Siang
ini aku pulang sekolah dengan semangat. Sesampainya di rumah,
“Assalamualaikum...” sapaku.
“Walaikumsalam...
eh, kakak sudah pulang ya?” sahut ibu, di rumah aku memang dipanggil dengan
sebutan kakak, sementara itu Ana dipanggil dengan sebutan adik.
“Iya
bu.” jawabku. Aku segera membuka sepatu taliku dan menaruhnya di luar. Aku
masuk ke dalam, menuju ibuku yang tengah menjahit pesanan pelanggannya. Aku
mencium tangan ibuku.
“Bagaimana
sekolahmu hari ini, kak?” tanya ibu.
“Menyenangkan!
Tadi, ulangan Sosial kakak dapat 10, bu!” kataku sambil membuka tas dan
menyodorkan kertas hasil ulanganku tadi.
“Alhamdulillah...
nah kakak, cepat ganti baju dan bantu ibu ya!” pinta ibu.
“Iya
bu.” jawabku.
Aku
segera ganti baju, seusai ganti baju, aku membantu ibu hingga sore, maklum,
pesanannya sangat banyak.
“Bu,
boleh gak nanti kakak ikut ayah mengantar roti?” tanyaku.
“Ibu
sih membolehkan, tapi ada PR gak buat besok? Kalau ada, kerjakan dulu PR-nya,
baru boleh.” jawab ibu.
Aku
berpikir – pikir... Hmm... ada PR gak ya? Batinku.
Huh!
Ada PR matematika lagi! 20 soal! Tidak mungkin aku bisa menyelesaikannnya
dengan cepat. batinku. “Ya sudah, besok saja deh! Kakak ikut ayah mengantar
roti. Soalnya ada banyak PR bu, buat besok.” kataku.
“Besok
ayah tidak mengantar roti, minggu depan baru ayah akan menarik roti dan
menukarnya dengan roti yang baru.” ujar ibu.
Hh...
ya sudahlah... mungkin memang aku tidak boleh ikut. Batinku. Aku tak berani
bilang apa – apa lagi. Dengan tertunduk lesu, aku mengambil buku matematikaku
dan membawanya masuk ke dalam kamarku. Memang, biasanya kalau mengerjakan PR,
aku selalu di dalam kamar, sebab, terkadang aku suka terganggu dengan suara TV
yang dinyalakan Ana.
PR
matematikanya cukup sulit, soal cerita. Sehingga aku harus benar – benar
memeras otakku.
Baru
mengerjakan hingga nomer 5 saja aku sudah kecapekan dan malas menghitungnya.
Ingin rasanya mengambil kalkulator dan menghitungnya. Tentu saja hal itu tidak
ku lakukan. Tiba – tiba ada yang mengetuk pintu. Rupanya ayah yang mengetuk
pintu.
“Kakak
mau ikut ayah mengantar roti tidak?” tanya ayah.
Aku
menggeleng. “Maaf yah, bukannya tidak mau. Kakak siih... mau banget, tapi, PR
Kakak belum selesai, dan kata ibu, kalau PR-nya belum selesai, Kakak gak boleh ikut
ayah.” jawabku jujur.
“Oh
ya sudah, tak apa – apa sayang. Bukankah
mengerjakan PR adalah kewajibanmu?” tanya ayah.
Aku
mengangguk.
“Ya
sudah, ayah pergi dulu ya, kak!” ucap ayah.
Jadilah
hari itu aku tidak ikut pergi bersama ayah mengantar roti. Adikku, Ana yang
menggantikanku.
Aku
baru selesai mengerjakan PR pukul 19.00 malam. Bayangkan! Aku mengerjakan PR
matematika dari jam 17.00 hingga jam 19.00 hanya untuk 20 soal saja butuh 2
jam. Aku merebahkan tubuhku di atas kasurku yang empuk. Hh... akhirnya selesai
juga. Di saat itu, ibu masuk ke kamarku.
“Kakak,
sudah selesai mengerjakan PR-nya?” tanya ibu.
“Sudah
bu.” jawabku singkat.
“Kalau
begitu makan malam yuk!” ajak ibu.
“Iya
bu, nanti kakak menyusul. Kakak membereskan buku dan peralatan tulis kakak dulu
ya! Sekaligus menyiapkan buku pelajaran yang akan dibawa besok.” jawabku.
“Ooh...
ya sudah kalau begitu.” kata ibu lalu keluar dari kamarku dan menutup pintu
kamar.
Seusai
membereskan buku dan peralatan tulis, juga menyiapkan buku pelajaran yang akan
dibawa besok, aku bergegas menuju ruang makan. Disana ayah, ibu, dan Ana sudah
menunggu.
Menu
makan malam hari ini adalah sayur lodeh, ikan teri, tempe goreng, dan sambal.
Hmm... nikmat sekali. Seperti biasa, seusai makan, kami bercakap – cakap di ruang makan.
“Kak,
tadi saat aku ikut ayah mengantar roti, ada seorang pengemis tua di pinggir
jalan. Dia mengadahkan tangannya. Karena kami tidak punya roti dan uang sepeser pun. Kami tidak
memberinya apa – apa. Kasihan sekali pengemis itu. Dia pasti sangat kelaparan.
Tapi... kenapa ya tidak ada orang yang peduli dengannya? Keluarganya gitu...”
kata Ana, yang berbeda 2 tahun dibawahku.
“Ya,
kasihan sekali.” kataku, iba.
“Oleh
karena itu kita harus bersyukur kita masih bisa makan dan memiliki tempat tinggal.
Walau pun ini hanya rumah kontrakan.” jelas ayah,
“Iya
yah!” jawab aku dan adikku, serempak.
Jum’at
ini, tidak ada PR yang di berikan oleh guruku, yeay! pasti sangat menyenangkan!
Selain tidak perlu capek – capek mengerjakan PR dan memeras otak. Itu berarti
lusa aku boleh menemani ayah mengantarkan roti. Pikirku senang. Sambil berjalan
pulang ke rumah. Sesampainya di rumah...
“Assalamualaikum...”
sapaku.
“Walaikumsalam...”
sahut ibu.
Seperti
biasa aku melepaskan sepatuku dan menaruhnya di rak sepatu depan rumah dan
segera menghampiri ibuku. Aku cium tangan beliau.
“Bagaimana
sekolahmu hari ini, kak?” tanya ibu, seperti biasa.
“Menyenangkan!
Lebih menyenangkannya lagi, tidak ada PR! Berarti kakak boleh ikut dong ayah
mengantar roti?” ujarku gembira.
“Hmm...
tentu boleh. Oh ya, sebaiknya kakak cepat ganti baju, makan siang, dan segera
bantu ibu.” perintah ibu.
“Siip!!!”
jawabku semangat.
“Ada
apa? Eh, kakak sudah pulang ya?” tanya Ana yang keluar dari kamarnya dengan
membawa boneka lucu yang diberi nama Sally.
“Hai
Dik! Minggu ini, giliran kakak ya yang pergi bersama ayah mengantar roti!
Tentunya adik tidak keberatan kan?” tanyaku.
Ana
hanya menggeleng.
Tanpa
menunggu apa – apa lagi dengan cepat aku mengganti baju sekolahku dengan baju
rumah, lalu makan siang dengan balado kentang dan telur. Seusai makan, aku
segera membantu ibu seperti biasa, hingga sore.
Hari
minggu telah tiba, sungguh, malam sabtu dan malam minggu kemarin aku tidak bisa
tidur karena membayangkan ingin menemani ayah dan penasaran melihat pengemis tua
yang diceritakan Ana kemarin.
Pagi
hingga siang aku melakukan aktifitas seperti biasa, lalu, sorenya, aku bersiap
menunggu ayah pulang dari pabrik roti untuk menjemputku dan kembali pergi
mengantar roti. Hmm... ayah lama sekali. Ayah pun akhirnya datang juga.
“Ayah!
Aku boleh ikut ya mengantar roti!” kataku.
“Hmm...
baiklah, selama ibu mengizinkan. Tapi, ada PR gak?” tanya ayah.
Aku
menggeleng.
“Ya
sudah.” jawab ayah. “Ibu... adik... ayah pergi dulu ya!” pamit ayah.
“Iya
yah...” jawab ibu.
Aku
pun segera berangkat. Beberapa toko sudah di hampiri tinggal toko terakhir. Di
depan toko itulah aku melihat pengemis tua yang di ceritakan Ana kemarin.
“Yah,
pengemis itu ya yang dimaksud Ana?” tanyaku.
“Mana?
Oh, iya. Dia memang tidak punya rumah. Dan kerjaannya hanya mengemis setiap
hari. Kasihan ya dia.” jawab ayah.
Ayah
turun dari motor dan membawa 5 buah roti. Dan menaruhnya di toko sambil
bercakap – cakap sebentar dengan sang pemilik toko. Ayah pun keluar dari toko.
“Mari
kita pulang! Tugas kita sudah selesai! Lagi pula sudah mahgrib.” ajak ayah.
“Yah,
rotinya kok tinggal satu?” tanyaku sambil membuka kotak. Di dalam kotak itu di
beri pembatas. Roti yang mendekati kadaluwarsa
ditaruh di bagian bawah. Sementara yang atas yang roti baru.
“Oh,
iya. Memang tadi pabriknya kelebihan mencetak. Daripada dibuang, mereka
memberikannya ke ayah untuk di makan keluarga kita.” jawab ayah.
“Yah,
boleh gak kakak kasih roti ini ke pengemis itu?” tanyaku saking ibanya sambil
menunjuk ke arah pengemis tersebut. Sebab, dari tadi aku selalu memperhatikan
pengemis itu.
“Hmm...
bagaimana ya?” ayah tampak bimbang.
“Please ya yah... kasihan dia... dia
tidak bisa makan...” rengekku.
“Kan,
kita masih bisa makan yah! Bukankah ayah sendiri yang bilang kalau kita harus
bersyukur masih bisa makan? Oleh karena itu, kita yang masih bisa, harus
memberi dan menolong yang tidak bisa. Iya kan?” tambahku mengingatkan ayah.
“Hmm...
benar juga. Ya sudah, tolong kasih roti ini ke pengemis itu.” perintah ayah.
“Terimakasih
yah!” jawabku.
Aku
segera membuka kotak roti, mengambil roti yang tinggal satu tersebut dan
berlari menghampiri pengemis itu.
“Nek...”
ucapku.
“Eh,
ng... Cyntia..kau kah itu?.”
jawab nenek itu.
“Cyntia?
Siapa itu? Namaku Farah, nek.” ujarku, bingung.
“Eh,
ng... maaf, maaf. Nenek hanya teringat dengan cucu nenek yang meninggal 7 tahun
yang lalu. Dia... mirip denganmu, nak.” jawab nenek itu.
“Kalau
begitu, terimalah roti dariku ini. Semoga dengan ini, nenek tidak kelaparan lagi. Makan ya nek..” kataku, seraya
tersenyum.
Nenek
itu menatapku dengan mata berkaca – kaca. “Benarkah ini, nak?” tanya nenek itu
tak percaya.
Aku
mengangguk.
“Te...
te... terimakasih nak...” jawab nenek itu sambil menangis terharu. Akhirnya, nenek itu makan dengan lahap. Di
tengah keasyikkannya menyantap roti tersebut, nenek itu bercerita tentang
cucunya yang amat ia cintai.
“Maaf
nek, apa nenek tidak memiliki keluarga?” tanyaku, takut menyinggung.
“Nenek
tinggal sebatang kara, suami nenek terkena penyakit jantung dan paru – paru,
lalu meninggal, anak nenek hanya semata wayang meninggal akibat kecelakaan.
Satu – satunya keluarga nenek hanya Cyntia, tapi, Cyntia sudah meninggal akibat
tifus. Nenek anak semata wayang. Orangtua nenek juga sudah meninggal.” cerita nenek
itu, sendu.
Tak
terasa air mata meleleh di pipiku. Sungguh malang nasib nenek ini hidup benar-benar sebatang kara.
Tak habis-habisnya aku
bersyukur karena memiliki keluarga yang masih lengkap dan peduli terhadapku.
Tidak seperti keluarga nenek ini.
Setelah
itu, aku menghapus air mataku dan segera pamit pada sang nenek.
“Terimakasih
ya, nak!” kata nenek itu tersenyum.
“Iya
nek, Farah pulang dulu, lain waktu, Farah akan kembali mengunjungi nenek kok!”
ujarku.
Sesampainya
di rumah, ku ceritakan hal yang baru ku alami tersebut ke Ana dan ibu. Mereka
senang mendengarnya.
“Rupanya,
kakak ini bukan hanya teori saja. Tapi dalam kehidupan bermasyarakat, kakak
memang pantas mendapat ulangan Sosial 10.” puji ibu. “Ibu bangga punya anak
seperti kalian.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar