“Woi
teman – teman!!! Mau baca gak tentang pertama kali kita bertemu di sekolah
ini?” ajak Rinda pada teman – temannya yang sedang asyik memakan bakso.
“Ow,
telrcseilreah”
“Duuh!
Habisin dulu baksonya! Baru aku ngerti bahasa kalian!” kata Rinda.
“cseiptoumnggudoulouyeae.”
Selesai
makan bakso…
“Baca
di mushola aja yuk! Udaranyakan lagi sejuk – sejuknya nih!” usul Gladis.
“I’m
agree with you!” kata semua serempak. Lalu, mereka berjalan menuju mushola. Sesampainya di mushola…
I Have
New BFF
Saat
aku baru pertama kalinya masuk sekolah ini, aku sedikit kikuk. Aku tidak punya
seorang teman pun yang ada di sekolah itu. Aku pun tidak menuju ke kelas, aku
hanya berdiri di tengah anak tangga, termenung, terdiam, berfikir dan…
terbengong – bengong.
Tiba –
tiba, mobil mercedes berwarna hitam berhenti di depan sekolah. Aku hanya
memperhatikannya sambil duduk. Tiba – tiba, keluarlah seorang anak kecil
seumuranku yang tampak lucu dan periang. lalu dia menaiki anak tangga. Aku
hanya memperhatikannya saja dan segera menaiki tangga mengikutinya
Saat
sedang berjalan tanpa semangat, ada yang mengkagetkanku.
“Daarrr!!!!!”
rupanya, anak yang turun dari mobil mercedes berwarna hitam tadi.
“Eh,
kamu gak kaget ya? sori deh Rind! Aku… Cuma mau liat kamu tersenyum habisnya…
dari tadi aku liat… kamu… manyun terus sih! Semangat dong!” kata anak itu.
“Ya,
semangat.” Jawabku masih lemas.
“Kamu
kenapa sih? Sakit? Kan enak, punya teman baru, sekolah baru, guru baru dan
sebagainya!” ujar anak itu lagi.
“Bukannya,
aku males, habisnya… ada si… Gorila itu!” jawabku.
“Ooh,
Gloria… emang siih… pas pertama ketemu aja! Dia sudah angkuh dan ganjen.” Kata
anak itu lagi.
“Lho,
kok kamu tahu sih?” tanyaku heran.
“Ng…
tentu… a… aku…” belum selesai anak itu bicara banyak orang berbisik tapi,
bisikannya tampak sedikit terdengar.
“Eh,
itukan… si Lula. anaknya yang pendiri dan pemilik sekolah ini! Tapi, katanya,
dia tampak bijaksana, baik, dan pintar lho…”
“Ooh,
kamu namanya Lula ya? anaknya pendiri dan pemilik sekolah ini.” Kataku.
“Hehehe…
iya, kok kamu tahu?” tanya Lula.
“Hehehe…
ada deh!” jawabku.
“Aah…
Rinda mah! Eh, ke kelas yuk! Katanya ayahku, aku sekelas sama Rinda Mutiara
Murni, namamu kan?” ajaknya.
“Eh, e…
ng… i… iya Lul.”
Kataku.
Semenjak
aku bersahabat dengan Lula, aku mulai bersahabat dengan yang lain, seperti,
Fatimah dan Gladis. Karena, saat aku bersahabat dengan Lula, Lula berjanji akan
mencarikan sahabat dan teman terbaik untukku dan dirinya. Berkat dia, aku
mempunyai banyak teman yang baik dan paling mengerti aku di sekolah mungkin
lebih tepat yang sebaya denganku. Oh ya, selain itu, aku juga terlindungi dari
Gorila, eh, Gloria. Hehehe…
Tapi
sayangnya, tidak setiap tahun aku sekelas dengan Lula. Di kelas 2, aku sekelas
dengan Gladis. Di kelas 3 sama Fatimah. Di kelas 4 ini aku berbeda kelas dengan
Lula, Fatimah dan Gladis. Fatimah dan Gladis sekelas. Tapi 4 tahun ini, aku
selalu sekelas dengan Gorila and the gank. Males deeh mbok... hehehe...
Thanks,
Rinda Mutiara Murni
“Ciah…
asyik buanget ceritanya!” komentar Lula. Rinda hanya tersenyum malu.
“Tapi
kok, gak ada cerita waktu kamu dan Lula sahabatan sama kita ya?” tanya Gladis.
“Caelah…
gak papa kali, disinikan tulisannya ‘Karena,
saat aku bersahabat dengan Lula, Lula berjanji akan mencarikan sahabat dan
teman terbaik untukku dan dirinya. Berkat dia, aku mempunyai banyak teman yang
baik dan paling mengerti aku’ berarti, menurut Lula, kita adalah teman yang
baik. Iya gak?” tanya Fatimah.
“Iya
siih…” jawab Gladis.
“Eh,
gak begitu juga. Itu juga menurutkukan? Gak tahu menurut ayahku bagaimana.
Pendapat orangkan berbeda.” Lula merendah malu seperti biasa.
“Lagipula,
kalau aku ceritain seluruhnya pasti kebanyakkan, ini aja sudah menguras 15
menit membacanya.” Kata Rinda.
Lalu mereka tertawa
bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar