Pada jam istirahat, Rinda keluar kelas,
karena bel tanda istirahat sudah berbunyi dari tadi. Tiba – tiba… Seseorang
menarik tangan Rinda.
“Eh,
Lula… ngapain kamu?” tanya Rinda heran.
“Sst…
follow me!” ujarnya.
Rinda
pun mengikutnya, sesampainya Rinda dan Lula di depan kelas 4-C, mereka melihat
sesuatu dan tertawa. Rupanya, Fatimah dan Gladis bertengkar lagi sehingga
mereka tak sadar bahwa bel istirahat sudah berbunyi dari tadi.
Lula
lalu mengendap – endap
memasuki ruang kelas 4-C. Semua murid yang masih di kelas 4-C hanya cekikikan
menahan tawa. Tiba – tiba…
“Daarrr!!!!!”
“Astagfirullah…”
kata Fatimah dan Gladis berbarengan karena kaget.
“Hahaha…
hehehe… makanya! Jangan bertengkar melulu! Liat! Sudah jam berapa! Sudah
istirahat dari tadi tahu!” ujar Lula.
“Astagfirullah…
aku lupa La, thank you ya!” ujar Fatimah sambil menepuk keningnya.
“Pantesan!
Dari tadi kelas perasaan udah sepi deh! Hehehe...” kata Gladis.
“Tenang
dong sis… nih! Aku sudah beliin es teh manis buat kalian! Gratis! Karena aku
yang beliin.” Ujar Rinda tiba – tiba.
“Thanks
ya sis…” kata Fatimah dan Gladis. Lagi – lagi bareng.
“Kok
aku gak dibeliin sih?” tanya Lula bercanda.
“Kata
siapa? Emangnya, aku ini tipe cewek yang lupa sama sahabatnya sendiri?” tanya Rinda.
“Terus,
mana buktinya?” Lula balik bertanya.
“Nih!
Ambillah!” ujar Rinda.
“Oow…
Rinda kamu memang sahabatku!” kata Lula sambil memeluk Rinda.
“Jangan
lupa terimakasihnya!” ujar Fatimah.
“Eh,
eh, iya. Makasih ya Rind.”
“Masama.
Kita ke pohon beringin yuk! Sambil baca diary-ku. Mau pada baca gak?” usul
Rinda.
“Mau
dong…” jawab semuanya serempak.
“Okay,
let’s go girls.” Ajak Rinda.
Sesampainya
di pohon beringin, mereka duduk dan mulai membaca diary Rinda.
Masa
Laluku dengan Gloria
Dear
Diary, aku punya teman namanya Gloria. Dia itu sebelumnya adalah sahabat
dekatku. Menurut mamaku, Gloria anak yang manis dan periang. Aku dan dia kemana
– mana selalu bersama. Tapi, hal buruk telah terjadi antara kami. Bukan karena
tersinggung namun hanya karena iri.
Waktu
itu, mamaku memasukkanku ke dalam
sanggar seni menari. Di situ
rupanya jauh sebelum aku masuk ke dalam sanggar itu Gloria sudah masuk menjadi
member sanggar itu. Aku pun tampak senang. Ku pikir, aku akan bersama Gloria
belajar bersama.
Begitu
juga Gloria. Ia tampak senang. Namun, rupanya dia tampak angkuh saat aku baru
masuk sanggar itu. Ia berkata bahwa dirinya yang terbaik di dalam sanggar itu.
Aku siih… gak iri. Aku justru belajar banyak dari pengalaman dan pastinya dari
Gloria juga.
Di sanggar itu, ternyata setiap
bulannya akan diadakan seleksi. Siapa yang menari terbaik dan terindah akan
diperbolehkan membantu guru sanggar dalam mengajar teman – temannya dan akan
mengikuti banyak lomba.
Aku
tampak senang, aku optimis akan menjadi yang terbaik tapi, aku tidak luput dari
kata berusaha dan berdo’a. Sebaliknya, Gloria sudah yakin akan mendapatkan penghargaan itu lagi dan meremehkan
seleksi itu. Ia tidak latihan dan tidak berdo’a malahan tampak semakin angkuh.
Akhirnya,
hari penilaian tiba. Saat aku menunjukkan bakat menariku, semua bertepuk
tangan. Dan… akhirnya, tibalah saatnya guru sanggar menari mengumumkan siapa
yang akan menjadi murid teladan bulan ini. Dan pemilihan itu jatuh kepadaku.
Aku tampak senang, namun tidak sombong. Semua bertepuk tangan, kecuali Gloria.
Ia hanya cemberut kesal.
Mulai
sejak itu, Gloria memusuhiku. Katanya, aku berubah dan sebagainya namun, aku
tidak menghiraukannya. Karena aku yakin, ia hanya iri padaku dan cepat atau
lambat semua penderitaan itu akan berakhir.
Untung
saja, masih ada teman yang mau bermain denganku. Malahan sangat banyak, jadi,
aku tidak kesepian lagi dan tidak terlalu memikirkan Gloria. Walau, akhirnya
aku dan Gloria selalu satu kelas.
Namun,
karena merasa tidak enak pada Gloria, akhirnya, aku memutuskan untuk keluar
dari sanggar itu dan masuk ke sanggar tari yang lain.
Thanks
Rinda Mutiara Murni
“Sungguh
menyebalkan sekali Gloria itu!” komentar Gladis, tangannya mengepal.
“Ya,
ternyata dari dulu dia tidak pernah berubah dan tidak ada niat sedikit pun
untuk berubah!” komentar Fatimah.
“Aku
setuju dengan kalian berdua!” ucap Lula bangkit dari rerumputan yang dari tadi
memang didudukinya.
“Hei!!!
Sudahlah kawan… inikan… pertengkaranku! Gak usah diambil hatilah… lagipula… kan
kita tidak baik balas dendam.” Ujar Rinda enteng.
“Iya
sih Rind…” ujar Lula lalu duduk lagi.
“Pokoknya
Rind, kalau ada apa – apa, masalah kamu dengan Gloria! Bilang saja ke kami!
Kami akan menyelesaikannya!” usul Gladis.
“Ya,
aku setuju Dis!” tambah Fatimah.
“Ya,
ya, ya, teman – teman… makasih ya atas dukungannya. Tapi… aku tidak apa – apa
kok! Kalau ada masalah yang tidak bisa ku pecahkan sendiri, baru
aku akan bercerita pada
kalian.” kata Rinda.
“Eh,
kayaknya… bel masuk kelas sudah berbunyi deh!” kata Lula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar