Kejadian
ini kualami beberapa waktu lalu ketika pelajaran IPA. Guru IPA kami dikenal
tegas dan disiplin. Tak jarang, siswa – siswa yang sering malas dan sering
ribut di kelas dimarahi beliau. Oleh karena itu, teman – teman sekelas termasuk
aku, takut sekali kepada beliau. Rasanya jantung ini berdegup kencang ketika
beliau memanggil nama kami.
Saat
itu, guru IPA meminta aku dan teman – teman sekelas mengoreksi jawaban soal
latihan teman lainnya di buku LKS. Selesai mengoreksi, buku LKS itu langsung
aku kumpulkan ke meja guru tanpa bertanya. Aku sudah sempat curiga kenapa teman
– teman yang lain tidak ada yang mengumpulkan LKS ke meja guru. Tak berselang lama, beliau berseru, “Siapa
tadi yang mengumpulkan buku LKS di depan?”
Waaa...
jantungku berdegup kencang! Aku ingin mengambil buku LKS itu di meja guru ,
namun aku malu dan takut kena marah beliau. Guru IPA kami bertanya lagi, “Siapa
yang mengumpulkan buku ini di depan?”
Akhirnya,
berkat desakkan teman sebangku-ku, aku memberanikan diri maju ke depan kelas
dan mengambil buku LKS itu. Ternyata, guru IPA kami tidak berkata apa – apa.
Beliau juga tidak memarahiku. Perasaanku jadi sedikit tenang dan lega
karenanya.
Hikmah
yang dapat aku petik dari kejadian ini adalah jangan berburuk sangka terhadap
seseorang. Jangan menyangka pula, guru yang tegas dan suka memarahi siswa –
siswinya akan memarahi kita juga. Guru yang tegas dan disiplin adalah guru yang
baik. Sebab, menginginkan siswa – siswanya lebih baik lagi. Selama kita
disiplin dan bersikap baik, mengapa harus takut?
Ceritaku yang dimuat di
majalah GIRLS No. 11 tahun 8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar