Sabtu, 02 Maret 2013

Malam yang Menakutkan



          “Valeta, malam ini, kamu coba belajar untuk tidur sendiri ya! Tidak sekamar sama kakak!” jelas bunda.
            “Yaah… kok gitu? Kenapa?” Valeta kaget dengan penjelasan bundanya dan tampak menolak.
          “Yaa… kamu kan sudah besar… harusnya tidur sendiri dong… malu deh! Masa udah besar masih aja minta di temani kakak… teman – temanmu juga tidak ada kan yang minta di temani orangtua atau pun saudara?” jelas bunda lagi.

            “Tapi bund… lagian… mendadak banget siih… Valeta kan belum siap!” Valeta masih berusaha agar bisa tidur bareng kakaknya, Ria.
            “Belum siap? Kesiapan saat tidur sendiri itu cuma rasa percaya diri dan keberanian… gak ada yang khusus Valeta…” jelas bunda.
            “Tapi bund…”
            “Tidak ada tapi – tapian… pokoknya, nanti malam kamu coba untuk tidur sendiri! anak kelas 1 SMP itu seharusnya sudah bisa mandiri” potong bunda lalu langsung pergi meninggalkan Valeta.
            Malamnya… Valeta tidur sendiri… dia merinding ketakutan… dia tidak bisa tidur hingga tengah malam… dia selalu ingat ucapan teman – temannya akan cerita – cerita hantu yang sangat menakutkan, ada seorang temannya yang bilang hantu akan muncul jam 00.10 malam di depan pintu dan juga jendela. Sehingga membuat Valeta ketakutan.
            Teng!!! Teng!!! Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 malam.
            Waduh… gimana nih? 10 menit lagi dan aku belum tidur… bagaimana bila ucapan teman – temanku itu kenyataan? Hiii… serem…
            Saking takutnya, akhirnya Valeta turun dari tempat tidur membawa bantalnya dan berjalan pelan – pelan menuju kamar kak Ria. Dibukanya pintu pelan – pelan. Ia mengintip, takut kalau ternyata kak Ria belum tidur atau masih SMSan. Di lihatnya kak Ria tengah tertidur.
            Kira – kira… aku boleh gak ya semalam… aja tidur bareng kak Ria? Besok enggak deh! Tapi, aku yakin kalau aku bangunin kak Ria dan bilang hal ini, kak Ria pasti bakal ngusir aku. Pikir Valeta. Valeta pun menyelinap masuk ke kamar kak Ria, di samping kakaknya yang tengah tertidur pulas, dia menaruh bantalnya dan tertidur.
            Keesokkan paginya…
            “Lha… kok… Valeta ada disini?” tanya kak Ria.
            “Valeta? Kamu kenapa ada di kamar kakakmu?” tanya bunda kaget.
            “Eh… eh… ng… ng…” Valeta yang baru saja terbangun gelagapan dan tidak bisa menjawab.
            “Valeta… ada apa? Mengapa kamu pindah tengah malam?” tanya bunda lebih meyakinkan Valeta.
            “Kamu takut ya???” goda kak Ria.
            “Iya…” ups!!! Valeta keceplosan dan segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
            “Enggak kok bund… kakak… Valeta gak takut!” bantah Valeta.
            “Iih… udah deh… ngaku aja…” tambah kak Ria, menggoda Valeta.
            “Terus, kalau gak takut… kamu ngapain ada di kamar ini?” tanya bunda.
            “A… aku… aku gak sadar bund… pindah ke kamar kak Ria… swear… kan, ng… bunda tahu… dari kecil… a... aku… suka tidur jalan…” jawab Valeta berbohong.
            “Bener???” goda kak Ria.
            “Bener… ng… swear…” jawab Valeta, kedua tangannya menunjukkan angka 2.
            “Ooh… ya sudah kalau begitu…” jawab bunda lalu pergi meninggalkan Valeta.
            Hh... baguslah... batin Valeta, senang.
            Malam ini, Valeta kembali tidur bersama kak Ria karena bunda mengizinkannya.
            Yeay! Batin Valeta kegirangan.
            Keesokkannya…
            “Bunda! Malam ini, ada film bunda! Valeta boleh nonton? Kan besok hari libur.” tanya Valeta pada bunda.
            “Jangan bunda! Valeta itu mau nonton film horor… kemarin aja dia gak bisa tidur malam! Penakut aja… mau nonton film horor!” ledek kak Ria.
            “Iih… apaan sih kakak ini? Aku kan cuma mau tahu film horor itu bagaimana?! Masa gitu aja gak boleh siih? Teman – temanku aja di perbolehkan tuh sama orangtuanya nonton film horor! Masa cuma aku yang gak boleh…” bantah Valeta.
            “Kamu tuh penakut dan belum cukup umur… belum boleh nonton film horor… kalau takut nanti larinya ke kamar kakak! Namanya nyusahin orang! Lagian… itukan orangtuanya teman – teman kamu bukan orangtua kamu! Beda rumah! Beda juga peraturannya!” jelas kak Ria.
            “Tapi aku berani kok! Kemarin itu Valeta kan gak sadar!” bantah Valeta.
            “Halah… bohong banget siih kamu itu! Kalau dasarnya penakut ya penakut aja!” ucap kak Ria.
            “Aku gak bohong kak!!! Kayak kakak dulu berani aja…” jawab  Valeta.
            “Berani kok! Dulu aku berani! Kata siapa penakut kayak kamu?” bantah kak Ria.
            “Ya, tapi lihat cacing sama kecoa aja bisa lari terbirit – birit…” jawab Valeta.
            “Dari pada kamu!!! Gak ada hal yang mesti di takuti aja takut! Takut sama hewan itu wajar kali… kamu aja takut sama ular…” tambah kak Ria.
            “Kalau takut sama ular siih wajar… banyak kali yang takut sama ular… kayak kakak berani aja… lihat yang kecil aja udah bisa lari terbirit – birit begitu… gimana lihat ular?” tambah Valeta.
            “Sudah… sudah… CUKUP!!!” lerai bunda.
            Valeta dan kak Ria pun berhenti beradu mulut yang gak jelas itu.
            “Gini aja… kita kasih kepercayaan pada Valeta. Dia boleh nonton film horor, tapi, nanti malam dia harus bisa tidur sendiri di kamarnya! Bila Valeta bisa tidur sendiri… Valeta bunda kasih hadiah… tapi kalau Valeta tetap pindah ke kamar kak Ria, Valeta tidak dapat hadiah plus tidak boleh nonton film horor lagi. Bagaimana?” usul bunda.
            “Oke, aku setuju!” jawab Valeta sok berani.
            Lalu bunda berlalu.
            “Kita lihat saja nanti… kamu gak usah sok berani deeh...” kata kak Ria sinis.
            “Kakak juga jangan sok menilai… aku pasti bisa melewati tantangan itu!” seru Valeta mantap lalu segera pergi.
            Malamnya… Valeta menonton film horor, dia ketakutan… sekali. Suasana di luar rumah sudah gelap dan sepi. Suasananya menjadi mencekam. Valeta merinding ketakutan… di beberapa adegan, Valeta menutup wajahnya menggunakan bantal. Saking takutnya, dia sampai bersembunyi di belakang sofa. Waktu sudah menunjukkan lebih dari tengah malam. Membuat Valeta semakin ketakutan. Karena tak tahan menahan kantuk plus rasa takut dia akhirnya mematikan TV dan memutuskan untuk tidur.
            Yang benar saja, Valeta ketakutan setengah mati… dia membayangkan bayangan putih lewat secara cepat. Dia membayangkan tangan – tangan halus dan berkuku tajam mencolek kakinya. Dia membayangkan ada banyak tuyul yang sedang bermain berkeliaran di kamarnya. Dia membayangkan ada suara kuntilanak tertawa dan… oh my God!!! Dia membayangkan guling yang di peluknya adalah pocong! Dia segera melempar guling itu. Tiba – tiba ada suara… membuat Valeta semakin takut dan kaget. Namun rupanya suara burung hantu. Terdengar suara lagi… jantung Valeta berdegup kencang… namun rupanya hanya suara jangkrik yang berbunyi malam hari. Terdengar lagi… namun kali ini adalah suara kelelawar malam. Sebuah suara terdengar lagi, suara katak rupanya. Suara cicitan tikus terdengar pula, semua suara itu membuat Valeta sangat ketakutan hingga tak terasa keringat dingin mengucur deras di tubuhnya. Saat Valeta tengah tegang dan ketakutan, dia di kagetkan dengan suara jam.
            “WAAA!!!” sontak Valeta kaget dan segera menutupi dirinya dengan selimut, bagian kepalanya ia tutupi dengan bantal. Di bawah bantal, dia menangis ketakutan… hu-uh… andai saja tadi aku tidak menonton film horor dan tidak melawan pesan bunda… aku pasti tidak akan ketakutan seperti ini dan bisa tidur dengan tenang.
Valeta ingin sekali membangunkan kak Ria atau bundanya, tapi, Valeta takut tak mendapatkan hadiah itu atau di cap penakut, atau mungkin di bilang hanya bisa bicara saja. Lama – lama, mata Valeta tak bisa terus terbuka, akhirnya dia tertidur juga.
            Dia bermimpi sedang tidur di kamarnya yang terang, namun, tiba – tiba lampu padam. Beberapa boneka berjalan hidup dan mendekati “Valeta… Valeta…” boneka – boneka itu bersuara layaknya hantu…
            “Valeta… Valeta…” suara boneka memanggil – manggil namanya.
            “Hihihihihihihihi…” terdengar suara boneka tertawa mirip sekali dengan suara kuntilanak.
            “Oek… oek… oek…” suara tangisan boneka bayi terdengar.
            Valeta tak sanggup menahan rasa takutnya dia membuka matanya. Dan… pagi telah tiba.
            Gordin kamarnya telah di buka bunda. Keringat dingin mengucur di keningnya. Sungguh malam yang menakutkan bagi Valeta.
            Bunda dan kak Ria masuk dan berucap: “Selamat ya!!! Kau bisa melewati tantangan bunda…” ujar mereka, seraya tersenyum bahagia.
            Bukannya senang, Valeta segera berlari memeluk bunda sambil menangis.
            “Huuu… Bunda… malam tadi… adalah malam yang menakutkan… Valeta takut sekali bunda… Valeta janji tak akan melanggar pesan orangtua dan kakak lagi. Valeta benar-benar takut… Valeta tidak ingin nonton film horor lagi…” Valeta menangis takut dan menyesali perbuatannya.
            “Syukurlah kau sudah mengerti Valeta… tenanglah Valeta… kini kamu sudah bersama kami. Kamu tidak perlu takut lagi… ini sudah pagi, sudah cerah… tidak ada yang perlu di takutkan lagi kan?” hibur bunda.
            Valeta mengangguk sembari menatap bunda lalu berpaling ke kak Ria.
            “Kak, Valeta minta maaf ya! Valeta memang sok berani… Valeta janji gak akan nonton film horor lagi…” jelas Valeta.
            Kak Ria hanya tersenyum. “Syukurlah kamu menyadarinya.”
            Makanya kalau mau nonton film itu sesuai dengan usia kita ya teman – teman… jangan seperti Valeta hingga akhirnya malah ketakutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar