Sore ini, Noni menemani pembantunya yang
sedang menyetrika baju sambil mengobrol. Tiba – tiba terdengar suara merdu
piano yang terdengar di sebelah rumah Noni. Piano yang memainkan lagu
‘Indonesia Raya’.
Noni
berkata pada pembantunya, “Aah! Lagu Indonesia Raya aja aku bisa memainkannya!”
kata Noni sombong.
“Non,
tidak boleh sombong begitu dong… mentang – mentang bisa main piano.” nasihat
bibik.
“Bukannya
sombong bik! Tapi kenyataan… Di sekolah diajari kok, Kalau pintar main piano
masa lagunya itu mulu? Yang susah kek!” timpal Noni.
“Kayak
kamu bisa aja!” timpal kak Neni, kakak Noni. “Kamu cuma bisa lagu wajib doang!”
ejek kak Neni yang tiba – tiba datang.
“Hu-uh!
Ini masalahnya beda! Masa tiap hari lagunya itu melulu!” Noni tidak mau kalah
seperti biasa.
“Terus
kamu maunya lagu apa?” tanya kak Neni.
“Lagu…
Vierra kek!” kata Noni lalu pergi.
Keesokkan
harinya, Noni sedang asyik bermain dengan Fitria, temannya. Tiba – tiba Fitria
berkata, “Eh Ni, itukan Natasha!” katanya.
“Hah?!
Siapa?” tanya Noni.
“Natasha!
Dia yang suka main piano yang tinggal di samping rumahmu!” kata Fitria.
“Ooh…,
ah! Menurutku, main pianonya tidak asyik! Lagu wajiiib melulu yang dimainin.
Aku sampai bosan!” tutur Noni.
Fitria
tak menjawab.
Tiba
– tiba Natasha menghampiri mereka sambil tersenyum manis. Natasha berambut
panjang, mempunyai lesung pipi di kedua pipinya dan berkulit putih. Hampir
seperti kak Natasha Rizki aja...itu lho yang seorang aktris...
“Hai!”
sapanya.
“Hai!”
balas Noni dan Fitria.
“Namaku
Natasha, nama kalian siapa?” tanya Natasha.
“Aku
Fitria!” kata Fitria menyalami Natasha.
“Aku
Noni!” kata Noni menyalami Natasha.
“Ooh,
sorry ya Ni! Aku belum kenalan sama kamu! Habisnya, aku selalu menghabiskan
waktu di rumah dengan main piano! Aku saja baru keluar rumah hari ini lho!
Sorry banget ya! Ng… perumahan di sini bagus ya! Ada tamannya… lapangannya...
main, yuk!” seru Natasha, matanya berbinar – binar.
“Hmm…
kayaknya… kita gak bisa main hari ini deh Nat… Ng… Aku dan Fitria harus
membantu orangtua. Jadi… sorry ya! Lain kali saja ya!” kata Noni lalu menarik
tangan Fitria dan pergi.
Natasha
hanya menjawab, “Oh ya, tak apa… sepertinya... aku harus berkeliling kompleks.
Bye!”
“Kamu
kenapa sih Non?” tanya Fitria setelah berlari menjauhi Natasha.
“Enggak
apa – apa… Aku gak suka aja sama dia! Aku sama dia pun masih jagoan aku main
pianonya!” tukas Noni.
“Oh
ya? Wow!” jawab Fitria lalu pergi.
“Eh…
eh… Fit!” panggil Noni heran.
Fitria
sudah terlanjur jauh berjalan.
Hari
Jum’at pun tiba…
“Neni…
Noni… Besok, kita mau keluar jam 19.00,
ke tempat konser piano ya!” kata papa.
“Oke
pa!” jawab kak Neni dan Noni.
“Itu
tempat apaan sih pa?” tanya Noni.
“Di
mana banyak anak – anak yang pintar piano akan tampil di situ dengan berbagai
macam lagu, ada yang klasik, pop, dan masih banyak lagi!” kata papa.
“Ooh,
andai saja aku ada di konser itu memainkan piano… aku akan meminta Natasha
melihatnya pasti dia akan iri!” tukas Noni.
“Hahaha…
disitu cuma ada anak – anak yang pintar main piano Non! Jangan bergurau atau
mengimpikan hal itu! Lagu ‘Indonesia Raya’ saja suka salah not nya!” tawa kak
Neni. Noni mencibir kesal.
Keesokkan harinya…
jam 19.00. Keluarga Noni pergi ke konser piano. Noni tidak memerhatikan pembawa
acara berbicara apa, dia terlalu asyik membayangkan dirinya ada di situ dan
melihat Natasha yang iri melihat dirinya.
“Kita
sambut!!! Natasha!!! yang akan memainkan salah satu lagu populer dari grup band
terkenal” kata pembawa acara, semua bertepuk tangan.
Natasha
berjalan menuju panggung dan memainkan piano.
“Hei
Noni! Coba lihat! Hebat sekali! Bukankah itu… Natasha tetanggamu! Kamu tidak
tahukan? Itu orangnya! Hebat sekali! Dia sebaya denganmu!” kata mama menunjuk
Natasha.
Noni
terbelalak. Astagfirullah… Natasha lebih hebat dari dirinya! Dia bisa memainkan
lagu favoritku yang menurutku sulit! Natasha sungguh jauh lebih hebat dari
diriku. Sepertinya…, aku terlalu iri padanya. Sehingga beginilah jadinya aku
tak sadar dia lebih baik dariku. Seharusnya aku tidak boleh sombong karena
pepatah mengatakan: “Di atas langit masih ada langit, di bawah tanah masih ada
tanah.”
Keesokkan
harinya…
“Assalamualaikum!!!”
“Walaikumsalam…
Eh, Noni ya? Silakan masuk! Ingin bermain dengan Natasha, ya? Biar tante
panggilkan.” kata tante Surti.
Tak
berselang lama, Natasha datang.
“Eh,
Noni… ada apa?” tanya Natasha.
“Ng…
kemarin… aku lihat kamu main piano dengan lagu Vierra di konser piano,
kebetulan aku penggemarnya. Menurutku… kamu memainkan piano dengan baik, nanti
sore, kamu ajari aku, ya! Aku kepingin kayak kamu. Sekalian… kalau… kamu ada
konser, kasih tahu aku ya aku mau menonton konsermu. A... aku... minta maaf,
kemarin... aku... iri denganmu, sehingga berpikiran yang tidak – tidak. Sudah
ya! Bye!” kata Noni malu.
“Ng… terimakasih ya Non! Aku sudah memaafkanmu kok!” kata
Natasha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar