Jumat, 01 Maret 2013

Adik Deby



            “Deb, ada kabar menggembirakan!” seru ayah Deby seusai pulang dari kantor.
            “Ada apa Yah?” tanya Deby penasaran.
          “Sebelumnya, ayah minta maaf, selama ini ayah dan ibu merahasiakannya darimu agar menjadi kejutan. Kau pasti penasaran kan kenapa ibu sering tiduran di kamar seharian dan jarang keluar kamar? kamarnya selalu dikunci. Kenapa ibu tidak pernah membangunkanmu lagi selama 5 bulan ini? kenapa ibu tidak pernah membantumu mengerjakan PR lagi selama ini? dan kenapa ibumu sering pergi ke dokter? kenapa ibumu suka muntah – muntah dan kamarnya selalu tercium bau minyak kayu putih? Itu karena… ibumu hamil nak!” seru ayah.

            Seketika Deby lesu dan terdiam, hal yang paling ia tidak sukai akhirnya tiba juga. Rasa takut, kesal dan benci menghantui dirinya.
            “Lebih menyenangkan lagi, usia janin ibu sudah 5 bulan! Berarti tinggal 4 bulan lagi! Setelah di USG anak ibu adalah perempuan. Persiapkan nama terbaik untuk adikmu ya nak!” Cerita ayah senang, matanya berbinar – binar.
            “Hu-uh! Pokoknya Deby gak mau punya adik! Deby benci sama adik!” pekik Deby tiba – tiba.
            “Lho? Kok Deby benci sama adik? Bukannya Deby ingin punya adik?” tanya ayah bingung.
            “Aku tahu! Nanti Deby gak akan disayang ibu lagi! Deby gak akan diurus lagi! Deby akan ditelantarkan dan dilupakan. Iya kan? Pasti ibu akan lebih sayang dengan adik Deby dibanding Deby sendiri, kan? Aku tak mau ayah dan ibu membagi kasih sayang pada anak lain!” pekik Deby.
            “Lho kok Deby berpikir begitu? Kamu takut kedua orangtuamu melupakanmu? Ooh, nak… itu tidak mungkin. Tidak ada orangtua yang pilih kasih terhadap anaknya di mata orangtua, semua anaknya sama. Orangtua tidak mungkin membedakan anaknya.” Nasihat ayah.
            “Tapi buktinya akan seperti itu!” ujar Deby tetap ngotot.
            “Deby sayang… coba kau pikirkan, Ibu sudah lelah setiap malam terbangun dari tidur karena rengekkan tangis adikmu! Ibu sudah kekurangan tidur, selain itu, ibu harus mengurusi dua anak sekaligus, oleh karena itu, sudah pasti ibu memintamu yang lebih dewasa dibanding adikmu untuk menjaga, merawat adik, tanggung jawab dan memintamu untuk lebih mandiri. Itu bukan berarti ibu sudah tak menyayangimu dan mentelantarkanmu, tetapi, ibu percaya padamu kalau kau bisa melakukannya. Nanti, jika adikmu sudah besar, ibu akan mengajarkan hal yang sama dengan adikmu. Malahan nanti, jika sudah besar, kau akan menjadi panutan adikmu! Menyenangkan bukan punya adik? Jika kamu berpikiran yang tidak – tidak, bagaimana jika terjadi apa – apa dengan adikmu? Kamu pasti akan sedih dan menyesal...” nasihat ayah, lagi.
            “Deby tidak mau ada yang menyaingi Deby dalam hal apapun!” kata Deby kesal.
            “Jangan Deby berpikiran seperti itu, seorang adik akan menganggap kakaknya bisa segalanya.” nasihat ayah.
             “Deby tidak mau punya adik! Nanti, segalanya harus Deby bagi berdua! Deby juga pasti harus mengalah pada adik!” Deby bersungut – sungut kesal.
            “Deby, dengarkan ayah. Mengapa kamu harus mengalah? Mengapa kamu harus berbagi? Karena kamu sudah lebih besar dari adikmu, adikmu mesti kamu ajari. Coba berpikir postif, jangan berprasangka buruk, punya adik itu menyenangkan, setiap waktu bisa bermain bersama, jika ada yang tidak adikmu ketahui, ayah dan ibu sedang tak ada di rumah, adikmu akan bertanya padamu. Adikmu akan bangga padamu, akan menganggap kamu bisa segalanya. Kau akan menjadi motivasinya dia supaya lebih baik lagi. Bayangkan! Kau menjadi seorang pemimpin, panutan! Jika adikmu berhasil mengikuti jejakmu yang pintar dan berperilaku sopan, kamu yang akan dibanggakannya.” nasihat ayah. “Bagaimana, Deby? Masih berpikiran buruk?”
            “Baiklah, Deby mengerti.” kata Deby.
            “Begitu dong... itu baru namanya kakak yang baik, sekarang tugasmu adalah belajar yang giat, membantu orangtua dan jangan membuat ibumu kecapekan dan marah ya!” pesan ayah.
            Deby mengangguk.
            4 bulan kemudian… usia kandungan ibu sudah 9 bulan, ini hal yang ditunggu–tunggu oleh keluarga Deby. Saat perut ibu sudah terasa sakit, Deby dan ayahnya mengantar ibunya ke rumah sakit persalinan.
            Sekian lama Deby dan ayahnya menunggu, Deby dan ayahnya sampai sempat tertidur. Sekiranya mereka  menunggu lebih dari 3 jam.
Saat Deby dan ayahnya benar- benar sudah lelah menunggu, dokter yang membantu persalinan ibu keluar dari ruangan.
            “Selamat! Anak anda adalah seorang bayi perempuan yang sehat!” kata dokter itu menyalami ayah Deby.
            “Terimakasih ya dok! Ini juga berkat anda. Sekarang, bolehkah kami menjenguk anak kami?” tanya ayah.
            “Oh tentu! Silakan masuk!” ujar sang dokter lalu pergi meninggalkan Deby dan ayahnya yang tersenyum bahagia.
            “Deby, kini, kau telah menjadi kakak!” bisik ayah.
            Deby tersenyum lalu mengangguk.
Deby dan ayahnya memasuki ruang persalinan, dan tampak  ibunya dengan wajah sedikit pucat dengan seorang bayi cantik yang dipeluk oleh ibu.
            “Nak, kau ingin menamai adikmu ini siapa?” tanya ibu.
            “Mm… ng… bagaimana kalau Deby menyumbang nama… Desy?” tanya Deby.
            “Right! That is a good name.” seru ayah.
            Deby mengangguk dan mendekati Desy. Dibelainya kepala Desy.
            “Desy, ini kakakmu yang cantik dan cerdas. Namanya kak Deby!” ujar ibu.
            Mulai sejak itu, Deby selalu menerima adiknya dengan apa adanya dan sangat menyayangi Desy. Deby juga menjadi kakak yang baik dan pengertian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar