“Deb,
ada kabar menggembirakan!” seru ayah Deby seusai pulang dari kantor.
“Ada apa Yah?” tanya Deby penasaran.
“Sebelumnya, ayah minta maaf, selama
ini ayah dan ibu merahasiakannya darimu agar menjadi kejutan. Kau pasti
penasaran kan kenapa ibu sering tiduran di kamar seharian dan jarang keluar kamar?
kamarnya selalu dikunci. Kenapa ibu tidak pernah membangunkanmu lagi selama 5
bulan ini? kenapa ibu tidak pernah membantumu mengerjakan PR lagi selama ini? dan
kenapa ibumu sering pergi ke dokter? kenapa ibumu suka muntah – muntah dan kamarnya
selalu tercium bau minyak kayu putih? Itu karena… ibumu hamil nak!” seru ayah.
Seketika Deby lesu dan terdiam, hal
yang paling ia tidak sukai akhirnya tiba juga. Rasa takut, kesal dan benci
menghantui dirinya.
“Lebih menyenangkan lagi, usia janin
ibu sudah 5 bulan! Berarti tinggal 4 bulan lagi! Setelah di USG anak ibu adalah
perempuan. Persiapkan nama terbaik untuk adikmu ya nak!” Cerita ayah senang,
matanya berbinar – binar.
“Hu-uh! Pokoknya Deby gak mau punya
adik! Deby benci sama adik!” pekik Deby tiba – tiba.
“Lho? Kok Deby benci sama adik?
Bukannya Deby ingin punya adik?” tanya ayah bingung.
“Aku tahu! Nanti Deby gak akan disayang
ibu lagi! Deby gak akan diurus lagi! Deby akan ditelantarkan dan dilupakan. Iya
kan? Pasti ibu akan lebih sayang dengan adik Deby dibanding Deby sendiri, kan?
Aku tak mau ayah dan ibu membagi kasih sayang pada anak lain!” pekik Deby.
“Lho kok Deby berpikir begitu? Kamu
takut kedua orangtuamu melupakanmu? Ooh, nak… itu tidak mungkin. Tidak ada orangtua
yang pilih kasih terhadap anaknya di mata orangtua, semua anaknya sama.
Orangtua tidak mungkin membedakan anaknya.” Nasihat ayah.
“Tapi buktinya akan seperti itu!” ujar
Deby tetap ngotot.
“Deby sayang… coba kau pikirkan, Ibu
sudah lelah setiap malam terbangun dari tidur karena rengekkan tangis adikmu!
Ibu sudah kekurangan tidur, selain itu, ibu harus mengurusi dua anak sekaligus,
oleh karena itu, sudah pasti ibu memintamu yang lebih dewasa dibanding adikmu
untuk menjaga, merawat adik, tanggung jawab dan memintamu untuk lebih mandiri.
Itu bukan berarti ibu sudah tak menyayangimu dan mentelantarkanmu, tetapi, ibu
percaya padamu kalau kau bisa melakukannya. Nanti, jika adikmu sudah besar, ibu
akan mengajarkan hal yang sama dengan adikmu. Malahan nanti, jika sudah besar,
kau akan menjadi panutan adikmu! Menyenangkan bukan punya adik? Jika kamu
berpikiran yang tidak – tidak, bagaimana jika terjadi apa – apa dengan adikmu?
Kamu pasti akan sedih dan menyesal...” nasihat ayah, lagi.
“Deby tidak mau ada yang menyaingi
Deby dalam hal apapun!” kata Deby kesal.
“Jangan Deby berpikiran seperti itu,
seorang adik akan menganggap kakaknya bisa segalanya.” nasihat ayah.
“Deby tidak mau punya adik! Nanti, segalanya
harus Deby bagi berdua! Deby juga pasti harus mengalah pada adik!” Deby
bersungut – sungut kesal.
“Deby, dengarkan ayah. Mengapa kamu
harus mengalah? Mengapa kamu harus berbagi? Karena kamu sudah lebih besar dari
adikmu, adikmu mesti kamu ajari. Coba berpikir postif, jangan berprasangka
buruk, punya adik itu menyenangkan, setiap waktu bisa bermain bersama, jika ada
yang tidak adikmu ketahui, ayah dan ibu sedang tak ada di rumah, adikmu akan bertanya
padamu. Adikmu akan bangga padamu, akan menganggap kamu bisa segalanya. Kau
akan menjadi motivasinya dia supaya lebih baik lagi. Bayangkan! Kau menjadi
seorang pemimpin, panutan! Jika adikmu berhasil mengikuti jejakmu yang pintar
dan berperilaku sopan, kamu yang akan dibanggakannya.” nasihat ayah. “Bagaimana,
Deby? Masih berpikiran buruk?”
“Baiklah, Deby mengerti.” kata Deby.
“Begitu dong... itu baru namanya
kakak yang baik, sekarang tugasmu adalah belajar yang giat, membantu orangtua
dan jangan membuat ibumu kecapekan dan marah ya!” pesan ayah.
Deby mengangguk.
4 bulan kemudian… usia kandungan ibu
sudah 9 bulan, ini hal yang ditunggu–tunggu oleh keluarga Deby. Saat perut ibu
sudah terasa sakit, Deby dan ayahnya mengantar ibunya ke rumah sakit persalinan.
Sekian lama Deby dan ayahnya
menunggu, Deby dan ayahnya sampai sempat tertidur. Sekiranya mereka menunggu lebih dari 3 jam.
Saat Deby dan ayahnya benar- benar sudah lelah
menunggu, dokter yang membantu persalinan ibu keluar dari ruangan.
“Selamat! Anak anda adalah seorang
bayi perempuan yang sehat!” kata dokter itu menyalami ayah Deby.
“Terimakasih ya dok! Ini juga berkat
anda. Sekarang, bolehkah kami menjenguk anak kami?” tanya ayah.
“Oh tentu! Silakan masuk!” ujar sang
dokter lalu pergi meninggalkan Deby dan ayahnya yang tersenyum bahagia.
“Deby, kini, kau telah menjadi
kakak!” bisik ayah.
Deby tersenyum lalu mengangguk.
Deby dan ayahnya memasuki ruang persalinan, dan
tampak ibunya dengan wajah sedikit pucat
dengan seorang bayi cantik yang dipeluk oleh ibu.
“Nak, kau ingin menamai adikmu ini
siapa?” tanya ibu.
“Mm… ng… bagaimana kalau Deby
menyumbang nama… Desy?” tanya Deby.
“Right! That is a good name.” seru
ayah.
Deby mengangguk dan mendekati Desy.
Dibelainya kepala Desy.
“Desy, ini kakakmu yang cantik dan
cerdas. Namanya kak Deby!” ujar ibu.
Mulai sejak itu, Deby selalu
menerima adiknya dengan apa adanya dan sangat menyayangi Desy. Deby juga
menjadi kakak yang baik dan pengertian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar