Sabtu, 02 Maret 2013

Permohonan Elvina



              “PRANG!!!” terdengar suara piring pecah dari arah dapur. Dengan langkah kesal, kak Deiva keluar dari kamarnya dan menuju dapur.

            “Ada apa ini?” tanya kak Deiva dengan nada tinggi pada adiknya yang sedang mencuci piring.
            “Pi... pi... piringnya pecah kak...” jawab Elvina, adik kak Deiva.
            “Bagaimana siih kamu ini?! Mencuci piring saja tidak bisa! Bagaimana mencuci baju? Ini tuh piring mahal! Kalau ayah dan ibu tahu pasti mereka marah pada kakak! Cepat bersihkan!” perintah kak Deiva ketus.
            “I... iy... iya kak...” jawab Elvina sambil menangis. Dia berjongkok dan membersihkan pecahan piring.
            “Dasar anak cengeng! Baru di bentak sedikit saja nangis!” kata kak Deiva lagi.
            “Aku tidak cengeng! Tapi kakak selalu membentakku seperti itu  kak...” tangis Elvina
            Tiba – tiba bibik datang.
            “Ada apa ini non?” tanya bibik melihat Elvina menangis.
            “Tahu tuh! Dia memecahkan piring!” jawab kak Deiva ketus.
            “Aku kan tidak sengaja...” bantah Elvina masih tetap menangis.
            “Huh!”
            “Sini... biar bibik bantu... non Deiva gak boleh gitu dong sama non Elvina... kalau non Elvina kena pecahan piring gimana hayooo?” nasihat bibik.
            “Piring itukan pecah gara – gara dia! Seharusnya dia bisa tanggung jawab dong!” kak Deiva menjulurkan lidah dan pergi dengan angkuhnya.
            “Dasar kakak yang jutek! Aku merasa seperti memiliki kakak tiri!” pekik Elvina saking kesalnya.
            Pecahan piring, di bersihkan  bibik. Sementara itu, Elvina diam saja duduk di sofa sambil menekuk lutut. Setelah selesai membersihkan pecahan piring. Bibik menghampiri Elvina.
            “Dari pada melamun dan memikirkan kak Deiva yang jutek... sebaiknya non baca buku saja!” usul bibik.
            “Tapi... baca buku apa?” tanya Elvina sambil mengernyitkan dahi. “Semua buku dikamar kak Deiva...” curhat Elvina.
            “Tunggu, bibik punya buku cerita tua. Bibik ambil dulu ya!” kata bibik. Elvina mengangguk. Bibik menuju kamarnya. Tak berselang lama, bibik datang sembari membawa buku cerita tua berwarna biru dan bergambar seorang gadis kecil sedang tidur di bulan, di sampingnya terdapat bidadari cantik berambut cokelat, berkulit putih, dan mengenakan gaun biru. Bibik menyerahkan buku itu, “Itu untuk non saja...”
            “Terimakasih bik! Bidadari disini sungguh mirip dengan kakak, bedanya bidadari baik sementara kakak jutek. Hahaha...” tawa Elvina sambil memeluk bibik. “Kakak tidak akan berubah.”
            “Siapa tahu.” jawab bibik.
Bidadari di Tengah Malam

          Pada suatu malam, seorang gadis cilik bernama Vrasya tengah tidur nyenyak. Tengah malam, dia terbangun karena mendengar orangtuanya tengah bertengkar. Vrasya ketakutan dan sangat sedih hingga menangis. Vrasya tidak ingin kedua orangtuanya bertengkar seperti itu.
          Tiba – tiba ada sebuah cahaya yang cukup menyilaukan, keluarlah seorang perempuan cantik mengenakan gaun panjang berwarna biru muda. Cantiik sekali...
          “Tenang, jangan takut! Aku bidadari yang baik! Aku siap mengabulkan satu permintaanmu!” ujar bidadari itu.
          “Benarkah itu? Itu tidak mungkin!” bantah Vrasya.
          “Tidak, semua itu benar. Ini bukan mimpi, sayang...” jawab bidadari menyakinkan.
          “Apakah benar – benar akan terkabul?” tanya Vrasya.
          Sekali lagi bidadari mengangguk.
          “Kalau begitu... aku ingin minta, besok adalah hari ulang tahunku, aku ingin mama, papaku berhenti bertengkar.” pinta Vrasya.
          Tanpa berbicara lagi, bidadari tadi mengayunkan tongkat sihirnya. Tiba-tiba bidadari menghilang, Vrasya pun kembali tertidur.
          Vrasya terbangun saat mendengar jam wekernya berbunyi. Setelah mematikan alarmnya, Vrasya membatin.
          Ooh... itu hanya mimpi, tidak mungkin menjadi kenyataan. Sudahlah... batin Vrasya.
          Dia pun bergegas keluar kamar. Di lihatnya kedua orangtuanya saling bermaaf-maafan.
Vrasya lalu membatin: Bila bidadari itu benar – benar ada, aku ingin mengucapkan, “Terimakasih bidadari”.
          “Bik, apakah benar bidadari itu nyata?” tanya Elvina pada bibik.
            “Mm, mungkin. Tapi bibik tidak tahu. Tanpa ada bidadari pun asal kamu yakin, pasti keinginanmu itu terwujud. Tapi kamu juga harus berusaha dan berdo’a.”
            “Kalau begitu, Elvina akan berdo’a agar kak Deiva berubah, aku ingin kak Deiva sayang sama Elvina. Semoga terwujud ya!” kata Elvina. Bibik hanya tersenyum.
            “Semoga saja.” jawab bibik.
            Malam telah tiba, kak Deiva tidak bercerita pada ayah dan ibu tentang kejadian tadi pagi sewaktu ayah dan ibu pergi. Begitu pula Elvina dan bibik. Seusai makan malam, Elvina memasuki kamarnya untuk tertidur.
            Tengah malam, kak Deiva menyelinap masuk ke kamar Elvina. Kak Deiva mencari atlas milik Elvina. Karena kak Deiva tidak memiliki atlas tapi membutuhkannya untuk dibawa ke sekolah esok hari. Kak Deiva mengacak – ngacak meja belajar Elvina, lalu dia mendapatkannya dan mengendap – endap keluar dari kamar Elvina.
            Namun, tiba – tiba saja Elvina terbangun, karena kak Deiva menyenggol kotak pensil Elvina hingga terjatuh. Kak Deiva segera mengembalikan tempat pensil itu ke tempat semula.
            “Bidadari...” seru Elvina masih setengah ngantuk.
            “A... a... aku...” kak Deiva tidak bisa berkata – kata. Bila kak Deiva mengatakan bahwa dia adalah kak Deiva mungkin Elvina tidak percaya atau akan mengusir kakaknya. Maka kak Deiva menjawab: “Ya, benar! Ng... Aku adalah bidadari! Ada apa, sayang?”
            “Waah... berarti yang ada di dalam buku cerita ini benar dong! Di dalam buku cerita ini tertulis bidadari dapat mengabulkan satu permintaan. Berarti kau bisa mengabulkan satu permintaanku dong!” ucap Elvina sambil menunjukkan sebuah buku, matanya berbinar – binar.
            “Mm... ng... ya... eh, begitulah!” jawab kak Deiva.
            “Kalau begitu, aku minta agar kakakku, kak Deiva mengubah sifat buruknya! Kak Deiva suka sekali memarahi dan menyalahiku. Kak Deiva juga angkuh. Padahal aku tahu aku salah... oh, andai kak Deiva mengubah sikapnya, pasti dia akan terlihat lebih cantik dan baik, seperti putri. Kak Deiva mirip sepertimu. Eh, tapi... kak Deiva juga suka jutek padaku. Jarang sekali dia bersikap baik dan manis kepadaku. Setahun sekali ada. Tolong bidadari... kabulkan keinginanku ini karena aku sayang padanya...” Elvina mengungkapkan permintaannya.
            Kak Deiva sontak kaget. Dia terharu, ternyata, adiknya sangat sayang dan peduli pada dirinya. Padahal, selama ini dia berperilaku jahat pada adiknya. Maafkan aku adik... aku janji besok aku akan minta maaf dan akan mengubah sikapku pada adikku. Batin kak Deiva. Tak terasa air mata menetes di pipinya.
            “Ada apa? Mengapa bidadari menangis?” tanya Elvina heran melihat bidadari menangis.
            “Tidak apa sayang, sekarang, kamu tidur ya! Bidadari akan mengabulkannya, asalkan kamu yakin, keinginan itu pasti akan terwujud.” kata kak Deiva sambil memeluk Elvina.
            “Iya bidadari... begitu juga yang di katakan bibik ketika aku mengungkapkan keinginanku itu.” kata Elvina lalu tertidur.
            Paginya... Elvina bangun dari tempat tidur. Dia bangun dengan cerianya karena yakin keinginannya akan terwujud, dia segera meloncat turun dari tempat tidur. Dan segera menghampiri keluarganya yang tengah sarapan pagi.
            Kak Deiva sudah bangun dan tengah menyantap susu dan roti sandwichnya. Elvina duduk di seberangnya dan meneguk susu yang telah disiapkan ibu.
            “Eh, mm... ng... Vin...” kata kak Deiva.
            “Eh, ada kak?” tanya Elvina.
            “A... aku minta maaf ya soal kejadian kemarin pagi.” kata kak Deiva sambil menunduk malu.
            “Iya kak, tak apa – apa kok... Elvina sudah memaafkan kakak...” jawab Elvina ceria.
            “Lho... memangnya kemarin pagi kalian kenapa? kalian berantem? berantem karena masalah apa? Kalian tidak keberatan untuk bercerita kan?” tanya ibu heran.
            Kak Deiva dan Elvina pun berebut untuk menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Bibik hanya tersenyum melihat mereka sudah berbaikkan. Syukurlah non Deiva dan non Elvina sudah berbaikkan... batin bibik.
            Namun, apakah ini semua karena bidadari dalam buku cerita itu? Hihihi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar