Sabtu, 02 Maret 2013

Liburan Jezia



            Hh… senangnya… sebentar lagi liburan… aku sudah membayangkan bakal bermain di pantai, pergi ke Bandung serta jalan – jalan ke Mall… pikir Jezia. Dia sangat mengharapkan bisa berjalan – jalan dan bermain – main bersama keluarga.

            Aku tak sabar bila pergi ke pantai bersama Gisela yang lucu dan gendut. Aku tak sabar tertawa bersama Alika yang heboh. Aku tak sabar bermain bersama Alisa yang seru dan kreatif. Dan yang terpenting, aku tidak sabar untuk melewatkan hari – hari indah di pantai dan kota Bandung. Pikir Jezia lagi. Namun tiba – tiba, adiknya yang bernama Lala mengkagetkannya.
            “Daar!!!”
            Jezia sontak kaget. “Astagfirullah…”
            Lala tertawa saja sambil cekikikan.
            “Iih… kamu ya, La! Ada apa siih kok pakai ngagetin segala!” Jezia menunjukkan muka cemberut.
            “Sori, sori… kakak ngelamunin apa siih?” tanya Lala.
            “Eh, melamun? Kata siapa melamun? Enggak kok… kakak gak melamun… kakak lagi memperhatikan awan…” jawab Jezia berbohong.
            “Bener???” tanya Lala.
            “Bener kok dek, eh, by the way… kamu ngapain kesini? Ada perlu apa sampai harus mengkagetkanku?” tanya Jezia mengalihkan pembicaraan.
            “Oh iya… Lala lupa… bunda manggil! Kata bunda, ada hal penting yang harus bunda sampaikan. Oleh sebab itu dari tadi aku mencari – cari kakak.” Jawab Lala.
            “Ooh… ya sudah, ayo kita ke bunda. Pasti bunda sudah menunggu kan dari tadi?” ajak Jezia.
            Lala mengangguk lalu mengikuti kakaknya.
            “Bunda… bunda… bunda mau ngomong apa siih?” tanya Lala saat menghampiri bundanya.
            “Bunda, jadikan liburan nanti kita pergi ke Bandung dan berjalan – jalan ke pantai?” tanya Jezia tiba – tiba tidak sabaran.
            “Ooh… itu… bunda akan membicarakan hal itu. Ng… bunda mau bilang, bahwa… liburan kita kali ini tidak jadi kemana – mana ya, nak?” jelas bunda dengan nada lembut dan hati – hati.
            “Hah?! Gak jadi?! Lho kok gak jadi bunda?” tanya Lala sontak kaget dan sedih.
            “Ya, kok gak jadi bunda? Bukankah… ayah dan bunda sudah berjanji akan mengajak kami dan juga keluarga tante Lis untuk berwisata?” tanya Jezia kecewa.
            “Begini nak, memang ayah dan bunda sudah berjanji, tapi ini mendadak sekali. Ayah tidak bisa cuti kerja. Om Heru ada kerjaan di luar kota. Sedangkan tante Lis, tiba – tiba mendadak sakit tifus. Alika, Alisa, dan Gisela di titipkan pada bibi Siti. Sedangkan… kalian sendiri tahukan, bunda tidak bisa menyetir mobil? Lagian… masa tante Lis lagi sakit kita malah bersenang – senang? Walau tidak bisa kita jenguk, kita harus mendo’akannya.” Jelas bunda panjang lebar.
            Jezia dan Lala tertunduk lesu.
            Hh… liburan yang telah di rencanakan batal deh. Padahal… baru saja Jezia membayangkan hal asyik , seru, dan menyenangkan saat mereka liburan nanti. Lenyap semua rencana Jezia.
            Jezia langsung masuk ke dalam kamarnya. Begitu juga Lala.
            Ooh… kasian juga mereka. Kata bunda dalam hati.
            Sore ini, hujan turun dengan derasnya. Tapi tidak menyurutkan semangat Jezia untuk pergi les.
            “Bunda… aku mau berangkat les ya!” ucap Jezia.
            “Apa? Les? Ini kan hujan nak… bisa – bisa… kamu sakit dan tidak bisa menghabiskan liburan dengan baik.” Nasihat bunda.
            “Aaahh… tidak apa bunda… aku yakin staminaku baik, aku juga selalu makan teratur kan, aku bawa jas hujan kok! Jadi, insya Allah aku tidak akan sakit. Lagian... liburan kan di rumah aja? Sudah ya bun! Lyla sudah menungguku, Assalamualaikum! love you bun!” sahut Jezia lalu keluar rumah dan menutup pintu.
            “Walaikumsalam nak… love you too…” ucap bunda pelan.
            Jezia memang sering jengkel dengan pesan dan nasihat bundanya. Menurutnya, bundanya sangat cerewet dan memiliki rasa kekhawatiran yang berlebih. Ingin rasanya dia sehari tidak dicereweti supaya dia bisa bebas dari pesan dan nasihat bundanya itu. Belum kekecewaannya karena liburan yang sangat ia nanti – nantikan terpaksa di batalkan. Jezia sangat kecewa hingga mengabaikan pesan bundanya itu.
            Lalu akhirnya, Jezia dan Lyla berangkat naik sepeda.
            Sesampainya ditempat les, dia memarkir sepedanya. Dan segera masuk setelah melipat jas hujannya.
            Jezia dan Lyla les nge-dance. Walau pun Jezia termasuk murid yang cukup pandai nge-dance, tapi tumben sekali hari ini dia tidak cekatan meniru gaya yang di ajarkan. Bahkan, ada beberapa gerakannya yang salah. Dia juga tampak lesu dan tidak bersemangat. Tak jarang juga Jezia bersin – bersin. Sehingga guru pembimbing merasa kasihan pada Jezia.
            Saat les usai…
            “Jezia, sebaiknya kamu banyak istirahat, kan sebentar lagi liburan, nanti kamu tidak bisa menghabiskan waktu liburan dengan baik.” Pesan bu guru.
            “Ya bu, terimakasih atas perhatiannya. Saya pulang dulu. Assalamualaikum…” sahut Jezia.
            “Walaikumsalam... hati – hati di jalan ya, nak!” pesan bu guru.
            “Ya bu…” jawab Jezia. Uuh… bawel sekali siih! Gak bunda gak bu guru sama saja khawatiran! Aku kan tahu menjaga diri! Keluh Jezia dalam hati.
            Di tengah perjalanan, Jezia dan Lyla sempat bermain hujan – hujanan terlebih dahulu. Hingga baju yang mereka kenakan basah kuyup terkena air hujan dan becek.
            Sesampainya di rumah…
            “Assalamualaikum…” sahut Jezia.
            “Walaikumsalam…” jawab bunda, Lala, dan bibik.
            “Eh, non… sudah pulang tho?” tanya bibik.
            “Astagfirullah… kamu basah kuyup Jez…” ujar bunda kaget. Bunda segera mengambil handuk untuk segera mengeringkan tubuh Jezia.
            “Sebaiknya non segera mandi dengan air hangat.” Tambah bibik.
            “Aduh… apa – apaan siih bunda dan bibik ini? Aku baik – baik saja kok! Tak perlu mengkhawatirkanku!” kata Jezia kesal. Lalu segera mengambil baju ganti dan handuknya dan segera mandi.
            Aduh… ada apa dengan anak sulungku ini?. Apakah aku salah terlalu mengkhawatirkannya? Batin bunda sambil geleng – geleng kepala.
            Seusai mandi, Jezia segera tertidur di kamarnya. Hingga dia tidak makan malam walaupun bunda berkali-kali mengetuk pintu kamarnya, dia tidak terbangun.
            Dia bangun pagi sekali. Dia memegang keningnya. Oow… PANAS! Jezia gugup sekali, dia segera bangun. Walau kepalanya pusing dan berat dia tetap berjalan. Walau matanya ingin tidur, namun dia paksakan untuk berjalan. Dia berjalan tertatih – tatih menuju kamar bundanya namun, ternyata bundanya tidak ada di kamarnya. Jezia berpikir ada d imana bundanya. Dia pun menuju taman untuk mencari bundanya namun tidak ada. Sesampainya di teras belakang, tiba – tiba dia tidak kuat berdiri lagi dan akhirnya dia terjatuh.
            Beruntung bibik mengetahui. Bibik dengan cepat segera mengangkat Jezia kembali ke ruang dalam, karena khawatir, bibik segera menelpon ambulans dan membawa Jezia ke rumah sakit terdekat.
            Beruntung Jezia cepat di tolong dan Jezia segera siuman.
            “Alhamdulillah… akhirnya non Jezia sadar juga…” ujar bibik sambil tersenyum dan segera memeluk Jezia.
            “Bibik? Lho, bik, saya dimana?” tanya Jezia.
            “Kamu di rumah sakit non…” jawab bibik. “Sepertinya non perlu istirahat banyak di rumah sakit. Kata dokter, selain non sakit panas dan pusing, non juga kena maag. Karena semalam tidak makan malam. Non kan punya sakit maag.” Jelas bibik lagi.
            “Ooh iya…” jawab Jezia.
            “Non, bibik permisi dulu ya!” izin bibik. “Oh ya, tadi bunda SMS katanya bunda sedang menuju perjalanan kemari.”
            Jezia mengangguk. Lalu dia turun dari ranjangnya, di sampingnya ada seorang perempuan sebayanya.
            “Hei, kamu sudah siuman ya? Enak sekali dirimu bisa turun dari ranjang dan tidak di infus sepertiku.” Ujar perempuan itu.
            “Maaf, apakah aku mengenalmu?” tanya Jezia.
            “Ng… sepertinya tidak. Aku juga baru melihatmu ini.” Jelas perempuan itu.
            “Ooh…” jawab Jezia.
            “Kau sungguh enak ya? Saat sakit bundamu ada di sini, menemani. Sedangkan aku? Bundaku hanya peduli pada pekerjaannya. Beliau berkata baru akan menjengukku seusai bekerja. Padahal… aku sedang sakit cukup parah.” Jelas perempuan itu.
            “Memangnya kau sakit apa?” tanya Jezia.
            “Aku sakit radang usus buntu.” Jawab perempuan itu.
            “Ooh… oh ya, namaku Jezia.” Kata Jezia memperkenalkan diri.
            Athaya.” Jawab perempuan itu.
            Athaya lalu curhat pada Jezia sebanyak – banyaknya hingga menangis. Jezia mendengarkannya dengan seksama sehingga lupa akan sakitnya. Dari ceritanya, Jezia bersyukur memiliki banyak orang yang peduli dan sayang padanya. Dia merasa bersalah telah melawan bundanya dan tak menghiraukan nasihat serta pesan bundanya. Dia ingin minta maaf pada bundanya.
            Seusai Athaya bercerita, bibik, bunda, dan Lala datang.
            Bunda segera memeluk Jezia.
            “Jezia, bagaimana kabarmu? Sudah baikkan? Maafkan bunda ya telah meninggalkanmu tadi pagi, sebab… ada urusan penting. Tapi, setelah tahu kejadianmu ini, bunda segera naik taksi menuju rumah untuk menjemput Lala dan bersama – sama menuju rumah sakit untuk menengokmu.” Jelas bunda sembari memeluk Jezia.
            Jezia menggeleng. “Tidak bunda…, bunda tidak salah… yang salah Jezia. Jezia tidak menghiraukan semua nasihat bunda, aku sering menganggap bunda cerewet padahal maksud bunda sayang kan...”
            Bunda tersenyum.
            Kini, Jezia sadar. Bahwa Jezia harus bersyukur memiliki orang – orang yang peduli pada Jezia. Ini semua berkat Athaya. Athaya telah mengingatkannya. “Terimakasih Athaya… Semoga, orangtuamu dapat segera menjengukmu sekarang juga.” Ucap Jezia, berterimakasih pada Athaya.
            Athaya hanya tersenyum dan mengangguk. Tiba – tiba, terdengar suara pintu di ketuk.
            “Masuk!”
            Pintu terbuka dan mata Athaya berkaca – kaca karena tak bisa menahan rasa senang. Ya, kedua orangtuanya datang untuk menjenguknya. Kedua orangtuanya datang dan segera memeluk putrinya. Berkali – kali kedua orangtuanya meminta maaf karena tidak dapat menjenguk Athaya dengan cepat. Athaya dengan tulus dan tersenyum memaafkan kedua orangtuanya.
            “Maafkan kami ya nak…” pinta mama Athaya.
            “Tidak apa – apa mama… Athaya kini mengerti dan sudah memaafkan. Yang penting mama papa menyayangi Athaya seperti dulu lagi.” Jawab Athaya.
            “Oh ya nak… mulai sekarang, mama janji akan memperhatikanmu, mama tidak ingin kau terbaring lemah di kasur rumah sakit ini.” Ujar mama Athaya.
            “Benarkah itu mama? Ooh… aku senang sekali!” ujar Athaya.
            Jezia turut senang karena teman barunya juga senang. Tapi akibatnya, Jezia harus menghabiskan waktu liburan di rumah sakit.
            Ah, tak apa liburan di rumah sakit, yang penting aku mendapatkan hikmah dari semuanya. Liburan kali ini lebih berarti dari liburan – liburan sebelumnya karena aku harus bersyukur memiliki orang – orang yang perhatian dan sayang kepadaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar