“PRANG!!!”
terdengar suara piring pecah dari arah dapur. Dengan langkah kesal, kak Deiva
keluar dari kamarnya dan menuju dapur.
“Ada apa ini?” tanya kak Deiva
dengan nada tinggi pada adiknya yang sedang mencuci piring.
“Pi... pi... piringnya pecah kak...”
jawab Elvina, adik kak Deiva.
“Bagaimana siih kamu ini?! Mencuci
piring saja tidak bisa! Bagaimana mencuci baju? Ini tuh piring mahal! Kalau
ayah dan ibu tahu pasti mereka marah pada kakak! Cepat bersihkan!” perintah kak
Deiva ketus.
“I... iy... iya kak...” jawab Elvina
sambil menangis. Dia berjongkok dan membersihkan pecahan piring.
“Dasar anak cengeng! Baru di bentak
sedikit saja nangis!” kata kak Deiva lagi.
“Aku tidak cengeng! Tapi kakak
selalu membentakku seperti itu kak...”
tangis Elvina
Tiba – tiba bibik datang.
“Ada apa ini non?” tanya bibik
melihat Elvina menangis.
“Tahu tuh! Dia memecahkan piring!”
jawab kak Deiva ketus.
“Aku kan tidak sengaja...” bantah Elvina
masih tetap menangis.
“Huh!”
“Sini... biar bibik bantu... non Deiva
gak boleh gitu dong sama non Elvina... kalau non Elvina kena pecahan piring
gimana hayooo?” nasihat bibik.
“Piring itukan pecah gara – gara
dia! Seharusnya dia bisa tanggung jawab dong!” kak Deiva menjulurkan lidah dan
pergi dengan angkuhnya.
“Dasar kakak yang jutek! Aku merasa
seperti memiliki kakak tiri!” pekik Elvina saking kesalnya.
Pecahan piring, di bersihkan bibik. Sementara itu, Elvina diam saja duduk
di sofa sambil menekuk lutut. Setelah selesai membersihkan pecahan piring.
Bibik menghampiri Elvina.
“Dari pada melamun dan memikirkan
kak Deiva yang jutek... sebaiknya non baca buku saja!” usul bibik.
“Tapi... baca buku apa?” tanya Elvina
sambil mengernyitkan dahi. “Semua buku dikamar kak Deiva...” curhat Elvina.
“Tunggu, bibik punya buku cerita
tua. Bibik ambil dulu ya!” kata bibik. Elvina mengangguk. Bibik menuju
kamarnya. Tak berselang lama, bibik datang sembari membawa buku cerita tua
berwarna biru dan bergambar seorang gadis kecil sedang tidur di bulan, di sampingnya
terdapat bidadari cantik berambut cokelat, berkulit putih, dan mengenakan gaun
biru. Bibik menyerahkan buku itu, “Itu untuk non saja...”
“Terimakasih bik! Bidadari disini
sungguh mirip dengan kakak, bedanya bidadari baik sementara kakak jutek. Hahaha...”
tawa Elvina sambil memeluk bibik. “Kakak tidak akan berubah.”
“Siapa tahu.” jawab bibik.
Bidadari di Tengah Malam
Pada
suatu malam, seorang gadis cilik bernama Vrasya tengah tidur nyenyak. Tengah
malam, dia terbangun karena mendengar orangtuanya tengah bertengkar. Vrasya
ketakutan dan sangat sedih hingga menangis. Vrasya tidak ingin kedua
orangtuanya bertengkar seperti itu.
Tiba
– tiba ada sebuah cahaya yang cukup menyilaukan, keluarlah seorang perempuan
cantik mengenakan gaun panjang berwarna biru muda. Cantiik sekali...
“Tenang,
jangan takut! Aku bidadari yang baik! Aku siap mengabulkan satu permintaanmu!”
ujar bidadari itu.
“Benarkah
itu? Itu tidak mungkin!” bantah Vrasya.
“Tidak,
semua itu benar. Ini bukan mimpi, sayang...” jawab bidadari menyakinkan.
“Apakah
benar – benar akan terkabul?” tanya Vrasya.
Sekali
lagi bidadari mengangguk.
“Kalau
begitu... aku ingin minta, besok adalah hari ulang tahunku, aku ingin mama,
papaku berhenti bertengkar.” pinta Vrasya.
Tanpa
berbicara lagi, bidadari tadi mengayunkan tongkat sihirnya. Tiba-tiba bidadari
menghilang, Vrasya pun kembali tertidur.
Vrasya
terbangun saat mendengar jam wekernya berbunyi. Setelah mematikan alarmnya, Vrasya
membatin.
Ooh...
itu hanya mimpi, tidak mungkin menjadi kenyataan. Sudahlah... batin Vrasya.
Dia
pun bergegas keluar kamar. Di lihatnya kedua orangtuanya saling bermaaf-maafan.
Vrasya lalu membatin: Bila
bidadari itu benar – benar ada, aku ingin mengucapkan, “Terimakasih bidadari”.
“Bik,
apakah benar bidadari itu nyata?” tanya Elvina pada bibik.
“Mm, mungkin. Tapi bibik tidak tahu.
Tanpa ada bidadari pun asal kamu yakin, pasti keinginanmu itu terwujud. Tapi
kamu juga harus berusaha dan berdo’a.”
“Kalau begitu, Elvina akan berdo’a agar
kak Deiva berubah, aku ingin kak Deiva sayang sama Elvina. Semoga terwujud ya!”
kata Elvina. Bibik hanya tersenyum.
“Semoga saja.” jawab bibik.
Malam telah tiba, kak Deiva tidak
bercerita pada ayah dan ibu tentang kejadian tadi pagi sewaktu ayah dan ibu
pergi. Begitu pula Elvina dan bibik. Seusai makan malam, Elvina memasuki
kamarnya untuk tertidur.
Tengah malam, kak Deiva menyelinap
masuk ke kamar Elvina. Kak Deiva mencari atlas milik Elvina. Karena kak Deiva
tidak memiliki atlas tapi membutuhkannya untuk dibawa ke sekolah esok hari. Kak
Deiva mengacak – ngacak meja belajar Elvina, lalu dia mendapatkannya dan
mengendap – endap keluar dari kamar Elvina.
Namun, tiba – tiba saja Elvina
terbangun, karena kak Deiva menyenggol kotak pensil Elvina hingga terjatuh. Kak
Deiva segera mengembalikan tempat pensil itu ke tempat semula.
“Bidadari...” seru Elvina masih
setengah ngantuk.
“A... a... aku...” kak Deiva tidak
bisa berkata – kata. Bila kak Deiva mengatakan bahwa dia adalah kak Deiva
mungkin Elvina tidak percaya atau akan mengusir kakaknya. Maka kak Deiva
menjawab: “Ya, benar! Ng... Aku adalah bidadari! Ada apa, sayang?”
“Waah... berarti yang ada di dalam
buku cerita ini benar dong! Di dalam buku cerita ini tertulis bidadari dapat
mengabulkan satu permintaan. Berarti kau bisa mengabulkan satu permintaanku
dong!” ucap Elvina sambil menunjukkan sebuah buku, matanya berbinar – binar.
“Mm... ng... ya... eh, begitulah!”
jawab kak Deiva.
“Kalau begitu, aku minta agar
kakakku, kak Deiva mengubah sifat buruknya! Kak Deiva suka sekali memarahi dan
menyalahiku. Kak Deiva juga angkuh. Padahal aku tahu aku salah... oh, andai kak
Deiva mengubah sikapnya, pasti dia akan terlihat lebih cantik dan baik, seperti
putri. Kak Deiva mirip sepertimu. Eh, tapi... kak Deiva juga suka jutek padaku.
Jarang sekali dia bersikap baik dan manis kepadaku. Setahun sekali ada. Tolong
bidadari... kabulkan keinginanku ini karena aku sayang padanya...” Elvina
mengungkapkan permintaannya.
Kak Deiva sontak kaget. Dia terharu,
ternyata, adiknya sangat sayang dan peduli pada dirinya. Padahal, selama ini
dia berperilaku jahat pada adiknya. Maafkan aku adik... aku janji besok aku
akan minta maaf dan akan mengubah sikapku pada adikku. Batin kak Deiva. Tak
terasa air mata menetes di pipinya.
“Ada apa? Mengapa bidadari menangis?”
tanya Elvina heran melihat bidadari menangis.
“Tidak apa sayang, sekarang, kamu
tidur ya! Bidadari akan mengabulkannya, asalkan kamu yakin, keinginan itu pasti
akan terwujud.” kata kak Deiva sambil memeluk Elvina.
“Iya bidadari... begitu juga yang di
katakan bibik ketika aku mengungkapkan keinginanku itu.” kata Elvina lalu
tertidur.
Paginya... Elvina bangun dari tempat
tidur. Dia bangun dengan cerianya karena yakin keinginannya akan terwujud, dia
segera meloncat turun dari tempat tidur. Dan segera menghampiri keluarganya
yang tengah sarapan pagi.
Kak Deiva sudah bangun dan tengah
menyantap susu dan roti sandwichnya. Elvina duduk di seberangnya dan meneguk
susu yang telah disiapkan ibu.
“Eh, mm... ng... Vin...” kata kak Deiva.
“Eh, ada kak?” tanya Elvina.
“A... aku minta maaf ya soal
kejadian kemarin pagi.” kata kak Deiva sambil menunduk malu.
“Iya kak, tak apa – apa kok... Elvina
sudah memaafkan kakak...” jawab Elvina ceria.
“Lho... memangnya kemarin pagi
kalian kenapa? kalian berantem? berantem karena masalah apa? Kalian tidak
keberatan untuk bercerita kan?” tanya ibu heran.
Kak Deiva dan Elvina pun berebut
untuk menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Bibik hanya tersenyum melihat
mereka sudah berbaikkan. Syukurlah non Deiva dan non Elvina sudah berbaikkan...
batin bibik.
Namun, apakah ini semua karena
bidadari dalam buku cerita itu? Hihihi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar