Minggu, 05 Oktober 2014

Diary Rinda Part 8

   “Eh Rind, teman laki yang paling dekat denganmu siapa?” tanya Lula.
   “Emm... siapa ya? Ng... mungkin Lucky!” jawab Rinda.
   “Emangnya kenapa?” tanya Gladis.
   “Yaaa... soalnya... baca aja deh Diary-ku halaman 179! Kalian akan tahu jawabannya!” jawab Rinda.

   Penasarankan dengan isi diarynya Rinda mengenai Lucky? Makanya, simak ya isi diarynya!

The Boys

   Dear Diary, Hari ini adalah hari teranehku seumur hidup. Sebenarnya siih... tidak begitu aneh. Hanya saja, ternyata Lucky ingin berteman dengan anak – anak perempuan.
Pagi ini, aku berjalan menuju kelas melalui koridor sekolah. Aku melihat Lucky seperti dimarah – marahi oleh anak – anak laki.
   Karena iba melihat Lucky yang dari tadi di bentak – bentak, dan tak jarang di pukul, aku pun menghampiri mereka.
   “Eh, udah – udah! Pergi sana! Ngapain sih pagi – pagi udah bikin rusuh aja! Berisik tahu! Kalian gak lihat? Kasihan tahu si Lucky kalian marah – marahin!” belaku sambil mengusir anak–anak laki.
   Anak – anak laki pada bubaran, sebelum bubar, Rico ketua geng anak cowok berkata: “Ooh... jadi temanmu sekarang cewek? Jadi banci aja sekalian! Besok pakai rok sana! Lihat aja kamu Lucky.” ancam Rico.
   “Eh, udah sana! Pergi!” belaku sambil tetap mengusir Rico karena jengkel.
   “Eh, diam kamu Rinda! Dasar sok!” bentak Rico.
   “Dari pada kamu, menyebalkan!” pekikku dengan nada yang sama tingginya.
   Setelah Rico pergi, aku bertanya pada Lucky, “Ky, kamu kenapa sih tadi sama mereka?”
   “Jadi gini ceritanya, Rind... Aku kan lagi ngobrol sama Kanya sepulang sekolah kemarin, soalnya orangtua kami itu saling kenal, terus, mamaku menitipkan sesuatu untuk mamanya Kanya. Ternyata mereka melihatku bersama Kanya sedang mengobrol, aku di marahi mereka deh!” jelas Lucky.
   “Emangnya... salah ya kalau anak cowok dan anak cewek bermain bersama? Apa alasannya?” tanyaku heran.
   “Sebenarnya siih... gak salah... udah dari dulu aku pingin main sama anak cewek juga, gak hanya sama anak cowok. Tapi... sebagai geng FARRELL yang terdiri dari Fajar, Angga, Rico, Rino, Emir, Lintang dan aku, aku harus menaati peraturan mereka, yaitu tidak boleh bermain dengan anak cewek. Alasannya... waktu itu Rico ketahuan mencuri sama Nindya, akhirnya Nindya ngadu ke bu guru, dan Rico jadi kena hukuman berat, dan bukan hanya itu siih... sebenarnya... masih banyak lagi alasannnya. Terus terang, sudah sejak lama aku ingin mengutarakan tidak kesetujuanku dengan peraturan tersebut dan keinginanku untuk bermain bersama - sama, tapi... mereka pasti tidak akan mendengarkanku.” jelas Lucky.
   “Ooh... begitu, ya sudah masuk ke kelas dulu, yuk! Untuk sementara waktu, kamukan bisa terbebas dari mereka dan bebas bermain dengan siapa pun. Atau kau bisa bermain bersama anak laki yang lain. Seperti Johan, Kevin, Akmal, Aldo dan lain – lain.” kataku.
   Seusai jam pelajaran, aku masih harus piket dulu. Sehingga pulang terakhir bersama beberapa temanku lagi.
   Saat berjalan keluar sekolah, ku lihat sekerumun anak laki. Mereka seperti sedang berdebat. Karena takut terjadi apa – apa lagi, aku mengajak Lula, Gladis, Fatimah dan beberapa teman cewek sekelasku yang belum pulang untuk menghampiri mereka dan ingin mengetahui apa yang terjadi.
   “Ada apa ini?” tanya Lula, lantang dan tegas.
   “Mereka mengancam Lucky akan di musuhi jika Lucky tetap bermain bersama kami dan anak perempuan.” jawab Johan, yang ketua kelas.
   “Memangnya apa salahnya anak perempuan? Sehingga Lucky dipaksa begitu?” tanya Lula.
   “Anak – anak FARRELL kesal dengan anak – anak perempuan. Karena sok campur urusan orang padahal gak ada urusannya apalagi kalau beda kelas. Terutama AKU!” jawab Rico.
   “Eh Rico, jaga dong bicaranya... nadanya gak usah kayak gitu... bisa sopanan dikit gak saat bicara? Gitu, gitu... Lula itu anaknya kepala sekolah di sini. Bisa – bisa kamu di keluarkan dari sekolah!” bela Johan.
   “Bodo amat!”
   “Ada apa ini ribut – ribut?” tanya bu guru yang ternyata sudah berada di belakang mereka semua.
   “Eh, ibu... kapan datangnya?” tanya Rico gugup.
   “Saat ibu ingin pulang, ibu melihat kalian semua belum pulang dan berkerumun seru, seperti sedang ada masalah yang dibicarakan. Ada apa sih sebenarnya? Sampai harus berdebat tegang seperti ini?” tanya bu guru.
   Johan sebagai ketua kelas pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Bu guru menasihat anak – anak muridnya supaya tidak menyimpan rasa dendam dan tidak memilih – milih teman. Seusai ibu guru menasihati mereka semua, mereka diminta untuk saling maaf – maafan.
   “Maafin aku ya, Rind!” ucap Rico sambil mengulurkan tangan.
   “Sama – sama Rico, tapi yang terpenting adalah, kamu harus berubah dan meminta maaf pada semua anak cewek di kelas dan  juga Lucky.” jawabku sambil menjabat tangan Rico.
   “Iya, Rind.” jawab Rico.
   Seusai Lucky bermaafan dengan Rico, Lucky menghampiriku.
   “Eh... ng... umm... makasih ya Rind, berkatmu kelas kita jadi beres.” Ucap Lucky, malu – malu.
   “Ah, gak berkatku juga. Ini semua berkat kesadaran masing – masing.” Jawabku merendah.
   Aku dan Lucky lalu tertawa bersama dan saling melempar senyum. Mulai sekarang kelasku jadi rukun dan kami selalu bermain bersama – sama.
   Thanks,
Rinda Mutiara Murni

   “Ooh... begitu ceritanya... makanya kamu paling akrab dan dekat dengan Lucky. Pantas saja...” komentar Fatimah.
   “Sejak saat itu, dia jadi merasa berhutang budi padaku. Dia jadi senang membantuku. Padahal, aku biasa – biasa saja.” jawab Rinda tanpa bermaksud sombong.
   “Emang siih... di dalam kejadian itu, Lucky yang paling baik. Tapikan kita tidak tahu hati nurani setiap orang...” kata Lula mengingat – ingat kejadian waktu itu.
   “Terus terang, aku lupa dengan kejadian ini. Untung saja ada Diary Rinda yang  mengingatkanku. Hehehe...” tawa Gladis.
   “Dasar nenek!” goda Fatimah.
   “Iih... Fatimah... tapi akukan gak kayak gitu...” bantah Gladis setengah malu.
   “Buktinya pelupa!” tambah Fatimah.

   “Oh iya ya? Hehehe...” Gladis tertawa. Semua pun ikut tertawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar