Azkiya bersahabat dengan Shaisa juga
Della. Semua orang pasti berpikiran mereka bertiga bersahabat akrab, Tetapi
sebenarnya, Shaisa justru bermusuhan dengan Della.
Azkiya lebih dekat dengan Shaisa,
karena Shaisa seorang yang pintar, cantik dan kaya. Shaisa suka sekali memenuhi
permintaan Azkiya. Namun, Shaisa suka menyombongkan diri karena Shaisa rangking
satu di kelas selain cewek terkaya dan tercantik.
Berbeda dengan Della. Della selalu
baik terhadap Azkiya. Della juga cukup kaya dan pintar. Tapi, entah mengapa Azkiya
lebih menyukai Shaisa daripada Della.
“Azki, hari Sabtu dan Minggu jadi kan
kita ke PIM 2 dan Blok M Square?” tanya Shaisa
saat pulang sekolah.
“Jadi dong! Oh ya, boleh aku
bertanya sesuatu gak?” tanya Azkiya.
“Oh tentu boleh kok! Ada apa?” tanya
Shaisa.
“Gini Shaisa, katamu kan kamu mau penuhi
permintaanku. Aku ingin kau mengabulkan yang satu ini. Bolehkan?” tanya Azkiya
sedikit ragu – ragu.
“Oo… pasti dong! Apa pun! Kamu mau
apa emangnya?” tanya Shaisa sombong.
“Gak memperlukan biaya kok!” tutur Azkiya.
“Aku kepingin… Della ikutan kita pas jalan – jalan ke PIM 2 dan Blok M Square.”
Lanjut Azkiya.
Serasa detak jantung Shaisa
berhenti. Lalu ia tersenyum, maniiiiiiiiiiiis sekali. Lalu ia berkata: “Oh
tentu boleh!” jawab Shaisa. Padahal, dalam hatinya sangat tidak setuju.
“Yee… terimakasih ya Shaisa. Kau
memang sahabat terbaikku!” kata Azkiya sambil memeluk Shaisa. Shaisa hanya
tersenyum kecil.
Azkiya langsung pergi meninggalkan Shaisa
dan berlari mencari Della.
“Del, kamu ikut ya Sabtu dan Minggu
besok jalan – jalan ke PIM 2 dan Blok M Square. Kita kumpul di rumah Shaisa
dulu ya sebelumnya. Kita main sepuasnya ya! Oke?” ajak Azkiya senaaaaaang
sekali.
“Tunggu… tunggu… santailah dulu say…
oke deh! Sabtu dan Minggu besok aku insya Allah akan ke rumah si nenek lampir
itu!” ujar Della.
“Della… Ehm… ehm…” ujar Azkiya.
“Tenang say… aku bercanda doang
kok!” ujar Della.
Azkiya tersenyum senang lalu berkata
lagi: “Baguslah, aku mau jajan dulu ya! Bye!”
Della hanya tersenyum lebar sambil
melambaikan tangan.
Hari Sabtu pun tiba, hari ini mereka
akan ke PIM 2 dulu. Karena mereka ke Blok M Square hari Minggu besok.
“Main Ice Skating yuk, kebetulan
lagi ada nih, jarang lho!” ajak Shaisa.
“Um… m… ng… Shaisa, aku kan gak bisa
main Ice Skating. Aku kan jarang ke mall. Mau ajarin aku gak?” tanya Azkiya.
“Hah?! Gak bisa? Hahaha… Azkiya… Azkiya…
ketinggalan jaman sekali kau! Hahaha…” tawa Shaisa.
Azkiya tertunduk lesu, matanya mulai
berkaca – kaca. Dia memang bukan anak yang kaya. Malahan termasuk murid yang
kurang mampu.
Della yang melihat Azkiya tertunduk
sedih dan lesu segera mendekatinya.
“Tenang Azki… aku mau ajarin kamu
main Ice Skating kok! Biarkan saja nenek lampir itu tak mau mengajarimu!
Sehabis main Ice Skating kita ke Food Court dan ke Gramedia ya, oke? Kan nenek
lampir anti banget sama yang namanya buku! Ia cuma baca buku pelajaran doang!”
ujar Della.
“Eh, sok tahu! Aku akan melakukan
hal apa pun untuk Azkiya!” ujar Shaisa kesal.
“Kalau begitu, kenapa kau malah
menghinanya? Dan bukan justru mengajarinya?” tanya Della.
“E… e… e… itu… i… i… itu…” jawab Shaisa
tergagap.
“Sudah cukup!!!” jerit Azkiya.
“Kini, aku tahu siapa sahabatku yang
sebenarnya!” ujar Azkiya.
Azkiya pun berlari menghampiri Della
dan dipeluknya Della.
“Della, maafkan aku selama ini. Aku
salah menilaimu. Ternyata, kau adalah sahabat sejatiku yang sebenarnya.” Ujar Azkiya.
Della hanya tersenyum.
Shaisa cemberut dan manyun lalu
berkata: “Aku tak akan mengantarkan kalian berdua pulang!” pekiknya berkaca –
kaca.
“Tak apa, aku tinggal menelpon mang
Urip. Supir mamaku!” ujar Della,
tenang.
Di hari itu, Shaisa benar – benar
maluuuuu…. sekali. Oh ya, hari Minggu mereka tetap jadi ke Blok M Square tapi
tanpa Shaisa. Ia sudah maluuuuuuu sekali dengan perbuatannya sendiri. Della dan
Azkiya selalu menjaga persahabatan mereka selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar