Sabtu, 02 Maret 2013

Peri Tak Bersayap



            “Mi, beliin Gisela boneka Amie dong!” pinta Gisela sembari merengek.
            “Maaf Sel... mami sedang sibuk...” ujar mami sambil mencuci piring.
“Kalau begitu, Gisela minta boneka Monchichi deeh!” pinta Gisela lagi.

            “Gisel sayang... mami mendapatkan kabar dari bu guru bahwa nilaimu menurun. Jadi, mami tidak akan membelikan kamu boneka sebelum nilaimu membaik. Lagian, kamar kamu kan sudah penuh dengan boneka Sel... ada berbagai macam boneka Barbie, ada Baby Blondie, Baby Monchichi, Uglydoll, dan masih banyak lagi! Apa tidak cukup? Kamarmu itu sudah seperti istana boneka sayang...” kata mami dengan nada pelan.
            Gisela kesal sekali dia segera berkata: “Mami jahat! Mami gak sayang Gisela!” Gisela segera berlari keluar rumah. Memang Gisela selalu melakukan hal itu bila satu keinginannya tidak dipenuhi. Maklum, Gisela anak semata wayang yang terlalu dimanja.
Mami geleng – geleng kepala melihat tingkah laku anak semata wayangnya. “Semoga saja anak itu mau berubah.”
            Dia berjalan cukup jauh dari rumahnya lalu dia duduk di pinggir jalan sambil menangis. Sementara itu hujan turun dengan derasnya.
            “Assalamualaikum...” sahut Gisela sesampainya di rumah. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 18.00.
            “Walaikumsalam... astagfirullah Gisela... kamu baru pulang? Basah kuyup pula...” jawab mami. Mami segera mengeringkan tubuh Gisela yang basah.
            “Cepat ganti bajumu nak, ibu buatkan teh hangat ya!” kata mami.
            Setelah Gisela ganti baju dia meminum teh hangat. Mami duduk di samping tempat Gisela berbaring. Mami menggenggam tangan Gisela lembut.
            Sel, gini... maksud mami... sekarang itu... kami udah kelas 5... sebentar lagi kan kelas 6... seharusnya kamu harus lebih serius belajar. Apalagi sebentar lagi kan kamu akan berulang tahun yang ke-11... seharusnya kamu harus lebih baik dari sebelumnya.” nasihat mami.
            Gisela diam saja.
            “Begini saja... kalau nilai kamu baik, mami akan kasih 2 boneka yang kamu inginkan. Dan mami janji nanti saat kamu ulang tahun, mami akan memberikan boneka juga. Asalkan kamu janji mau mengubah sifatmu itu. Bagaimana?” tanya mami.
            “I... iya mi... hatchi!!! Gi... sela... se... setuju... hacthi!” jawab Gisela sambil bersin–bersin.
            “Tidur ya Sel, Biar gak sakit!” saran mami.
            Gisela hanya mengangguk lalu beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamarnya. “Selamat tidur mi...”
            “Selamat tidur sayang.” jawab mami.
            Pagi ini...
            “MAMI!!!” panggil Gisela panik.
            Mami segera menuju kamar Gisela untuk menghampirinya.
            “Ada apa sayang?” tanya mami ikut panik.
            “Aku panas mi!!!” kata Gisela masih tetap panik.
            “Coba mami pegang!” ujar mami lalu memegang kening Gisela. “Iya benar, kamu panas. Biar mami kompres ya!”
            Dengan cekatan mami merawat Gisela dengan penuh kasih sayang. Mami merawat Gisela dengan sabar dan tulus tanpa pamrih.
“Padahal, kemarin Gisela telah melakukan hal buruk pada mami. Tapi kenapa mami masih sayang pada Gisela?” batin Gisela.
“Mi, mami masih sayang dengan Gisela?” tanya Gisela pelan.
“Pasti dong Sel...” jawab mami sambil tersenyum.
“Tapi mi... kemarin Gisela merengek pada mami...” kata Gisela malu.
“Bagaimana pun juga sifat anaknya, orangtua pasti selalu sayang pada anaknya.” jelas mami.
“Maafkan Gisela ya mi... Gisela akan mengubah sifat Gisela itu... Gisela janji... dan Gisela akan berusaha mengubah dan mendapatkan nilai yang baik kembali...” kata Gisela sambil memeluk maminya.
Semenjak saat itu, Gisela mengubah sifatnya yang buruk.
“Ooh mami... kau seperti peri tak bersayap... terimakasih, mi. Sudah merawatku hingga menjadi seperti ini. Dan maafkan segala kesalahan Gisela mi...” batin Gisela, setelah itu dia langsung tertidur di ranjangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar