“Eh
Rind, teman laki yang paling dekat denganmu siapa?” tanya Lula.
“Emm... siapa ya? Ng... mungkin Lucky!” jawab
Rinda.
“Emangnya kenapa?” tanya Gladis.
“Yaaa... soalnya... baca aja deh Diary-ku
halaman 179! Kalian akan tahu jawabannya!” jawab
Rinda.
Penasarankan dengan isi diarynya Rinda
mengenai Lucky? Makanya, simak ya isi diarynya!
The Boys
Dear Diary, Hari ini adalah hari teranehku
seumur hidup. Sebenarnya siih... tidak begitu aneh. Hanya saja, ternyata Lucky
ingin berteman dengan anak – anak perempuan.
Pagi
ini, aku berjalan menuju kelas melalui koridor sekolah. Aku melihat Lucky
seperti dimarah – marahi oleh anak – anak laki.
Karena iba melihat Lucky yang dari tadi di
bentak – bentak, dan tak jarang di pukul, aku pun menghampiri mereka.
“Eh, udah – udah! Pergi sana! Ngapain sih
pagi – pagi udah bikin rusuh aja! Berisik tahu! Kalian gak lihat? Kasihan tahu
si Lucky kalian marah – marahin!” belaku sambil mengusir anak–anak laki.
Anak – anak laki pada bubaran, sebelum bubar,
Rico ketua geng anak cowok berkata: “Ooh... jadi temanmu sekarang cewek? Jadi
banci aja sekalian! Besok pakai rok sana! Lihat aja kamu Lucky.” ancam Rico.
“Eh, udah sana! Pergi!” belaku sambil tetap
mengusir Rico karena jengkel.
“Eh, diam kamu Rinda! Dasar sok!” bentak
Rico.
“Dari pada kamu, menyebalkan!” pekikku dengan
nada yang sama tingginya.
Setelah Rico pergi, aku bertanya pada Lucky,
“Ky, kamu kenapa sih tadi sama mereka?”
“Jadi gini ceritanya, Rind... Aku kan lagi
ngobrol sama Kanya sepulang sekolah kemarin, soalnya orangtua kami itu saling
kenal, terus, mamaku menitipkan sesuatu untuk mamanya Kanya. Ternyata mereka
melihatku bersama Kanya sedang mengobrol, aku di marahi mereka deh!” jelas
Lucky.
“Emangnya... salah ya kalau anak cowok dan
anak cewek bermain bersama? Apa alasannya?” tanyaku heran.
“Sebenarnya siih... gak salah... udah dari
dulu aku pingin main sama anak cewek juga, gak hanya sama anak cowok. Tapi...
sebagai geng FARRELL yang terdiri dari Fajar, Angga, Rico, Rino, Emir, Lintang
dan aku, aku harus menaati peraturan mereka, yaitu tidak boleh bermain dengan
anak cewek. Alasannya... waktu itu Rico ketahuan mencuri sama Nindya, akhirnya
Nindya ngadu ke bu guru, dan Rico jadi kena hukuman berat, dan bukan hanya itu
siih... sebenarnya... masih banyak lagi alasannnya. Terus terang, sudah sejak
lama aku ingin mengutarakan tidak kesetujuanku dengan peraturan tersebut dan
keinginanku untuk bermain bersama - sama, tapi... mereka pasti tidak akan
mendengarkanku.” jelas Lucky.
“Ooh... begitu, ya sudah masuk ke kelas dulu,
yuk! Untuk sementara waktu, kamukan bisa terbebas dari mereka dan bebas bermain
dengan siapa pun. Atau kau bisa bermain bersama anak laki yang lain. Seperti
Johan, Kevin, Akmal, Aldo dan lain – lain.” kataku.
Seusai jam pelajaran, aku masih harus piket
dulu. Sehingga pulang terakhir bersama beberapa temanku lagi.
Saat berjalan keluar sekolah, ku lihat
sekerumun anak laki. Mereka seperti sedang berdebat. Karena takut terjadi apa –
apa lagi, aku mengajak Lula, Gladis, Fatimah dan beberapa teman cewek sekelasku
yang belum pulang untuk menghampiri mereka dan ingin mengetahui apa yang
terjadi.
“Ada apa ini?” tanya Lula, lantang dan tegas.
“Mereka mengancam Lucky akan di musuhi jika
Lucky tetap bermain bersama kami dan anak perempuan.” jawab Johan, yang ketua
kelas.
“Memangnya apa salahnya anak perempuan?
Sehingga Lucky dipaksa begitu?” tanya Lula.
“Anak – anak FARRELL kesal dengan anak – anak
perempuan. Karena sok campur urusan orang padahal gak ada urusannya apalagi
kalau beda kelas. Terutama AKU!” jawab Rico.
“Eh Rico, jaga dong bicaranya... nadanya gak
usah kayak gitu... bisa sopanan dikit gak saat bicara? Gitu, gitu... Lula itu
anaknya kepala sekolah di sini. Bisa – bisa kamu
di keluarkan dari sekolah!” bela Johan.
“Bodo amat!”
“Ada apa ini ribut – ribut?” tanya bu guru
yang ternyata sudah berada di belakang mereka semua.
“Eh, ibu... kapan datangnya?” tanya Rico
gugup.
“Saat ibu ingin pulang, ibu melihat kalian
semua belum pulang dan berkerumun seru, seperti sedang ada masalah yang
dibicarakan. Ada apa sih sebenarnya? Sampai harus berdebat tegang seperti ini?”
tanya bu guru.
Johan sebagai ketua kelas pun menjelaskan apa
yang sebenarnya terjadi. Bu guru menasihat anak – anak muridnya supaya tidak
menyimpan rasa dendam dan tidak memilih – milih teman. Seusai ibu guru
menasihati mereka semua, mereka diminta untuk saling maaf – maafan.
“Maafin aku ya, Rind!” ucap Rico sambil
mengulurkan tangan.
“Sama – sama Rico, tapi yang terpenting
adalah, kamu harus berubah dan meminta maaf pada semua anak cewek di kelas
dan juga Lucky.” jawabku sambil menjabat
tangan Rico.
“Iya, Rind.” jawab Rico.
Seusai Lucky bermaafan dengan Rico, Lucky
menghampiriku.
“Eh... ng... umm... makasih ya Rind, berkatmu
kelas kita jadi beres.” Ucap Lucky, malu – malu.
“Ah, gak berkatku juga. Ini semua berkat
kesadaran masing – masing.” Jawabku merendah.
Aku dan Lucky lalu tertawa bersama dan saling
melempar senyum. Mulai sekarang kelasku jadi rukun dan
kami selalu bermain bersama – sama.
Thanks,
Rinda
Mutiara Murni
“Ooh... begitu ceritanya... makanya kamu
paling akrab dan dekat dengan Lucky. Pantas saja...” komentar Fatimah.
“Sejak saat itu, dia jadi merasa berhutang
budi padaku. Dia jadi senang membantuku. Padahal, aku biasa – biasa saja.”
jawab Rinda tanpa bermaksud sombong.
“Emang siih... di dalam kejadian itu, Lucky
yang paling baik. Tapikan kita tidak tahu hati nurani setiap orang...” kata
Lula mengingat – ingat kejadian waktu itu.
“Terus terang, aku lupa dengan kejadian ini.
Untung saja ada Diary Rinda yang
mengingatkanku. Hehehe...” tawa Gladis.
“Dasar nenek!” goda Fatimah.
“Iih... Fatimah... tapi akukan gak kayak
gitu...” bantah Gladis setengah malu.
“Buktinya pelupa!” tambah Fatimah.
“Oh iya ya? Hehehe...” Gladis tertawa. Semua
pun ikut tertawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar