Minggu, 05 Oktober 2014

Diary Rinda Part 1

  Pada jam istirahat, Rinda keluar kelas, karena bel tanda istirahat sudah berbunyi dari tadi. Tiba – tiba… Seseorang menarik tangan Rinda.

   “Eh, Lula… ngapain kamu?” tanya Rinda heran.
   “Sst… follow me!” ujarnya.
   Rinda pun mengikutnya, sesampainya Rinda dan Lula di depan kelas 4-C, mereka melihat sesuatu dan tertawa. Rupanya, Fatimah dan Gladis bertengkar lagi sehingga mereka tak sadar bahwa bel istirahat sudah berbunyi dari tadi.
   Lula lalu mengendap – endap memasuki ruang kelas 4-C. Semua murid yang masih di kelas 4-C hanya cekikikan menahan tawa. Tiba – tiba…
   “Daarrr!!!!!”
   “Astagfirullah…” kata Fatimah dan Gladis berbarengan karena kaget.
   “Hahaha… hehehe… makanya! Jangan bertengkar melulu! Liat! Sudah jam berapa! Sudah istirahat dari tadi tahu!” ujar Lula.
   “Astagfirullah… aku lupa La, thank you ya!” ujar Fatimah sambil menepuk keningnya.
   “Pantesan! Dari tadi kelas perasaan udah sepi deh! Hehehe...” kata Gladis.
   “Tenang dong sis… nih! Aku sudah beliin es teh manis buat kalian! Gratis! Karena aku yang beliin.” Ujar Rinda tiba – tiba.
   “Thanks ya sis…” kata Fatimah dan Gladis. Lagi – lagi bareng.
   “Kok aku gak dibeliin sih?” tanya Lula bercanda.
   “Kata siapa? Emangnya, aku ini tipe cewek yang lupa sama sahabatnya sendiri?” tanya Rinda.
   “Terus, mana buktinya?” Lula balik bertanya.
   “Nih! Ambillah!” ujar Rinda.
   “Oow… Rinda kamu memang sahabatku!” kata Lula sambil memeluk Rinda.
   “Jangan lupa terimakasihnya!” ujar Fatimah.
   “Eh, eh, iya. Makasih ya Rind.”
   “Masama. Kita ke pohon beringin yuk! Sambil baca diary-ku. Mau pada baca gak?” usul Rinda.
   “Mau dong…” jawab semuanya serempak.
   “Okay, let’s go girls.” Ajak Rinda.
   Sesampainya di pohon beringin, mereka duduk dan mulai membaca diary Rinda.

Masa Laluku dengan Gloria

   Dear Diary, aku punya teman namanya Gloria. Dia itu sebelumnya adalah sahabat dekatku. Menurut mamaku, Gloria anak yang manis dan periang. Aku dan dia kemana – mana selalu bersama. Tapi, hal buruk telah terjadi antara kami. Bukan karena tersinggung namun hanya karena iri.
   Waktu itu, mamaku memasukkanku ke dalam sanggar seni menari. Di situ rupanya jauh sebelum aku masuk ke dalam sanggar itu Gloria sudah masuk menjadi member sanggar itu. Aku pun tampak senang. Ku pikir, aku akan bersama Gloria belajar bersama.
   Begitu juga Gloria. Ia tampak senang. Namun, rupanya dia tampak angkuh saat aku baru masuk sanggar itu. Ia berkata bahwa dirinya yang terbaik di dalam sanggar itu. Aku siih… gak iri. Aku justru belajar banyak dari pengalaman dan pastinya dari Gloria juga.
   Di sanggar itu, ternyata setiap bulannya akan diadakan seleksi. Siapa yang menari terbaik dan terindah akan diperbolehkan membantu guru sanggar dalam mengajar teman – temannya dan akan mengikuti banyak lomba.
   Aku tampak senang, aku optimis akan menjadi yang terbaik tapi, aku tidak luput dari kata berusaha dan berdo’a. Sebaliknya, Gloria sudah yakin akan mendapatkan penghargaan itu lagi dan meremehkan seleksi itu. Ia tidak latihan dan tidak berdo’a malahan tampak semakin angkuh.
   Akhirnya, hari penilaian tiba. Saat aku menunjukkan bakat menariku, semua bertepuk tangan. Dan… akhirnya, tibalah saatnya guru sanggar menari mengumumkan siapa yang akan menjadi murid teladan bulan ini. Dan pemilihan itu jatuh kepadaku. Aku tampak senang, namun tidak sombong. Semua bertepuk tangan, kecuali Gloria. Ia hanya cemberut kesal.
   Mulai sejak itu, Gloria memusuhiku. Katanya, aku berubah dan sebagainya namun, aku tidak menghiraukannya. Karena aku yakin, ia hanya iri padaku dan cepat atau lambat semua penderitaan itu akan berakhir.
   Untung saja, masih ada teman yang mau bermain denganku. Malahan sangat banyak, jadi, aku tidak kesepian lagi dan tidak terlalu memikirkan Gloria. Walau, akhirnya aku dan Gloria selalu satu kelas.
   Namun, karena merasa tidak enak pada Gloria, akhirnya, aku memutuskan untuk keluar dari sanggar itu dan masuk ke sanggar tari yang lain.
   Thanks
Rinda Mutiara Murni

   “Sungguh menyebalkan sekali Gloria itu!” komentar Gladis, tangannya mengepal.
   “Ya, ternyata dari dulu dia tidak pernah berubah dan tidak ada niat sedikit pun untuk berubah!” komentar Fatimah.
   “Aku setuju dengan kalian berdua!” ucap Lula bangkit dari rerumputan yang dari tadi memang didudukinya.
   “Hei!!! Sudahlah kawan… inikan… pertengkaranku! Gak usah diambil hatilah… lagipula… kan kita tidak baik balas dendam.” Ujar Rinda enteng.
   “Iya sih Rind…” ujar Lula lalu duduk lagi.
   “Pokoknya Rind, kalau ada apa – apa, masalah kamu dengan Gloria! Bilang saja ke kami! Kami akan menyelesaikannya!” usul Gladis.
   “Ya, aku setuju Dis!” tambah Fatimah.
   “Ya, ya, ya, teman – teman… makasih ya atas dukungannya. Tapi… aku tidak apa – apa kok! Kalau ada masalah yang tidak bisa ku pecahkan sendiri, baru aku akan bercerita pada kalian.” kata Rinda.

   “Eh, kayaknya… bel masuk kelas sudah berbunyi deh!” kata Lula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar