Hh…
senangnya… sebentar lagi liburan… aku sudah membayangkan bakal bermain di
pantai, pergi ke Bandung serta jalan – jalan ke Mall… pikir Jezia. Dia sangat
mengharapkan bisa berjalan – jalan dan bermain – main bersama keluarga.
Aku tak sabar bila pergi ke pantai
bersama Gisela yang lucu dan gendut. Aku tak sabar tertawa bersama Alika yang
heboh. Aku tak sabar bermain bersama Alisa yang seru dan kreatif. Dan yang
terpenting, aku tidak sabar untuk melewatkan hari – hari indah di pantai dan
kota Bandung. Pikir Jezia lagi. Namun tiba – tiba, adiknya yang bernama Lala
mengkagetkannya.
“Daar!!!”
Jezia sontak kaget. “Astagfirullah…”
Lala tertawa saja sambil cekikikan.
“Iih… kamu ya, La! Ada apa siih kok
pakai ngagetin segala!” Jezia menunjukkan muka cemberut.
“Sori, sori… kakak ngelamunin apa
siih?” tanya Lala.
“Eh, melamun? Kata siapa melamun?
Enggak kok… kakak gak melamun… kakak lagi memperhatikan awan…” jawab Jezia
berbohong.
“Bener???” tanya Lala.
“Bener kok dek, eh, by the way… kamu
ngapain kesini? Ada perlu apa sampai harus mengkagetkanku?” tanya Jezia
mengalihkan pembicaraan.
“Oh iya… Lala lupa… bunda manggil!
Kata bunda, ada hal penting yang harus bunda sampaikan. Oleh sebab itu dari
tadi aku mencari – cari kakak.” Jawab Lala.
“Ooh… ya sudah, ayo kita ke bunda.
Pasti bunda sudah menunggu kan dari tadi?” ajak Jezia.
Lala mengangguk lalu mengikuti
kakaknya.
“Bunda… bunda… bunda mau ngomong apa
siih?” tanya Lala saat menghampiri bundanya.
“Bunda, jadikan liburan nanti kita
pergi ke Bandung dan berjalan – jalan ke pantai?” tanya Jezia tiba – tiba tidak
sabaran.
“Ooh… itu… bunda akan membicarakan
hal itu. Ng… bunda mau bilang, bahwa… liburan kita kali ini tidak jadi kemana –
mana ya, nak?” jelas bunda dengan nada lembut dan hati – hati.
“Hah?! Gak jadi?! Lho kok gak jadi
bunda?” tanya Lala sontak kaget dan sedih.
“Ya, kok gak jadi bunda? Bukankah…
ayah dan bunda sudah berjanji akan mengajak kami dan juga keluarga tante Lis
untuk berwisata?” tanya Jezia kecewa.
“Begini nak, memang ayah dan bunda
sudah berjanji, tapi ini mendadak sekali. Ayah tidak bisa cuti kerja. Om Heru
ada kerjaan di luar kota. Sedangkan tante Lis, tiba – tiba mendadak sakit
tifus. Alika, Alisa, dan Gisela di titipkan pada bibi Siti. Sedangkan… kalian
sendiri tahukan, bunda tidak bisa menyetir mobil? Lagian… masa tante Lis lagi
sakit kita malah bersenang – senang? Walau tidak bisa kita jenguk, kita harus
mendo’akannya.” Jelas bunda panjang lebar.
Jezia dan Lala tertunduk lesu.
Hh… liburan yang telah di rencanakan
batal deh. Padahal… baru saja Jezia membayangkan hal asyik , seru, dan
menyenangkan saat mereka liburan nanti. Lenyap semua rencana Jezia.
Jezia langsung masuk ke dalam
kamarnya. Begitu juga Lala.
Ooh… kasian juga mereka. Kata bunda
dalam hati.
Sore ini, hujan turun dengan
derasnya. Tapi tidak menyurutkan semangat Jezia untuk pergi les.
“Bunda… aku mau berangkat les ya!”
ucap Jezia.
“Apa? Les? Ini kan hujan nak… bisa –
bisa… kamu sakit dan tidak bisa menghabiskan liburan dengan baik.” Nasihat
bunda.
“Aaahh… tidak apa bunda… aku yakin staminaku
baik, aku juga selalu makan teratur kan, aku bawa jas hujan kok! Jadi, insya
Allah aku tidak akan sakit. Lagian... liburan kan di rumah aja? Sudah ya bun!
Lyla sudah menungguku, Assalamualaikum! love you bun!” sahut Jezia lalu keluar
rumah dan menutup pintu.
“Walaikumsalam nak… love you too…”
ucap bunda pelan.
Jezia memang sering jengkel dengan
pesan dan nasihat bundanya. Menurutnya, bundanya sangat cerewet dan memiliki rasa
kekhawatiran yang berlebih. Ingin rasanya dia sehari tidak dicereweti supaya
dia bisa bebas dari pesan dan nasihat bundanya itu. Belum kekecewaannya karena
liburan yang sangat ia nanti – nantikan terpaksa di batalkan. Jezia sangat
kecewa hingga mengabaikan pesan bundanya itu.
Lalu akhirnya, Jezia dan Lyla
berangkat naik sepeda.
Sesampainya ditempat les, dia
memarkir sepedanya. Dan segera masuk setelah melipat jas hujannya.
Jezia dan Lyla les nge-dance. Walau
pun Jezia termasuk murid yang
cukup pandai nge-dance, tapi tumben sekali hari ini dia tidak cekatan meniru
gaya yang di ajarkan. Bahkan, ada beberapa gerakannya yang salah. Dia juga
tampak lesu dan tidak bersemangat. Tak jarang juga Jezia bersin – bersin.
Sehingga guru pembimbing merasa kasihan pada Jezia.
Saat les usai…
“Jezia, sebaiknya kamu banyak
istirahat, kan sebentar lagi liburan, nanti kamu tidak bisa menghabiskan waktu
liburan dengan baik.” Pesan bu guru.
“Ya bu, terimakasih atas
perhatiannya. Saya pulang dulu. Assalamualaikum…” sahut Jezia.
“Walaikumsalam... hati – hati di
jalan ya, nak!” pesan bu guru.
“Ya bu…” jawab Jezia. Uuh… bawel sekali
siih! Gak bunda gak bu guru sama saja khawatiran! Aku kan tahu menjaga diri!
Keluh Jezia dalam hati.
Di tengah perjalanan, Jezia dan Lyla
sempat bermain hujan – hujanan terlebih dahulu. Hingga baju yang mereka kenakan
basah kuyup terkena air hujan dan becek.
Sesampainya di rumah…
“Assalamualaikum…” sahut Jezia.
“Walaikumsalam…” jawab bunda, Lala,
dan bibik.
“Eh, non… sudah pulang tho?” tanya
bibik.
“Astagfirullah… kamu basah kuyup Jez…” ujar bunda kaget.
Bunda segera mengambil handuk untuk segera mengeringkan tubuh Jezia.
“Sebaiknya non segera mandi dengan
air hangat.” Tambah bibik.
“Aduh… apa – apaan siih bunda dan
bibik ini? Aku baik – baik saja kok! Tak perlu mengkhawatirkanku!” kata Jezia
kesal. Lalu segera mengambil baju ganti dan handuknya dan segera mandi.
Aduh… ada apa dengan anak sulungku
ini?. Apakah aku salah terlalu mengkhawatirkannya? Batin bunda sambil geleng –
geleng kepala.
Seusai mandi, Jezia segera tertidur
di kamarnya. Hingga dia tidak makan malam walaupun bunda berkali-kali mengetuk
pintu kamarnya, dia tidak terbangun.
Dia bangun pagi sekali. Dia memegang
keningnya. Oow… PANAS! Jezia gugup sekali, dia segera bangun. Walau kepalanya
pusing dan berat dia tetap berjalan. Walau matanya ingin tidur, namun dia
paksakan untuk berjalan. Dia berjalan tertatih – tatih menuju kamar bundanya
namun, ternyata bundanya tidak ada di kamarnya. Jezia berpikir ada d imana bundanya. Dia pun
menuju taman untuk mencari bundanya namun tidak ada. Sesampainya di teras belakang, tiba –
tiba dia tidak kuat berdiri lagi dan akhirnya dia terjatuh.
Beruntung bibik mengetahui. Bibik
dengan cepat segera mengangkat Jezia kembali ke ruang dalam, karena khawatir,
bibik segera menelpon ambulans dan membawa Jezia ke rumah sakit terdekat.
Beruntung Jezia cepat di tolong dan Jezia
segera siuman.
“Alhamdulillah… akhirnya non Jezia
sadar juga…” ujar bibik sambil tersenyum dan segera memeluk Jezia.
“Bibik? Lho, bik, saya dimana?”
tanya Jezia.
“Kamu di rumah sakit non…” jawab
bibik. “Sepertinya non perlu istirahat banyak di rumah sakit. Kata dokter,
selain non sakit panas dan pusing, non juga kena maag. Karena semalam tidak
makan malam. Non kan punya sakit maag.” Jelas bibik lagi.
“Ooh iya…” jawab Jezia.
“Non, bibik permisi dulu ya!” izin
bibik. “Oh ya, tadi bunda SMS katanya bunda sedang menuju perjalanan kemari.”
Jezia mengangguk. Lalu dia turun
dari ranjangnya, di sampingnya ada seorang perempuan sebayanya.
“Hei, kamu sudah siuman ya? Enak
sekali dirimu bisa turun dari ranjang dan tidak di infus sepertiku.” Ujar
perempuan itu.
“Maaf, apakah aku mengenalmu?” tanya
Jezia.
“Ng… sepertinya tidak. Aku juga baru
melihatmu ini.” Jelas perempuan itu.
“Ooh…” jawab Jezia.
“Kau sungguh enak ya? Saat sakit
bundamu ada di sini,
menemani. Sedangkan aku? Bundaku hanya peduli pada pekerjaannya. Beliau berkata
baru akan menjengukku seusai bekerja. Padahal… aku sedang sakit cukup parah.”
Jelas perempuan itu.
“Memangnya kau sakit apa?” tanya Jezia.
“Aku sakit radang usus buntu.” Jawab
perempuan itu.
“Ooh… oh ya, namaku Jezia.” Kata Jezia
memperkenalkan diri.
“Athaya.”
Jawab perempuan itu.
Athaya
lalu curhat pada Jezia sebanyak – banyaknya hingga menangis. Jezia
mendengarkannya dengan seksama sehingga lupa akan sakitnya. Dari ceritanya, Jezia
bersyukur memiliki banyak orang yang peduli dan sayang padanya. Dia merasa
bersalah telah melawan bundanya dan tak menghiraukan nasihat serta pesan
bundanya. Dia ingin minta maaf pada bundanya.
Seusai Athaya bercerita, bibik,
bunda, dan Lala datang.
Bunda segera memeluk Jezia.
“Jezia, bagaimana kabarmu? Sudah
baikkan? Maafkan bunda ya telah meninggalkanmu tadi pagi, sebab… ada urusan
penting. Tapi, setelah tahu kejadianmu ini, bunda segera naik taksi menuju
rumah untuk menjemput Lala dan bersama – sama menuju rumah sakit untuk
menengokmu.” Jelas bunda sembari memeluk Jezia.
Jezia menggeleng. “Tidak bunda…,
bunda tidak salah… yang salah Jezia. Jezia tidak menghiraukan semua nasihat
bunda, aku sering menganggap bunda cerewet padahal maksud bunda sayang kan...”
Bunda tersenyum.
Kini, Jezia sadar. Bahwa Jezia harus
bersyukur memiliki orang – orang yang peduli pada Jezia. Ini semua berkat Athaya.
Athaya telah mengingatkannya. “Terimakasih Athaya… Semoga, orangtuamu dapat
segera menjengukmu sekarang juga.” Ucap Jezia, berterimakasih pada Athaya.
Athaya hanya tersenyum dan
mengangguk. Tiba – tiba, terdengar suara pintu di ketuk.
“Masuk!”
Pintu terbuka dan mata Athaya
berkaca – kaca karena tak bisa menahan rasa senang. Ya, kedua orangtuanya
datang untuk menjenguknya. Kedua orangtuanya datang dan segera memeluk
putrinya. Berkali – kali kedua orangtuanya meminta maaf karena tidak dapat
menjenguk Athaya dengan cepat. Athaya dengan tulus dan tersenyum memaafkan
kedua orangtuanya.
“Maafkan kami ya nak…” pinta mama Athaya.
“Tidak apa – apa mama… Athaya kini
mengerti dan sudah memaafkan. Yang penting mama papa menyayangi Athaya seperti
dulu lagi.” Jawab Athaya.
“Oh ya nak… mulai sekarang, mama janji
akan memperhatikanmu, mama tidak ingin kau terbaring lemah di kasur rumah sakit
ini.” Ujar mama Athaya.
“Benarkah itu mama? Ooh… aku senang
sekali!” ujar Athaya.
Jezia turut senang karena teman
barunya juga senang. Tapi akibatnya, Jezia harus menghabiskan waktu liburan di
rumah sakit.
Ah, tak apa liburan di rumah sakit,
yang penting aku mendapatkan hikmah dari semuanya. Liburan kali ini lebih
berarti dari liburan – liburan sebelumnya karena aku harus bersyukur memiliki
orang – orang yang perhatian dan sayang kepadaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar