Sabtu, 02 Maret 2013

Sahabat yang Sebenarnya

  Azkiya bersahabat dengan Shaisa juga Della. Semua orang pasti berpikiran mereka bertiga bersahabat akrab, Tetapi sebenarnya, Shaisa justru bermusuhan dengan Della.

            Azkiya lebih dekat dengan Shaisa, karena Shaisa seorang yang pintar, cantik dan kaya. Shaisa suka sekali memenuhi permintaan Azkiya. Namun, Shaisa suka menyombongkan diri karena Shaisa rangking satu di kelas selain cewek terkaya dan tercantik.
            Berbeda dengan Della. Della selalu baik terhadap Azkiya. Della juga cukup kaya dan pintar. Tapi, entah mengapa Azkiya lebih menyukai Shaisa daripada Della.
            “Azki, hari Sabtu dan Minggu jadi kan kita ke PIM 2  dan Blok M Square?” tanya Shaisa saat pulang sekolah.
            “Jadi dong! Oh ya, boleh aku bertanya sesuatu gak?” tanya Azkiya.
            “Oh tentu boleh kok! Ada apa?” tanya Shaisa.
            “Gini Shaisa, katamu kan kamu mau penuhi permintaanku. Aku ingin kau mengabulkan yang satu ini. Bolehkan?” tanya Azkiya sedikit ragu – ragu.
            “Oo… pasti dong! Apa pun! Kamu mau apa emangnya?” tanya Shaisa sombong.
            “Gak memperlukan biaya kok!” tutur Azkiya. “Aku kepingin… Della ikutan kita pas jalan – jalan ke PIM 2 dan Blok M Square.” Lanjut Azkiya.
            Serasa detak jantung Shaisa berhenti. Lalu ia tersenyum, maniiiiiiiiiiiis sekali. Lalu ia berkata: “Oh tentu boleh!” jawab Shaisa. Padahal, dalam hatinya sangat tidak setuju.
            “Yee… terimakasih ya Shaisa. Kau memang sahabat terbaikku!” kata Azkiya sambil memeluk Shaisa. Shaisa hanya tersenyum kecil.
            Azkiya langsung pergi meninggalkan Shaisa dan berlari mencari Della.
            “Del, kamu ikut ya Sabtu dan Minggu besok jalan – jalan ke PIM 2 dan Blok M Square. Kita kumpul di rumah Shaisa dulu ya sebelumnya. Kita main sepuasnya ya! Oke?” ajak Azkiya senaaaaaang sekali.
            “Tunggu… tunggu… santailah dulu say… oke deh! Sabtu dan Minggu besok aku insya Allah akan ke rumah si nenek lampir itu!” ujar Della.
            “Della… Ehm… ehm…” ujar Azkiya.
            “Tenang say… aku bercanda doang kok!” ujar Della.
            Azkiya tersenyum senang lalu berkata lagi: “Baguslah, aku mau jajan dulu ya! Bye!”
            Della hanya tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.
            Hari Sabtu pun tiba, hari ini mereka akan ke PIM 2 dulu. Karena mereka ke Blok M Square hari Minggu besok.
            “Main Ice Skating yuk, kebetulan lagi ada nih, jarang lho!” ajak Shaisa.
            “Um… m… ng… Shaisa, aku kan gak bisa main Ice Skating. Aku kan jarang ke mall. Mau ajarin aku gak?” tanya Azkiya.
            “Hah?! Gak bisa? Hahaha… Azkiya… Azkiya… ketinggalan jaman sekali kau! Hahaha…” tawa Shaisa.
            Azkiya tertunduk lesu, matanya mulai berkaca – kaca. Dia memang bukan anak yang kaya. Malahan termasuk murid yang kurang mampu.
            Della yang melihat Azkiya tertunduk sedih dan lesu segera mendekatinya.
            “Tenang Azki… aku mau ajarin kamu main Ice Skating kok! Biarkan saja nenek lampir itu tak mau mengajarimu! Sehabis main Ice Skating kita ke Food Court dan ke Gramedia ya, oke? Kan nenek lampir anti banget sama yang namanya buku! Ia cuma baca buku pelajaran doang!” ujar Della.
            “Eh, sok tahu! Aku akan melakukan hal apa pun untuk Azkiya!” ujar Shaisa kesal.
            “Kalau begitu, kenapa kau malah menghinanya? Dan bukan justru mengajarinya?” tanya Della.
            “E… e… e… itu… i… i… itu…” jawab Shaisa tergagap.
            “Sudah cukup!!!” jerit Azkiya.
            “Kini, aku tahu siapa sahabatku yang sebenarnya!” ujar Azkiya.
            Azkiya pun berlari menghampiri Della dan dipeluknya Della.
            “Della, maafkan aku selama ini. Aku salah menilaimu. Ternyata, kau adalah sahabat sejatiku yang sebenarnya.” Ujar Azkiya.
            Della hanya tersenyum.
            Shaisa cemberut dan manyun lalu berkata: “Aku tak akan mengantarkan kalian berdua pulang!” pekiknya berkaca – kaca.
            “Tak apa, aku tinggal menelpon mang Urip. Supir mamaku!” ujar Della, tenang.
            Di hari itu, Shaisa benar – benar maluuuuu…. sekali. Oh ya, hari Minggu mereka tetap jadi ke Blok M Square tapi tanpa Shaisa. Ia sudah maluuuuuuu sekali dengan perbuatannya sendiri. Della dan Azkiya selalu menjaga persahabatan mereka selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar