membuatnya? Kamu kan tidak ikut bekerja
waktu itu, hargailah ibu Poppy dan Poppy yang sudah susah payah membuatnya. Dan
Alda, Dyas, jangan memperburuk suasana!” ujar Sulli menengahi.
“Huh! Bukannya kamu
membelaku! Sahabat macam apa kamu? Malah menengahi dan menceramahiku! Terserah
aku dong!” jawabku, keras kepala.
“Krystal... sahabat itu
bukan yang selalu membenarkan ucapanmu, tapi selalu menasihatimu disaat
ucapanmu salah!” jawab Ayezza.
“Diam kamu! Aku
berbicara pada Sulli! Bukan pada Cry Baby
sepertimu!” jawabku, kesal.
Sulli
terdiam kesal, sepertinya, teman – teman tahu maksudnya, semua teman langsung
menjauhiku.
Aku
berpikir keras supaya teman – teman mau memaafkanku tapi bagaimana? Aha! aku
akan buatkan mereka kue dan teh atau sirup ceri. Pasti mereka suka! Saat break latihan, aku membawa cemilan itu
ke ruang tamu.
“Teman
– teman! Silakan makan kuenya!” ujarku, ramah.
“Maaf
Krys, aku sudah kenyang.” jawab Alda.
“Maaf, aku alergi.” jawab Dyas.
“Aku
tidak lapar.” jawab Ayezza.
“Aku
tidak haus.” jawab Poppy.
“Aku
sudah bawa minum dari rumah.” jawab Yuri.
“Aku
sedang sakit flu, aku tidak boleh minum es, Krys.” jawab Aaliyah.
“Maaf, aku tidak menyukai rasanya...” jawab Sulli.
Aku
jadi kesal dan sakit hati sekali rasanya. “Udah dibaik – baikin nolak... maunya
kalian apaan siih?” ujarku.
“Tidak
enakkan kalau hasil kerjanya tidak dihargai? Apalagi kalau kita sudah baik –
baik melakukannya demi orang lain. Begitu juga yang dirasakan Poppy dan ibunya
begitu kamu menolak kostum itu. Kamu mengertikan sekarang?” sahut Sulli enteng,
dengan nada datar.
Aku
terdiam dan tidak bisa berkutik. Begini tho rasanya... Benar apa yang dikatakan
Sulli kemarin dan sekarang. Kenapa aku tak mendengarkannya?
Di hari terakhir kami
latihan... bu Saras berpesan, “Anak – anak, latihan saja tidak cukup. Kita juga
harus berusaha semaksimal mungkin, berdo’a, bekerja sama, dan saling menghargai
satu sama lain. Kalian juga harus saling peduli kepada sesama.”
Mendengar
penjelasan itu, aku terdiam. Selama ini, aku menekan teman – temanku, aku tidak
mau bekerja sama dengan teman – temanku, aku tidak menghargai teman – temanku,
aku juga tidak peduli kepada teman – temanku. Aku hanya mempedulikan diriku
sendiri. Mungkin itu yang membuat sikap Sulli berubah.
“Ada
apa, Krys?” tanya Sulli yang bingung melihatku yang sedari tadi terdiam.
“Eh,
eh... ng... enggak apa – apa kok, Sull. A... aku hanya... sedang memikirkan
sesuatu.” jawabku.
Keesokkannya
saat girlband kami tampil, aku sangat tidak bersemangat. Pikiranku melayang
entah kemana. Sehingga ada beberapa gerakannya yang salah. Sulli yang berada di
belakangku jadi bingung dengan perubahan sikapku itu.
Ada
apa ya dengan Krystal? Dari kemarin, dia berubah 180 derajat, deh! Batin Sulli.
Sayangnya, karena kesalahan fatalku itu, girlband kami jadi kalah.
Saat
berada di pintu ruang ganti, ku dengar suara teman – teman.
“Kita
kalah karena Krystal!” ujar Yuri.
“Ooh...
ada apa dengannya, ya? Dia berubah sekali.” ujar Sulli.
“Bukankah
dia yang bilang kita harus tampil sempurna? Tapi dia sendiri yang berbuat
kesalahan!” kata Aaliyah.
“Huh! Padahal kemarin – kemarin dia sudah berlagak seperti leader... tapi ternyata karena dia
sendirilah kita kalah. Leader macam
apa sih? Tidak bisa bertanggung jawab dan memegang ucapannya sendiri!” komentar
Alda.
Aku
jadi kesal dengan ucapan mereka, aku pun masuk dan langsung berucap, “Andai
saja Sulli tidak memaksaku untuk ikut audisi ini! Ini semua salahmu, Sull!”
pekikku.
“Lho,
kok jadi aku sih? Kau kan juga
menyetujuinya! kau ini seharusnya sadar akan kesalahanmu! Bukan justru
melampiaskan kekesalanmu kepada sahabatmu!” balas Sulli.
“Sudah,
sudah HENTIKAN!!!” pekik Ayezza. Membuatku dan Sulli terdiam. Aku sadar, aku
salah, seharusnya aku lebih peduli pada teman – teman.
“Ehm...
ma... maafkan aku teman – teman. Aku tahu aku salah. Aku yang membuat kita
kalah. Maafkan aku. Andai saja aku tidak egois dan lebih mempedulikan kalian,
pasti tidak akan berakhir begini. Maafkan aku...” tangisku. Membuat semuanya
ikut menangis. Kami pun berpelukan. Aku meminta maaf kepada teman – teman
semua.
“Jangan
diulangi lagi, ya!” pesan Sulli.
Aku
pun mengangguk. “Bagaimana caraku membalas rasa salahku? Aku benar – benar
menyesal... kenapa dari awal aku ikut girlband ini? Kalau aku tidak ikut,
mungkin... kalian akan menang tidak menanggung malu seperti sekarang.”
“Tenang
sajalaah... kita mungkin tidak dapat juara pertama, tapi aku yakin kita yang terbaik.
Setidaknya kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan perlombaan dengan cara murni.
Seharusnya, hasil akhirnya, harus kita terima dengan lapang dada. Mungkin,
latihan kita kurang maksimal. Benar apa yang dikatakan bu Saras. Pengalaman ini toh menjadi guru
terbaik kita supaya menjadi lebih baik lagi bila tahun depan diadakan kontes
yang sama, iya, gak?” ujar Sulli.
“Setujuuu!!!!”
pekik kami semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar