Minggu, 05 Oktober 2014

Diary Rinda Part 3

   “Woi teman – teman!!! Mau baca gak tentang pertama kali kita bertemu di sekolah ini?” ajak Rinda pada teman – temannya yang sedang asyik memakan bakso.

   “Ow, telrcseilreah
   “Duuh! Habisin dulu baksonya! Baru aku ngerti bahasa kalian!” kata Rinda.
   “cseiptoumnggudoulouyeae.”
   Selesai makan bakso…
   “Baca di mushola aja yuk! Udaranyakan lagi sejuk – sejuknya nih!” usul Gladis.
   “I’m agree with you!” kata semua serempak. Lalu, mereka berjalan menuju mushola.          Sesampainya di mushola…

I Have New BFF

   Saat aku baru pertama kalinya masuk sekolah ini, aku sedikit kikuk. Aku tidak punya seorang teman pun yang ada di sekolah itu. Aku pun tidak menuju ke kelas, aku hanya berdiri di tengah anak tangga, termenung, terdiam, berfikir dan… terbengong – bengong.
   Tiba – tiba, mobil mercedes berwarna hitam berhenti di depan sekolah. Aku hanya memperhatikannya sambil duduk. Tiba – tiba, keluarlah seorang anak kecil seumuranku yang tampak lucu dan periang. lalu dia menaiki anak tangga. Aku hanya memperhatikannya saja dan segera menaiki tangga mengikutinya
   Saat sedang berjalan tanpa semangat, ada yang mengkagetkanku.
   “Daarrr!!!!!” rupanya, anak yang turun dari mobil mercedes berwarna hitam tadi.
   “Eh, kamu gak kaget ya? sori deh Rind! Aku… Cuma mau liat kamu tersenyum habisnya… dari tadi aku liat… kamu… manyun terus sih! Semangat dong!” kata anak itu.
   “Ya, semangat.” Jawabku masih lemas.
   “Kamu kenapa sih? Sakit? Kan enak, punya teman baru, sekolah baru, guru baru dan sebagainya!” ujar anak itu lagi.
   “Bukannya, aku males, habisnya… ada si… Gorila itu!” jawabku.
   “Ooh, Gloria… emang siih… pas pertama ketemu aja! Dia sudah angkuh dan ganjen.” Kata anak itu lagi.
   “Lho, kok kamu tahu sih?” tanyaku heran.
   “Ng… tentu… a… aku…” belum selesai anak itu bicara banyak orang berbisik tapi, bisikannya tampak sedikit terdengar.
   “Eh, itukan… si Lula. anaknya yang pendiri dan pemilik sekolah ini! Tapi, katanya, dia tampak bijaksana, baik, dan pintar lho…”
   “Ooh, kamu namanya Lula ya? anaknya pendiri dan pemilik sekolah ini.” Kataku.
   “Hehehe… iya, kok kamu tahu?” tanya Lula.
   “Hehehe… ada deh!” jawabku.
   “Aah… Rinda mah! Eh, ke kelas yuk! Katanya ayahku, aku sekelas sama Rinda Mutiara Murni, namamu kan?” ajaknya.
   “Eh, e… ng… i… iya Lul.” Kataku.
   Semenjak aku bersahabat dengan Lula, aku mulai bersahabat dengan yang lain, seperti, Fatimah dan Gladis. Karena, saat aku bersahabat dengan Lula, Lula berjanji akan mencarikan sahabat dan teman terbaik untukku dan dirinya. Berkat dia, aku mempunyai banyak teman yang baik dan paling mengerti aku di sekolah mungkin lebih tepat yang sebaya denganku. Oh ya, selain itu, aku juga terlindungi dari Gorila, eh, Gloria. Hehehe…
   Tapi sayangnya, tidak setiap tahun aku sekelas dengan Lula. Di kelas 2, aku sekelas dengan Gladis. Di kelas 3 sama Fatimah. Di kelas 4 ini aku berbeda kelas dengan Lula, Fatimah dan Gladis. Fatimah dan Gladis sekelas. Tapi 4 tahun ini, aku selalu sekelas dengan Gorila and the gank. Males deeh mbok... hehehe...
   Thanks,
Rinda Mutiara Murni

   “Ciah… asyik buanget ceritanya!” komentar Lula. Rinda hanya tersenyum malu.
   “Tapi kok, gak ada cerita waktu kamu dan Lula sahabatan sama kita ya?” tanya Gladis.
   “Caelah… gak papa kali, disinikan tulisannya ‘Karena, saat aku bersahabat dengan Lula, Lula berjanji akan mencarikan sahabat dan teman terbaik untukku dan dirinya. Berkat dia, aku mempunyai banyak teman yang baik dan paling mengerti aku’ berarti, menurut Lula, kita adalah teman yang baik. Iya gak?” tanya Fatimah.
   “Iya siih…” jawab Gladis.
   “Eh, gak begitu juga. Itu juga menurutkukan? Gak tahu menurut ayahku bagaimana. Pendapat orangkan berbeda.” Lula merendah malu seperti biasa.
   “Lagipula, kalau aku ceritain seluruhnya pasti kebanyakkan, ini aja sudah menguras 15 menit membacanya.” Kata Rinda.
Lalu mereka tertawa bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar