“Valeta,
malam ini, kamu coba belajar untuk tidur sendiri ya! Tidak sekamar sama kakak!”
jelas bunda.
“Yaah… kok gitu? Kenapa?” Valeta
kaget dengan penjelasan bundanya dan tampak menolak.
“Yaa… kamu kan sudah besar… harusnya
tidur sendiri dong… malu deh! Masa udah besar masih aja minta di temani kakak…
teman – temanmu juga tidak ada kan yang minta di temani orangtua atau pun saudara?”
jelas bunda lagi.
“Tapi bund… lagian… mendadak banget
siih… Valeta kan belum siap!” Valeta masih berusaha agar bisa tidur bareng
kakaknya, Ria.
“Belum siap? Kesiapan saat tidur
sendiri itu cuma rasa percaya diri dan keberanian… gak ada yang khusus Valeta…”
jelas bunda.
“Tapi bund…”
“Tidak ada tapi – tapian… pokoknya,
nanti malam kamu coba untuk tidur sendiri! anak kelas 1 SMP itu seharusnya
sudah bisa mandiri” potong bunda lalu langsung pergi meninggalkan Valeta.
Malamnya… Valeta tidur sendiri… dia
merinding ketakutan… dia tidak bisa tidur hingga tengah malam… dia selalu ingat
ucapan teman – temannya akan cerita – cerita hantu yang sangat menakutkan, ada seorang
temannya yang bilang hantu akan muncul jam 00.10 malam di depan pintu dan juga
jendela. Sehingga membuat Valeta ketakutan.
Teng!!! Teng!!! Jam sudah
menunjukkan pukul 00.00 malam.
Waduh… gimana nih? 10 menit lagi dan
aku belum tidur… bagaimana bila ucapan teman – temanku itu kenyataan? Hiii…
serem…
Saking takutnya, akhirnya Valeta
turun dari tempat tidur membawa bantalnya dan berjalan pelan – pelan menuju
kamar kak Ria. Dibukanya pintu pelan – pelan. Ia mengintip, takut kalau
ternyata kak Ria belum tidur atau masih SMSan. Di lihatnya kak Ria tengah
tertidur.
Kira – kira… aku boleh gak ya semalam…
aja tidur bareng kak Ria? Besok enggak deh! Tapi, aku yakin kalau aku bangunin
kak Ria dan bilang hal ini, kak Ria pasti bakal ngusir aku. Pikir Valeta. Valeta
pun menyelinap masuk ke kamar kak Ria, di samping kakaknya yang tengah tertidur
pulas, dia menaruh bantalnya dan tertidur.
Keesokkan paginya…
“Lha… kok… Valeta ada disini?” tanya
kak Ria.
“Valeta? Kamu kenapa ada di kamar
kakakmu?” tanya bunda kaget.
“Eh… eh… ng… ng…” Valeta yang baru
saja terbangun gelagapan dan tidak bisa menjawab.
“Valeta… ada apa? Mengapa kamu
pindah tengah malam?” tanya bunda lebih meyakinkan Valeta.
“Kamu takut ya???” goda kak Ria.
“Iya…” ups!!! Valeta keceplosan dan
segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Enggak kok bund… kakak… Valeta gak
takut!” bantah Valeta.
“Iih… udah deh… ngaku aja…” tambah
kak Ria, menggoda Valeta.
“Terus, kalau gak takut… kamu
ngapain ada di kamar ini?” tanya bunda.
“A… aku… aku gak sadar bund… pindah
ke kamar kak Ria… swear… kan, ng… bunda tahu… dari kecil… a... aku… suka tidur
jalan…” jawab Valeta berbohong.
“Bener???” goda kak Ria.
“Bener… ng… swear…” jawab Valeta,
kedua tangannya menunjukkan angka 2.
“Ooh… ya sudah kalau begitu…” jawab
bunda lalu pergi meninggalkan Valeta.
Hh... baguslah... batin Valeta,
senang.
Malam ini, Valeta kembali tidur
bersama kak Ria karena bunda mengizinkannya.
Yeay! Batin Valeta kegirangan.
Keesokkannya…
“Bunda! Malam ini, ada film bunda! Valeta
boleh nonton? Kan besok hari libur.” tanya Valeta pada bunda.
“Jangan bunda! Valeta itu mau nonton
film horor… kemarin aja dia gak bisa tidur malam! Penakut aja… mau nonton film
horor!” ledek kak Ria.
“Iih… apaan sih kakak ini? Aku kan
cuma mau tahu film horor itu bagaimana?! Masa gitu aja gak boleh siih? Teman –
temanku aja di perbolehkan tuh sama orangtuanya nonton film horor! Masa cuma
aku yang gak boleh…” bantah Valeta.
“Kamu tuh penakut dan belum cukup
umur… belum boleh nonton film horor… kalau takut nanti larinya ke kamar kakak!
Namanya nyusahin orang! Lagian… itukan orangtuanya teman – teman kamu bukan
orangtua kamu! Beda rumah! Beda juga peraturannya!” jelas kak Ria.
“Tapi aku berani kok! Kemarin itu Valeta
kan gak sadar!” bantah Valeta.
“Halah… bohong banget siih kamu itu!
Kalau dasarnya penakut ya penakut aja!” ucap kak Ria.
“Aku gak bohong kak!!! Kayak kakak
dulu berani aja…” jawab Valeta.
“Berani kok! Dulu aku berani! Kata
siapa penakut kayak kamu?” bantah kak Ria.
“Ya, tapi lihat cacing sama kecoa
aja bisa lari terbirit – birit…” jawab Valeta.
“Dari pada kamu!!! Gak ada hal yang
mesti di takuti aja takut! Takut sama hewan itu wajar kali… kamu aja takut sama
ular…” tambah kak Ria.
“Kalau takut sama ular siih wajar…
banyak kali yang takut sama ular… kayak kakak berani aja… lihat yang kecil aja
udah bisa lari terbirit – birit begitu… gimana lihat ular?” tambah Valeta.
“Sudah… sudah… CUKUP!!!” lerai
bunda.
Valeta dan kak Ria pun berhenti
beradu mulut yang gak jelas itu.
“Gini aja… kita kasih kepercayaan
pada Valeta. Dia boleh nonton film horor, tapi, nanti malam dia harus bisa
tidur sendiri di kamarnya! Bila Valeta bisa tidur sendiri… Valeta bunda kasih
hadiah… tapi kalau Valeta tetap pindah ke kamar kak Ria, Valeta tidak dapat
hadiah plus tidak boleh nonton film horor lagi. Bagaimana?” usul bunda.
“Oke, aku setuju!” jawab Valeta sok
berani.
Lalu bunda berlalu.
“Kita lihat saja nanti… kamu gak
usah sok berani deeh...” kata kak Ria sinis.
“Kakak juga jangan sok menilai… aku
pasti bisa melewati tantangan itu!” seru Valeta mantap lalu segera pergi.
Malamnya… Valeta menonton film
horor, dia ketakutan… sekali. Suasana di luar rumah sudah gelap dan sepi.
Suasananya menjadi mencekam. Valeta merinding ketakutan… di beberapa adegan, Valeta
menutup wajahnya menggunakan bantal. Saking takutnya, dia sampai bersembunyi di
belakang sofa. Waktu sudah menunjukkan lebih dari tengah malam. Membuat Valeta
semakin ketakutan. Karena tak tahan menahan kantuk plus rasa takut dia akhirnya
mematikan TV dan memutuskan untuk tidur.
Yang benar saja, Valeta ketakutan
setengah mati… dia membayangkan bayangan putih lewat secara cepat. Dia
membayangkan tangan – tangan halus dan berkuku tajam mencolek kakinya. Dia
membayangkan ada banyak tuyul yang sedang bermain berkeliaran di kamarnya. Dia
membayangkan ada suara kuntilanak tertawa dan… oh my God!!! Dia membayangkan
guling yang di peluknya adalah pocong! Dia segera melempar guling itu. Tiba –
tiba ada suara… membuat Valeta semakin takut dan kaget. Namun rupanya suara
burung hantu. Terdengar suara lagi… jantung Valeta berdegup kencang… namun
rupanya hanya suara jangkrik yang berbunyi malam hari. Terdengar lagi… namun
kali ini adalah suara kelelawar malam. Sebuah suara terdengar lagi, suara katak
rupanya. Suara cicitan tikus terdengar pula, semua suara itu membuat Valeta
sangat ketakutan hingga tak terasa keringat dingin mengucur deras di tubuhnya. Saat
Valeta tengah tegang dan ketakutan, dia di kagetkan dengan suara jam.
“WAAA!!!” sontak Valeta kaget dan
segera menutupi dirinya dengan selimut, bagian kepalanya ia tutupi dengan
bantal. Di bawah bantal, dia menangis ketakutan… hu-uh… andai saja tadi aku
tidak menonton film horor dan tidak melawan pesan bunda… aku pasti tidak akan
ketakutan seperti ini dan bisa tidur dengan tenang.
Valeta ingin sekali membangunkan kak Ria atau bundanya,
tapi, Valeta takut tak mendapatkan hadiah itu atau di cap penakut, atau mungkin
di bilang hanya bisa bicara saja. Lama – lama, mata Valeta tak bisa terus
terbuka, akhirnya dia tertidur juga.
Dia bermimpi sedang tidur di
kamarnya yang terang, namun, tiba – tiba lampu padam. Beberapa boneka berjalan
hidup dan mendekati “Valeta… Valeta…” boneka – boneka itu bersuara layaknya
hantu…
“Valeta… Valeta…” suara boneka
memanggil – manggil namanya.
“Hihihihihihihihi…” terdengar suara
boneka tertawa mirip sekali dengan suara kuntilanak.
“Oek… oek… oek…” suara tangisan
boneka bayi terdengar.
Valeta tak sanggup menahan rasa
takutnya dia membuka matanya. Dan… pagi telah tiba.
Gordin kamarnya telah di buka bunda.
Keringat dingin mengucur di keningnya. Sungguh malam yang menakutkan bagi Valeta.
Bunda dan kak Ria masuk dan berucap:
“Selamat ya!!! Kau bisa melewati tantangan bunda…” ujar mereka, seraya
tersenyum bahagia.
Bukannya senang, Valeta segera
berlari memeluk bunda sambil menangis.
“Huuu… Bunda… malam tadi… adalah
malam yang menakutkan… Valeta takut sekali bunda… Valeta janji tak akan
melanggar pesan orangtua dan kakak lagi. Valeta benar-benar takut… Valeta tidak
ingin nonton film horor lagi…” Valeta menangis takut dan menyesali
perbuatannya.
“Syukurlah kau sudah mengerti Valeta…
tenanglah Valeta… kini kamu sudah bersama kami. Kamu tidak perlu takut lagi…
ini sudah pagi, sudah cerah… tidak ada yang perlu di takutkan lagi kan?” hibur
bunda.
Valeta mengangguk sembari menatap
bunda lalu berpaling ke kak Ria.
“Kak, Valeta minta maaf ya! Valeta
memang sok berani… Valeta janji gak akan nonton film horor lagi…” jelas Valeta.
Kak Ria hanya tersenyum. “Syukurlah
kamu menyadarinya.”
Makanya kalau mau nonton film itu
sesuai dengan usia kita ya teman – teman… jangan seperti Valeta hingga akhirnya
malah ketakutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar