Minggu, 24 Februari 2013

Noni dan Natasha


            Sudah beberapa hari rumah di sebelah rumah Noni dihuni tetangga baru, menurut ibu dan ayah, di sebelah rumah itu ditempati oleh bu Surti dan pak Yadi. Mereka berkunjung Sabtu kemarin saat Noni sekolah. Mereka memiliki anak yang sebaya dengan Noni namanya Natasha. Dia tidak ikut berkunjung karena sedang asyik bermain piano karena hari Sabtu sekolahnya libur.


            Sore ini, Noni menemani pembantunya yang sedang menyetrika baju sambil mengobrol. Tiba – tiba terdengar suara merdu piano yang terdengar di sebelah rumah Noni. Piano yang memainkan lagu ‘Indonesia Raya’.
            Noni berkata pada pembantunya, “Aah! Lagu Indonesia Raya aja aku bisa memainkannya!” kata Noni sombong.
            “Non, tidak boleh sombong begitu dong… mentang – mentang bisa main piano.” nasihat bibik.
            “Bukannya sombong bik! Tapi kenyataan… Di sekolah diajari kok, Kalau pintar main piano masa lagunya itu mulu? Yang susah kek!” timpal Noni.
            “Kayak kamu bisa aja!” timpal kak Neni, kakak Noni. “Kamu cuma bisa lagu wajib doang!” ejek kak Neni yang tiba – tiba datang.
            “Hu-uh! Ini masalahnya beda! Masa tiap hari lagunya itu melulu!” Noni tidak mau kalah seperti biasa.
            “Terus kamu maunya lagu apa?” tanya kak Neni.
            “Lagu… Vierra kek!” kata Noni lalu pergi.
            Keesokkan harinya, Noni sedang asyik bermain dengan Fitria, temannya. Tiba – tiba Fitria berkata, “Eh Ni, itukan Natasha!” katanya.
            “Hah?! Siapa?” tanya Noni.
            “Natasha! Dia yang suka main piano yang tinggal di samping rumahmu!” kata Fitria.
            “Ooh…, ah! Menurutku, main pianonya tidak asyik! Lagu wajiiib melulu yang dimainin. Aku sampai bosan!” tutur Noni.
            Fitria tak menjawab.
            Tiba – tiba Natasha menghampiri mereka sambil tersenyum manis. Natasha berambut panjang, mempunyai lesung pipi di kedua pipinya dan berkulit putih. Hampir seperti kak Natasha Rizki aja...itu lho yang seorang aktris...
            “Hai!” sapanya.
            “Hai!” balas Noni dan Fitria.
            “Namaku Natasha, nama kalian siapa?” tanya Natasha.
            “Aku Fitria!” kata Fitria menyalami Natasha.
            “Aku Noni!” kata Noni menyalami Natasha.
            “Ooh, sorry ya Ni! Aku belum kenalan sama kamu! Habisnya, aku selalu menghabiskan waktu di rumah dengan main piano! Aku saja baru keluar rumah hari ini lho! Sorry banget ya! Ng… perumahan di sini bagus ya! Ada tamannya… lapangannya... main, yuk!” seru Natasha, matanya berbinar – binar.
            “Hmm… kayaknya… kita gak bisa main hari ini deh Nat… Ng… Aku dan Fitria harus membantu orangtua. Jadi… sorry ya! Lain kali saja ya!” kata Noni lalu menarik tangan Fitria dan pergi.
            Natasha hanya menjawab, “Oh ya, tak apa… sepertinya... aku harus berkeliling kompleks. Bye!”
            “Kamu kenapa sih Non?” tanya Fitria setelah berlari menjauhi Natasha.
            “Enggak apa – apa… Aku gak suka aja sama dia! Aku sama dia pun masih jagoan aku main pianonya!” tukas Noni.
            “Oh ya? Wow!” jawab Fitria lalu pergi.
            “Eh… eh… Fit!” panggil Noni heran.
            Fitria sudah terlanjur jauh berjalan.
            Hari Jum’at pun tiba…
            “Neni… Noni…  Besok, kita mau keluar jam 19.00, ke tempat konser piano ya!” kata papa.
            “Oke pa!” jawab kak Neni dan Noni.
            “Itu tempat apaan sih pa?” tanya Noni.
            “Di mana banyak anak – anak yang pintar piano akan tampil di situ dengan berbagai macam lagu, ada yang klasik, pop, dan masih banyak lagi!” kata papa.
            “Ooh, andai saja aku ada di konser itu memainkan piano… aku akan meminta Natasha melihatnya pasti dia akan iri!” tukas Noni.
            “Hahaha… disitu cuma ada anak – anak yang pintar main piano Non! Jangan bergurau atau mengimpikan hal itu! Lagu ‘Indonesia Raya’ saja suka salah not nya!” tawa kak Neni. Noni mencibir kesal.
Keesokkan harinya… jam 19.00. Keluarga Noni pergi ke konser piano. Noni tidak memerhatikan pembawa acara berbicara apa, dia terlalu asyik membayangkan dirinya ada di situ dan melihat Natasha yang iri melihat dirinya.
            “Kita sambut!!! Natasha!!! yang akan memainkan salah satu lagu populer dari grup band terkenal” kata pembawa acara, semua bertepuk tangan.
            Natasha berjalan menuju panggung dan memainkan piano.
            “Hei Noni! Coba lihat! Hebat sekali! Bukankah itu… Natasha tetanggamu! Kamu tidak tahukan? Itu orangnya! Hebat sekali! Dia sebaya denganmu!” kata mama menunjuk Natasha.
            Noni terbelalak. Astagfirullah… Natasha lebih hebat dari dirinya! Dia bisa memainkan lagu favoritku yang menurutku sulit! Natasha sungguh jauh lebih hebat dari diriku. Sepertinya…, aku terlalu iri padanya. Sehingga beginilah jadinya aku tak sadar dia lebih baik dariku. Seharusnya aku tidak boleh sombong karena pepatah mengatakan: “Di atas langit masih ada langit, di bawah tanah masih ada tanah.”
            Keesokkan harinya…
            “Assalamualaikum!!!”
            “Walaikumsalam… Eh, Noni ya? Silakan masuk! Ingin bermain dengan Natasha, ya? Biar tante panggilkan.” kata tante Surti.
            Tak berselang lama, Natasha datang.
            “Eh, Noni… ada apa?” tanya Natasha.
            “Ng… kemarin… aku lihat kamu main piano dengan lagu Vierra di konser piano, kebetulan aku penggemarnya. Menurutku… kamu memainkan piano dengan baik, nanti sore, kamu ajari aku, ya! Aku kepingin kayak kamu. Sekalian… kalau… kamu ada konser, kasih tahu aku ya aku mau menonton konsermu. A... aku... minta maaf, kemarin... aku... iri denganmu, sehingga berpikiran yang tidak – tidak. Sudah ya! Bye!” kata Noni malu.
            “Ng… terimakasih ya Non! Aku sudah memaafkanmu kok!” kata Natasha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar