Selasa, 23 April 2013

Gara – Gara Melanggar Aturan Sekolah



            Di sekolahku terdapat peraturan bahwa murid – murid tidak diperkenankan membawa handphone. Barangsiapa ketahuan membawa handphone ke sekolah, handphone tersebut akan disita. Peraturan itu terkadang tidak dipatuhi murid – murid. Termasuk juga aku. Ya, aku sering membawa handphone pemberian papaku ke sekolah. Bukannya bermaksud melanggar peraturan, aku membawa benda itu agar mudah menghubungi papa atau mama jika belum menjemputku. Saat membawa handphone ke sekolah, aku punya prinsip. Yaitu, harus dalam kondisi silent, tidak dimainkan saat pelajaran, dan tidak digunakan sebagai kalkulator.

            Suatu hari, sepulang sekolah, aku dan beberapa teman bermain ke rumah seorang sahabat. Sesampainya di sana, aku teringat untuk mengecek SMS dari papa atau mama. Sontak aku panik ketika melihat di dalam tasku tidak terdapat handphone! Teman – temanku juga ikut panik. Tak lama, aku menelepon papa dengan meminjam handphone seorang sahabatku. Aku meminta tolong papa untuk mengambilkan handphone-ku yang tertinggal di loker mejaku di sekolah.
            Beberapa saat kemudian, papa datang menjemput. Aku langsung bertanya kepada beliau apakah handphone-ku sudah diambil. Tak kuduga, beliau menjawab belum. Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku hanya bisa diam. Papa ternyata tidak mau mengantarku kembali ke sekolah untuk mengambil handphone. Sesampainya di rumah,  papa bercerita kepada mamaku bahwa handphone-ku hilang. Huaaa... aku pun sedih dan menangis!
            Namun, mama lalu berkata bahwa ada kiriman kartu pos dari sahabatku. Saat aku mengambil kartu pos itu, aaaah... lega rasanya! Handphone-ku yang tertinggal ternyata berada di dekat kartu pos tersebut. Hmm... papa ternyata mengerjaiku dengan mengaku berpura – pura belum mengambil handphone-ku yang tertinggal.
            Dari kejadian ini, ada dua hikmah yang ku petik. Pertama, aku tidak boleh ceroboh. Kedua, aku memang harus selalu mematuhi peraturan sekolah. Apa jadinya kalau handphone-ku hilang? Apalagi sampai ketahuan guru dan akhirnya handphone-ku malah disita?

Ceritaku yang dimuat di majalah GIRLS No.13 tahun 7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar