“Mi,
beliin Gisela boneka Amie dong!” pinta Gisela sembari merengek.
“Maaf Sel... mami sedang sibuk...” ujar mami
sambil mencuci piring.
“Gisel sayang... mami mendapatkan
kabar dari bu guru bahwa nilaimu menurun. Jadi, mami tidak akan membelikan kamu
boneka sebelum nilaimu membaik. Lagian, kamar kamu kan sudah penuh dengan
boneka Sel... ada berbagai macam boneka
Barbie, ada Baby Blondie, Baby Monchichi, Uglydoll, dan masih banyak lagi! Apa
tidak cukup? Kamarmu itu sudah seperti istana boneka sayang...” kata mami
dengan nada pelan.
Gisela kesal sekali dia segera
berkata: “Mami jahat! Mami gak sayang Gisela!” Gisela segera berlari keluar
rumah. Memang Gisela selalu melakukan hal itu bila satu keinginannya tidak dipenuhi.
Maklum, Gisela anak semata wayang yang terlalu dimanja.
Mami geleng – geleng kepala melihat tingkah laku
anak semata wayangnya. “Semoga saja anak itu mau berubah.”
Dia berjalan cukup jauh dari
rumahnya lalu dia duduk di pinggir jalan sambil menangis. Sementara itu hujan
turun dengan derasnya.
“Assalamualaikum...” sahut Gisela
sesampainya di rumah. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 18.00.
“Walaikumsalam... astagfirullah Gisela...
kamu baru pulang? Basah kuyup pula...” jawab mami. Mami segera mengeringkan
tubuh Gisela yang basah.
“Cepat ganti bajumu nak, ibu buatkan
teh hangat ya!” kata mami.
Setelah Gisela ganti baju dia meminum
teh hangat. Mami duduk di samping tempat Gisela berbaring. Mami menggenggam
tangan Gisela lembut.
“Sel,
gini... maksud mami... sekarang itu... kami udah kelas 5... sebentar lagi kan
kelas 6... seharusnya kamu harus lebih serius belajar. Apalagi sebentar lagi
kan kamu akan berulang tahun yang ke-11... seharusnya kamu harus lebih baik
dari sebelumnya.” nasihat mami.
Gisela diam saja.
“Begini saja... kalau nilai kamu
baik, mami akan kasih 2 boneka yang kamu inginkan. Dan mami janji nanti saat
kamu ulang tahun, mami akan memberikan boneka juga. Asalkan kamu janji mau
mengubah sifatmu itu. Bagaimana?” tanya mami.
“I... iya mi... hatchi!!! Gi... sela... se...
setuju... hacthi!” jawab Gisela sambil bersin–bersin.
“Tidur ya Sel, Biar gak sakit!” saran
mami.
Gisela hanya mengangguk lalu
beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamarnya. “Selamat tidur mi...”
“Selamat tidur sayang.” jawab mami.
Pagi ini...
“MAMI!!!” panggil Gisela panik.
Mami segera menuju kamar Gisela
untuk menghampirinya.
“Ada apa sayang?” tanya mami ikut
panik.
“Aku panas mi!!!” kata Gisela masih
tetap panik.
“Coba mami pegang!” ujar mami lalu
memegang kening Gisela. “Iya benar, kamu panas. Biar mami kompres ya!”
Dengan cekatan mami merawat Gisela
dengan penuh kasih sayang. Mami merawat Gisela dengan sabar dan tulus tanpa
pamrih.
“Padahal, kemarin Gisela telah melakukan hal buruk
pada mami. Tapi kenapa mami masih sayang pada Gisela?” batin Gisela.
“Mi, mami masih sayang dengan Gisela?” tanya Gisela
pelan.
“Pasti dong Sel...”
jawab mami sambil tersenyum.
“Tapi mi... kemarin Gisela merengek pada mami...”
kata Gisela malu.
“Bagaimana pun juga sifat anaknya, orangtua pasti
selalu sayang pada anaknya.” jelas mami.
“Maafkan Gisela ya mi... Gisela akan mengubah sifat Gisela
itu... Gisela janji... dan Gisela akan berusaha mengubah dan mendapatkan nilai
yang baik kembali...” kata Gisela sambil memeluk maminya.
Semenjak saat itu, Gisela mengubah sifatnya yang
buruk.
“Ooh mami... kau seperti peri tak bersayap...
terimakasih, mi. Sudah merawatku hingga menjadi seperti ini. Dan maafkan segala
kesalahan Gisela mi...” batin Gisela, setelah itu dia langsung tertidur di
ranjangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar